BATAMCLICK.COM: Setiap kali menjelang Idul Adha, ada satu pekerjaan sunyi yang selalu dijalani dengan penuh tanggung jawab: memeriksa kesehatan hewan kurban.
Di sudut-sudut kandang peternak dan tempat penjualan musiman, para petugas dari Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kota Tanjungpinang sibuk menjalankan tugasnya. Dengan stetoskop di tangan dan mata yang jeli, mereka memastikan bahwa setiap hewan kurban yang akan dikurbankan benar-benar dalam kondisi sehat, layak, dan aman untuk dikonsumsi.
“Tahun ini, kami telah memeriksa 720 ekor sapi dari target 900 ekor. Dari jumlah itu, 688 ekor dinyatakan sehat dan layak, dan langsung diberi label Sehat Layak (SL),” ujar Yoni Fadri, Pelaksana Harian (Plh) Kepala DP3 Tanjungpinang, Senin (19/5/2025).
Bagi sebagian orang, label SL hanyalah tanda biasa. Namun bagi masyarakat, itu adalah jaminan bahwa hewan kurban mereka memenuhi syarat ibadah dan aman dikonsumsi.
DP3 tidak hanya memeriksa hewan secara fisik. Mereka juga melakukan pemetaan ketersediaan ternak dan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara memilih hewan kurban yang baik dan sesuai dengan syariat Islam.
“Pemeriksaan ini penting, apalagi menjelang tingginya aktivitas jual beli hewan kurban. Kita harus pastikan tidak ada penyakit menular yang masuk ke Tanjungpinang,” jelas Yoni.
Menurut data per Mei 2025, ketersediaan ternak kurban—baik sapi maupun kambing—mencapai 1.412 ekor, sementara kebutuhan diperkirakan sekitar 1.350 ekor. DP3 menargetkan pemeriksaan menyeluruh di 57 titik, termasuk kandang peternak dan lokasi penjualan ternak musiman yang mulai ramai sejak awal Juni.
Tak hanya itu, edukasi juga menjadi bagian penting dari upaya mereka. Melalui kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), masyarakat diberi panduan tentang bagaimana memilih hewan yang tepat, menyembelih secara manusiawi, dan mengelola daging kurban secara higienis. Semua sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 114 Tahun 2014.
Dan pada hari penyembelihan, mulai 5 hingga 8 Juni 2025, petugas DP3 bersama tim medis dari Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) akan turun langsung ke 20 lokasi pemotongan—dari masjid hingga rumah potong hewan. Mereka akan melakukan dua tahap pemeriksaan: Ante Mortem sebelum disembelih, dan Post Mortem setelahnya.
“Idul Adha bukan sekadar ritual menyembelih. Ini tentang bagaimana kita menjaga amanah kurban agar benar-benar memberi manfaat. Hewan yang sehat, daging yang aman—itulah yang kita perjuangkan,” tutur Yoni.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk membeli hewan kurban yang sudah diberi label SL. Sebab di balik label itu, ada usaha keras dan doa agar daging kurban yang sampai ke tangan penerima benar-benar ASUH—Aman, Sehat, Utuh, dan Halal. (dev)
Editor: Abd Hamid








