BATAMCLICK.COM: Setelah menjalankan prosesi Gantung-Gantung pada Selasa (1/11/2022) pagi. Malamnya kediaman Samsul Bahri, orang tua calon mempelai wanita (Sajidah Decha Puspa) di Batu Besar, Nongsa ramai didatangi warga, kolega dan saudara, dari seluruh pelosok Batam.
Ya malam itu, semua keluarga kolega dan tetangga hadir untuk melangsungkan Kenduri Arwah. Mengirim doa untuk arwah para leluhur keluarga besar ini juga dimaksud sebagai pengkabar bahwa salah seorang cucu, cicit dari keturunan mereka akan melangsungkan pernikahan, memulai hidup yang baru.
“Kite tak boleh melupakan mereka yang sudah berada di alam yang beda, tetap berkirim doa dan memberi kabar kalau salah seorang cucu, cicit mereka akan menikah, ” ungkap Dato H. Muhammad Zen, Tokoh Adat yang memimpin prosesi adat Melayu tersebut.

Setelah baca doa bersama-sama, dilanjut dengan makan bersama-sama dan ramah tamah sanak saudara.
Dipingit
Sajidah Decha Puspa yang merupakan putri sulung H Samsul Bahri, Tokoh Masyarakat Batam yang juga pejabat di Bright PLN Batam, tak terlihat saat prosesi ini.
Dato Muhammad Zein menjelaskan, calon mempelai baik pria maupun wanita memang harus Dipingit.

Ya, keduanya harus lebih banyak berada di dalam kamar masing-masing, berdoa, beribadah bermusyabah diri, agar kehidupan baru berumah tangga yang akan dijalankan mereka akan jauh lebih baik.
“Keduanya tak boleh saling bertemu, tak boleh banyak keluar dari kamar, tak boleh banyak ketemu orang, dipingit lah, mereka harus banyak ibadah di dalam kamar masing-masing,” lanjut Dato Zen.
Calon pengantin ini hanya boleh bertemu saat ada prosesi adat jelang pernikahan yang harus mereka jalani seperti nanti Berandam, Mandi Tolak Bala dan berinai.
“Itu pun tak boleh saling berbicara, cukup pandang-pandang dari jauh saja, makanya prosesi itu dilakukan secara bergantian, pihak lelaki dulu, baru dilanjutkan pihak perempuan,” jelasnya.

Adat pernikahan masyarakat Melayu memang terbilang ketat dan memiliki norma-norma dan makna-makna tersendiri.
Jangan heran kalau calon mempelai di adat Melayu tak nampak batang hidungnya di tengah-tengah keluarga dan oeang-orang yang Ngerewang (bergotong royong mempersiapkan acara) itu karena mereka harus menjalani prosesi Pingit.
Bapak Pengantin tak Berkuasa
“Jangankan calon pengantin, orang tua calon mempelai pun tak boleh ikut campur lagi dalam proses persiapan pernikahan, karena sudah ditunjuk seorang Penghulu Balau, atau orang yang menjadi Kepala dalam rangkaian prosesi adat sampai dengan pesta pernikahan selesai.
“Kalau bapak pengantin ikut ngatur-ngatur, nanti semua orang pulang ke rumah masing-masing, karena itu menandakan pihak keluarga tak percaya dengan mereka, jadi bapak pengantin pun tak boleh ngatur-ngatur, dia cukup lihat saja,” jelas Dato Zen sambil tersenyum lebar.
Ya, itulah adat resam budaya Melayu menjelang pernikahan, dalam tulisan selanjutnya kita akan mengabarkan bagaimana proses Berandam dan Mandi Tolak Bala yang dijalani oleh calon pengantin Raja Geyza Saputra dan Sajidah Decha Puspa.
Prosesi ini sangat sakral, karena calon mempelai pria merupakan keturunan Raja, sehingga benar-benar dilaksanakan bak seorang Raja yang Berdaulat. (bersambung)