BATAMCLICK.COM: Di balik senyum yang sehat dan rasa percaya diri yang terpancar, ada upaya tiada henti untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. BPJS Kesehatan Cabang Batam, Kepulauan Riau, baru-baru ini mengambil langkah penting dengan meningkatkan kompetensi para dokter gigi yang bertugas di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Langkah ini menjadi salah satu bentuk komitmen nyata dalam menjaga kualitas layanan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Batam, Harry Nurdiansyah, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar pelatihan, tetapi juga upaya penguatan layanan FKTP agar selaras dengan semangat Program JKN yang terus berkelanjutan.
“Saya berharap seluruh dokter gigi yang hadir dapat mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh dan menyampaikan segala hal yang berkaitan dengan keberlangsungan Program JKN di tempat praktiknya masing-masing,” ujarnya saat menyampaikan sambutan di Batam, Jumat.
Topik utama dalam pelatihan ini adalah tata laksana gigi impaksi—suatu kondisi gigi geraham yang tidak bisa tumbuh normal dan terjebak di dalam gusi. Pelayanan kesehatan ini termasuk dalam layanan yang dibayarkan melalui kapitasi di FKTP, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 dan Permenkes Nomor 3 Tahun 2023. Hal ini sejalan dengan prinsip pelayanan berjenjang, di mana FKTP menjadi ujung tombak layanan kesehatan bagi peserta JKN.
Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut, Nadya Khamila, hadir sebagai narasumber dan praktisi yang membimbing para dokter. Ia tidak hanya memaparkan teori, tetapi juga praktik langsung bagaimana mengekstraksi gigi geraham yang impaksi.
“Prosedur ini memang bukan hal yang sederhana, tetapi juga bukan hal yang sulit jika kita sudah memahami akar penyebabnya,” tutur Nadya. Ia menekankan pentingnya melakukan anamnesa—proses wawancara medis dengan pasien—dengan teliti sebagai langkah awal yang krusial.
Lebih dari sekadar keahlian teknis, Nadya mengingatkan bahwa edukasi kepada pasien adalah kunci untuk membangun kepercayaan dan mencegah potensi kecurangan. Terkadang, pasien yang sudah merasa nyaman dengan FKTP justru meminta rujukan langsung yang sebenarnya tidak perlu.
“Dokter harus aktif menjelaskan hasil pemeriksaan mereka agar pasien paham dan ikut teredukasi. Hal ini sangat penting agar stigma positif terhadap kompetensi dokter di FKTP tetap terjaga,” jelas Nadya.
Tak hanya itu, Nadya juga berpesan kepada para dokter untuk tetap menjaga etika dan integritas dalam memberikan layanan. Karena, pada akhirnya, kesehatan gigi dan mulut yang terjaga akan menjadi pintu bagi senyum yang sehat dan hati yang bahagia.
Sumber: Antara








