BATAMCLICK.COM – Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatatkan prestasi gemilang dengan pertumbuhan ekonomi yang melampaui rata-rata nasional. Dalam acara Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepri, Batam, Rabu (28/1/2026), Deputi Kepala Perwakilan BI Kepri, Ardhienus, memaparkan capaian positif tersebut serta proyeksi ekonomi ke depan.
Ardhienus mengungkapkan bahwa secara kumulatif hingga triwulan III 2025, ekonomi Kepri tumbuh sebesar 6,60% (c-to-c). Angka ini menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di wilayah Sumatera.
”Hal tersebut didukung oleh pertumbuhan sektor-sektor unggulan di Kepri, antara lain lapangan usaha industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, dan perdagangan,” ujar Ardhienus saat menjelaskan outlook ekonomi 2025-2026.
Berbeda dengan struktur ekonomi nasional yang dominan dipicu oleh konsumsi, ekonomi Kepri justru ditopang kuat oleh sektor investasi. Meski demikian, BI menekankan pentingnya mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru agar lebih inklusif dan berkesinambungan.
Sektor Potensial Masa Depan
Dalam paparan tersebut, BI mengidentifikasi tiga sektor kunci yang akan menjadi penopang baru perekonomian Kepri pada 2026, yaitu:
- Pariwisata Regeneratif: Kepri telah ditetapkan sebagai destinasi pariwisata regeneratif oleh Kementerian Pariwisata.
- Industri Kreatif: Sektor ini masuk dalam tujuh sektor prioritas jalan strategis menuju Indonesia Emas 2045.
- Industri Digital: Pertumbuhan ini didorong oleh tingginya permintaan terhadap pusat data (data center).
UMKM dan Pengendalian Inflasi
Ardhienus juga menyoroti peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya di bidang kriya, fesyen, dan kuliner. Namun, ia mencatat adanya tiga tantangan utama yang harus dihadapi: keterbatasan akses pembiayaan, kualitas SDM, serta minimnya digitalisasi dan akses pasar.
Terkait stabilitas harga, meskipun pertumbuhan ekonomi melesat tinggi, inflasi di Kepri diklaim tetap terjaga pada angka 3,47% (y-on-y). Angka ini masih berada dalam rentang sasaran 2,5% ± 1%.
”Terkendalinya inflasi mencerminkan efektivitas strategi 4K (Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, Ketersediaan pasokan, dan Komunikasi efektif) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) bersama TPID,” pungkasnya.(bos)
