NGABESKAN BEGHAS JE (KOLOM BURALIMAR)

Pensil: Pensiun Usil

Saya kutip frasa di atas dari bahasa sehari-hari masyarakat Kabupaten Karimun, yang artinya “menghabiskan beras saja”. Bahasa seharian adalah bahasa spontan masyarakat berupa ungkapan tentang fenomena tertentu, tentang kelakuan perangai dan untuk menyebut suatu perbuatan dan lain-lain. Kalau di-indonesia-kan kalimat tersebut kurang greget, tapi kalau diucapkan dalam dialek daerah itu sendiri, terasa pas dan kesannya lucu tapi mengena dan terasa (disindir).

Semua tahu bahwa beras merupakan bahan pokok makanan masyarakat Indonesia pada umumnya, selain jagung , sagu , dan lainnya. Beras di masyarakat melayu menjadi sakral, di samping sebagai bahan upacara adat tepuk tepung tawar, bersama bertih (beras putih yang digongseng, mirip popcorn gitu) serta bunga rampai. Dimana beras dilulur dengan kunyit, disebut beras kunyit. Ditaburkan dan “disiram” kepada pengantin atau seseorang yang diagungkan, misalnya yang mau naik haji, serta menyambut kedatangan tau terhormat.

Kesakralan beras itu, kadang menjadi protes bagi beberapa orang , katanya masak beras ditabur dibuang begitu saja, dan ada yang mengganti peran beras itu dengan butiran mayang pinang, karena mirip-mirip sama beras. Tapi ada cerita dulu, seseorang menabur beras kunyit di ruangan seseorang yang dimutasikan ke tempat lain. Cerita punya cerita, yang menaburkan berat kunyit itu bersyukur bosnya pindah karena dinilai selama ini kejam dan lokek alias tangkai jering atau kedekut setengah hidup. Kira-kira seperti itulah. Hehehe..

Beras memang sakral, apalagi dimasak menjadi nasi untuk kebutuhan hidup dan menjadi “darah daging” dalam tubuh. Orang tua kita dulu paling pantang atau pamali jika kita makan, nasinya berserakan di luar piring.

Juga dalam agama mengajarkan demikian bahwa makanan seharian itu tidak boleh terbuang sia-sia, tidak boleh berlebihan, karena mungkin disebabkan betapa susahnya orang tua bertungkus lumus mencari nafkah hanya untuk membeli beras kebutuhan keluarga sehari-hari. Dalam pembayaran zakat fitrah (zakat perorangan dianjurkan dengan beras, namun dalam perkembangannya diganti dengan uang seharga beras. Jika ada sebutir nasi saja jatuh, disuruh pungut dan dimasukan kembali ke piring , kalaupun tak dimakan bisa dikumpulkan untuk diberikan kepada kucing.

Jika sebutir nasi lengket di kaki, kita ditakuti bahwa nasi tersebut jika tidak dibersihkan akan menjadi kutil. Yang begitulah filosofi dan cerita tentang betapa penting dan sakralnya sebutir beras atau sebutir nasi.

Istilah mengabeskan beras aje sebagaimana judul di atas, ditujukan kepada seseorang yang datang misalnya dalam suatu acara, dalam suatu event, pertemuan, hanya untuk makan saja. Sementara yang lain bekerja agar pertemuan atau event itu sukses, baru kemudian boleh makan, kira-kira demikian.

Sehingga jika ada yang datang tanpa bekerja dan hanya ikut makan, terlontarlah ucapan menghabiskan beras tersebut. Banyak acara pertemuan dan ngumpul-ngumpul keramaian ditemukan orang yang demikian. Tapi biasanya yang mengundang tidak mempermasalahkan, mereka senang orang datang bahkan tidak diundang sekalipun, katanya berkah memberi orang makan. Tapi bagi yang lain yang merasa bekerja tidak sudi melihat demikian, terlontarlah kalimat tersebut.

Event besar apalagi event-event politis, apakah kampanye atau rapat akbar dan istilah lainnya, menjadi tujuan jika dihadiri ratusan dan ribuan massa. Sitgma berkembang saat ini bahwa makin banyak orang datang makin sukses acara tersebut, apalagi diliput media pula, kadang lebay juga, yang datang seratus orang beritanya ribuan orang. Padahal sebagian besar yang datang itu dikerahkan, kalau pun ada spontan jumlahnya tidak signifikan.

