BATAMCLICK.COM: Siang itu, Kota Medan seolah dibakar mentari. Udara tak sekadar panas—ia menyengat, menikam kulit, membuat langkah terasa berat, dan napas kian pendek. Bayangan pepohonan di tepi jalan pun tampak tak banyak membantu. Semua terasa mendidih.

Angka tak pernah berbohong. Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan mencatat suhu udara di Medan pada Minggu (1/6/2025) mencapai 38,2 derajat Celcius pada pukul 15.00 WIB—salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

“Untuk hari ini, suhu maksimum tercatat 38,2 derajat Celcius,” ujar Tri Anggun Lestari, prakirawan BBMKG Medan.

Dua jam sebelumnya, suhu sudah menyentuh 36,8 derajat Celcius. Angka itu terus naik, seolah kota ini berada di dalam oven raksasa yang tak kunjung mati. Beberapa hari terakhir, suhu di Medan berkisar antara 32 hingga 37,6 derajat Celcius. Bahkan, pada Rabu (28/5), suhu tercatat 37,6 derajat Celcius pada pukul 15.00 WIB.

Langit yang Terlalu Cerah

Menurut Anggun, penyebab utama panas ekstrem ini adalah langit yang terlalu bersih. Minimnya pembentukan awan membuat sinar matahari menghujam langsung ke permukaan bumi tanpa penghalang.

“Karena tidak ada awan, penyinaran matahari menjadi lebih maksimal dan suhu terasa jauh lebih panas dari biasanya,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa sistem antisiklonik—yakni tekanan tinggi yang menyebarkan angin ke segala arah—terpantau di wilayah tengah hingga utara Sumatera, termasuk Sumatera Barat dan Riau bagian utara.

Sistem ini menciptakan pola angin netral di sebagian besar Sumatera Utara, termasuk dataran tinggi Karo dan Kota Medan, yang tak mendukung pembentukan awan konvektif—awan yang biasa membawa hujan. Akibatnya, langit cenderung cerah, bahkan terik, sepanjang hari.

Harus Waspada, Jangan Sampai Dehidrasi

Kondisi ini, kata Anggun, diperkirakan bertahan setidaknya dua hingga tiga hari ke depan. Ia mengimbau warga untuk tidak abai terhadap kondisi tubuh mereka.

“Pastikan asupan cairan cukup. Jangan sampai dehidrasi. Terutama bagi anak-anak, lansia, dan mereka yang beraktivitas di luar ruangan,” pesannya.

Meski siang hari terasa membakar, bukan berarti hujan sepenuhnya absen. Potensi hujan tetap ada, terutama di lereng timur dan pantai barat, meskipun hanya dengan intensitas ringan hingga sedang dan terjadi pada sore, malam, atau dini hari.

Panas yang Menyentuh Batas Kesabaran

Di balik angka-angka meteorologis dan istilah teknis, ada kenyataan yang tak kalah menyakitkan. Tukang parkir yang tetap berdiri di tengah aspal yang melepuh, ibu-ibu penjual sayur yang menyeka peluh di bawah tenda plastik, anak-anak sekolah yang kepanasan di dalam kelas tanpa pendingin udara.

Di Medan, langit cerah tak selalu berarti hari yang indah. Kadang, ia membawa luka kecil yang tak kasatmata—dari kulit yang terbakar hingga emosi yang memanas. Di tengah cuaca ekstrem ini, satu hal yang bisa kita lakukan hanyalah menjaga diri, dan berharap awan kembali datang membawa sedikit teduh.
Sumber: Antara