BATAMCLICK.COM: Rabu, 4 Juni 2025. Bagi Kompol Satria Nanda, hari ini adalah lembaran hidup yang tak akan pernah ia lupakan. Di balik seragam tahanan merah, mantan Kasat Narkoba Polresta Barelang ini duduk di kursi pesakitan, menanti nasib yang akan ditentukan hakim Pengadilan Negeri Batam.
Di ruang sidang yang penuh sesak oleh pengunjung, suasana terasa berat. Semua mata tertuju pada pria yang dulu berdiri tegas menegakkan hukum, kini menunggu keputusan yang bisa merenggut segalanya. Jaksa Penuntut Umum telah menuntutnya dengan hukuman mati—tuntutan yang membuat hidupnya terombang-ambing di antara harapan dan putus asa.
Pada sidang sebelumnya, Senin (27/5/2025), Satria Nanda berdiri di hadapan majelis hakim. Suaranya bergetar, air mata jatuh membasahi wajahnya saat ia membacakan nota pembelaan yang ditulis sendiri—tiga lembar kertas yang berisi jeritan hatinya. Dengan suara yang nyaris tenggelam oleh tangis, ia memohon ampunan dan keadilan.
“Pada kesempatan ini, saya memohon pertimbangan dan kebijaksanaan majelis hakim. Tolong nilai dengan objektif, berdasarkan fakta persidangan dan rasa kemanusiaan… agar saya dibebaskan dari segala dakwaan dan tuntutan,” ucapnya pelan, menahan isak.
Sesekali ia terdiam, mencoba meredam gejolak emosi yang sudah lama ia pendam. Bagi Satria, vonis ini bukan hanya tentang dirinya—tetapi tentang keluarga yang menantinya di rumah. Tentang anak-anak yang masih kecil, yang kini hanya bisa merindukan sosok ayah di balik jeruji besi.
Ia bercerita tentang perjalanan panjangnya sebagai polisi. Anak pertama dari keluarga sederhana ini menganggap diterima menjadi anggota Polri adalah anugerah terbesar dalam hidupnya. Ia bangga memakai seragam, menjaga kehormatan institusi yang telah membesarkannya. Namun, kini ia merasa semua itu direnggut hanya dalam sekejap.
“Saya hanya 1,5 bulan menjabat Kasatresnarkoba. Sebelumnya, saya bertugas di Polairud selama 16 tahun… dan tak pernah melanggar kode etik ataupun disiplin,” katanya, suaranya lirih.
Tuntutan mati itu, baginya, seperti petir di siang bolong. Menghancurkan karier, martabat, dan masa depan yang pernah ia bangun dengan susah payah. “Itu membuat mental saya hancur… saya merasa hidup saya sudah tidak berarti lagi,” ucapnya, matanya kosong memandang ke depan.
Namun, di balik semua itu, ada sosok istri yang selalu menguatkannya. Ada wajah anak-anak yang terus hadir dalam doa dan harapannya. Ia tahu, hanya dengan ketabahan mereka, ia bisa terus berdiri, meski di ambang maut.
“Saya bingung, kenapa jaksa menuntut saya mati… sementara di persidangan tidak ada barang bukti yang dihadirkan,” tutur Nanda, mencoba menahan emosi. Ia menegaskan, dirinya tak pernah berada di lokasi penangkapan, tak pernah terlibat percakapan di grup WhatsApp yang dijadikan bukti perkara.
Lebih dari itu, ia merasa menjadi sasaran pertama tanpa dasar yang jelas—tanpa panggilan resmi, tanpa surat perintah. “Saya tak pernah melawan, saya kooperatif. Saya hanya ingin keadilan benar-benar ditegakkan,” katanya, masih dengan nada getir.
Tapi jaksa tetap pada tuntutannya. Nota pembelaannya seolah tak sanggup mengubah hati mereka. Satria merasa kecewa—merasa seperti sudah tak ada lagi ruang untuknya menjelaskan kebenaran.
“Jaksa tidak mempertimbangkan hal-hal yang bisa meringankan saya. Bahkan saya dianggap berbelit-belit… padahal saya hanya menjawab apa yang saya tahu, saya lihat, dan saya alami,” ungkapnya, sesekali menyeka air mata.
Hari ini, majelis hakim akan memutuskan: apakah harapan itu masih ada, atau semua akan berakhir tragis. Di ruang sidang yang sunyi, air mata Satria Nanda menjadi saksi bisu dari perjuangan seorang perwira polisi yang terjerat kasus narkoba—berdiri di ujung jalan yang belum pasti.
Sementara di luar sana, istri dan anak-anaknya menanti dengan doa—berharap keadilan dan kemanusiaan masih punya ruang di ruang sidang Pengadilan Negeri Batam. Hari ini, vonis itu akan menjadi sejarah, entah sebagai duka mendalam atau harapan yang kembali menyala.***