BATAMCLICK.COM: Di tengah hiruk-pikuk kota Batam yang tak pernah benar-benar tidur, sekelompok polisi memutuskan untuk menanam bukan sekadar tanaman, tapi harapan. Bukan dengan senjata, bukan pula dengan kekuatan, tetapi dengan cangkul, bibit sayuran, dan semangat gotong royong.
Polresta Barelang, Kepulauan Riau, menggelar lomba Pekarangan Pangan Bergizi (P2B)—sebuah gerakan yang sederhana namun bermakna. Lomba ini digelar serentak di seluruh wilayah hukum polsek, bukan sekadar kompetisi, tapi ikhtiar mendorong ketahanan pangan dari pekarangan rumah, tempat paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Tujuannya agar pekarangan rumah bisa jadi sumber pangan bergizi yang mendukung ketahanan pangan keluarga dan lingkungan sekitar,” ujar Kompol Yulianti Asril, Kasat Binmas Polresta Barelang, yang turun langsung melakukan penilaian tahap pertama di tiga polsek: Nongsa, Batam Kota, dan Bengkong, Sabtu lalu.
Tanam Jagung, Panen Kebersamaan
Program ini sejalan dengan semangat Asta Cita Presiden RI dan sudah digerakkan sejak akhir 2024. Di setiap polsek, masyarakat bersama kelompok tani bahu membahu menanami lahan yang dulunya kosong atau terlantar.
Jagung, bayam, kangkung, cabai, hingga tomat tumbuh subur di pekarangan-pakaran kecil. Beberapa wilayah bahkan sudah mulai panen, hasilnya tak hanya memenuhi dapur rumah warga, tapi juga mempererat hubungan antara polisi dan masyarakat.
“Ini bukan soal siapa menang, tapi bagaimana kita bisa menumbuhkan rasa peduli bersama soal pangan dan lingkungan,” kata Yulianti.
Lomba Menyambut Hari Bhayangkara
P2B juga menjadi bagian dari perayaan menyambut HUT Ke-79 Bhayangkara yang jatuh pada Juli mendatang. Tapi perayaannya kali ini jauh dari pesta dan seremoni—lebih pada aksi nyata dan menyentuh.
Lima aspek menjadi dasar penilaian lomba: ketersediaan lahan, keberagaman tanaman pangan lokal, proses pembibitan hingga panen, sinergi warga dengan Polri, dan dampak sosial-ekonomi yang berkelanjutan.
Setelah penilaian awal di tiga polsek, lima polsek lainnya—Batu Ampar, Lubuk Baja, Batu Aji, Sekupang, dan Sagulung—akan dinilai pada Senin, 2 Juni.
“Harapan kami, program ini menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan menguatkan peran Polri dalam pembinaan ketahanan pangan dari lingkungan terkecil,” lanjut Yulianti.
Polisi Menyapa Lewat Tanaman
Kapolresta Barelang, Kombes Pol. Zaenal Arifin, memberi atensi khusus pada program ini. Baginya, ini bukan hanya soal bertanam, tapi juga tentang menumbuhkan rasa percaya, gotong royong, dan semangat berdiri di atas kaki sendiri.
“Melalui lomba ini, kami ingin membangun sinergitas dengan masyarakat, menguatkan kemandirian pangan dan pemberdayaan berbasis kearifan lokal,” kata Zaenal.
Tak sedikit warga yang mengaku tersentuh dengan pendekatan humanis ini. Polisi yang biasanya mereka lihat dalam pengamanan dan penindakan, kini hadir membawa bibit, memeriksa kualitas tanah, bahkan ikut menyiram tanaman bersama warga.
“Jarang-jarang lihat polisi ikut panen sayur, kami senang dan merasa lebih dekat,” ujar seorang warga Bengkong yang terlibat dalam program ini.
Ketahanan Pangan dari Akar Rumput
Di balik pagar-pagar sederhana rumah warga Batam, tumbuh sayuran yang menjadi simbol ketahanan dan kebersamaan. Pekarangan yang dulunya kosong kini menjadi sumber pangan, ruang belajar, dan ruang bertemu antara warga dan polisi.
Di sana, polisi tak hanya hadir menjaga keamanan, tapi juga menjaga kehidupan. Menanam jagung mungkin tak menyelesaikan seluruh masalah bangsa, tapi dari situlah harapan ditanam, dirawat, dan dipanen—untuk masa depan yang lebih mandiri dan berdaulat.(dede)