Kecuali diiming-iming dengan beras yang sudah jadi nasi bungkus , plus rokok sebungkus, dan uang jajan , uang trasnportasi, pasti datang banyaklah yang hadir. Tujuan mereka hanya untuk sekedar cari makan saja, karena diakui saat ini masih banyak saudara kita yang lapar, tidak hanya di kampong-kampung tapi juga di kota besar. Jangan diharap mereka konsen mendengarkan orasi yang menggebu, pidato berapi-api, dan jani-jani manis, paling ikutan tepuk tangan dan teriak yel-yel. Besoknya begitu juga yang ngundang pihak lain, ya sama, sebungkus nasi dan sebungkus rokok. Yah begitulah, jangan dijadikan patokan, bisa PHP dan frustasi.

Mungkin bahasa politik namanya “ floating mass (massa mengambang)”. Massa yang diharapkan memilih mendukung calon tertentu, massa yang haluan politiknya belum jelas dan dicoba diarahkan mendukung partai atau calon partai tertentu, mungkin kaum ini disebut berasis, nasisis atau rokokis. Namun setiap partai politik ada juga loyalis, yang setia kepada partainya, hidup mati, salah atau benar tetap mendukung. Biasanya jumlah mereka tidak banyak. Seorang yang benar-benar loyalis, dia akan tegar apapun terjadi. Ada juga yang opportunis, mengikuti seseorang atau sebuah organisasi karena juga mengharapkan sekilo dua kilo beras juga, tidak sekedar datang lihat dan makan saja. Seorang opportunis selagi tidak terusik kemauannya dan apa maunya dia tetap “setia” kepada organisasinya.

Tapi apabila kemauannya tidak matching atau tidak pas dengan organisasinya, dengan mudah dia loncat pagar, pindah ke lain hati, sekalipun didendangkan lagu Kla Project “ tak bisa ke lain hati”, ya tetap saja pindah. Namun ada juga yang keluar secara gentlemen/gentlewoman tidak bergabung dengan partai manapun. Katanya begitulah.

Dalam kampanye, beras juga jadi komoditas politik, karena untuk membujuk konstituen, banyak yang membagikan sembako dimana bahan utamanya adalah beras ditempelkan logo partai bahkan foto calon yang akan dipilih.

Kadang efektif juga jika apalagi diantar ke rumah-rumah dengan pesan-pesan tertentu. Sebab jika beras dibagikan gratis terbuka untuk umum, pasti timbul masalah. Harusnya diprediksi untuk seribu orang, yang datang tiga kali lipat. Pernah dulu pengalaman di kecamatan ada penjualan beras murah bagi masyarakat kurang mampu. Ada seseorang yang datang ingin membeli beras murah tersebut, padahal dia datang mengendarai mobil mewah. Begitulah hebatnya beras, tapi bukan hanya beras saja, yang namanya barang diskon, promo, jual murah, apalagi gratis pasti berbondong yang hadir, apakah kaum berada atau tidak berada, tumpah ruah berebut.

Bagaimanapun beras kita akui sebagai daya tarik, daya pikat, daya tawar efektif menarik simpati bagi sebagian masyarakat karena kebutuhan utama. Biar tidak ada lauk asalkan ada beras, karena beras menjanjikan kita bisa kenyang. Namun beras juga tidak otomatis dijadikan komoditas menjinakkan orang lain, apalagi saran pembodohan. Meminjam istilah lain , rakyat jangan hanya diberi disuap terus menerus dengan beras, coba diberi juga ilmu bagaimana menghasilkan beras. Kan seharusnya demikian. Jika hanya diberi beras, mereka akan hadir hanya untuk menghabiskan beras saja, untuk mengisi perut belaka.

Seharusnya juga mengisi otak dan pikiran mereka. Karena tujuan seorang pemimpin tidak hanya membuat orang kenyang semata, tapi juga bagaimana membuat orang kantongnya tebal, tidurnya nyaman dan terlebih-lebih bagaimana otaknya cerdas.

Jika hanya bertindak sebagai patron terhadap client atau tuan dan hamba,hanya menciptakan ketergantungan yang tak seimbang, maka tujuan mengambil simpati dari massa mengambang agar berpihak ke partai sendiri, tidak akan berhasil dan pada gilirannya upaya untuk mencerdaskan bangsa ini takkan pernah berhasil.

Dan pantaslah jika demikian cocoklah kita nyanyikan lagu melayu Pak Ngah Balek” “ pak ngah balek, bulan mengambang , pak balek hari dah siang..”

Pak Ngah( mungkin pemimpin kita), datang, tengok sana sini dan pidato sedikit, ngasi beras, kemudian balek, hari pun dah siang (beras nak dimasak segera), bulan (massa) tetap mengambang.

“Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya “ (Peter Drucker)***

Exit mobile version