Batamclick.com,
Badan Pengusahaan (BP) Batam, Kepulauan Riau (Kepri), menyebut pengembangan pusat data (data center) akan dilengkapi instalasi penyulingan air laut menjadi air tawar atau sea water reverse osmosis (SWRO) guna memenuhi kebutuhan operasional fasilitas tersebut.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan kebutuhan air tawar untuk pusat data cukup besar, terutama untuk sistem pendingin (cooling) yang digunakan dalam operasional fasilitas.
“Untuk DayOne misalnya, komitmen soal air bersih mereka baik. Kita sudah menyetujui pengembangan pusat data mereka asal mereka dapat membangun SWRO dan ternyata mereka juga oke untuk itu. Yang penting dari Pemerintah Kota dan BP Batam bisa mendukung dari sisi perizinan,” katanya di Batam, Kamis.
DayOne di Batam mengembangkan kampus pusat data berskala besar yang dikembangkan oleh perusahaan infrastruktur digital asal Singapura.
Lebih lanjut, SWRO merupakan instalasi yang dapat mengubah air laut menjadi air tawar dengan menyaring garam dan zat terlarut lainnya.
Menurut Amsakar, instalasi SWRO yang dibangun pengembang nantinya akan diserahkan kepada BP Batam untuk dikelola.
“Bahkan, mereka (DayOne) berkomitmen membangun instalasinya yang nanti akan diserahkan kepada BP Batam. Nilainya bukan sedikit, sekitar Rp180 miliar,” ujarnya.
Selain itu, pengembang pusat data lainnya, PT Equator Gate System Batam (EGSB), juga mulai menyiapkan perencanaan pembangunan SWRO untuk mendukung kebutuhan air di fasilitas pusat data yang dikembangkan di kawasan Teluk Mata Ikan, Nongsa.
Amsakar mengatakan pemanfaatan SWRO tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air perusahaan, tetapi berpotensi memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar apabila terdapat kelebihan kapasitas produksi.
“Komitmennya bukan hanya sekadar membangun itu, tetapi tata kelolanya ke depan akan diserahkan kepada BP Batam. Memang khusus untuk mereka sendiri dan tentu mereka minta perlakuan tersendiri. Dari sisi kelayakan bisnis saya kira, itu fair,” katanya.
Menurut Amsakar, apabila kapasitas produksi SWRO melebihi kebutuhan operasional data center, kelebihan air tersebut sangat mungkin dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air tawar masyarakat.
“Kalau itu bisa dilakukan, maka sangat mungkin kelebihan debit airnya dapat kita manfaatkan untuk kepentingan lokal. Kalau kita sendiri yang membangun Rp180 miliar itu berat, maka kita mau jadikan SWRO sebagai sebuah potensi baru untuk kebutuhan air tawar lokal juga,” ujarnya.
Meski demikian, Amsakar menekankan pembangunan dan pengelolaan SWRO perlu didukung kajian yang matang karena biaya pemeliharaan instalasi tersebut cukup besar.
“Harus jelas kajiannya karena pemeliharaannya cukup besar. Maka, ketika ada mitra yang mau berinvestasi, kita dorong percepatan dan berkomitmen untuk melakukan itu. Insya Allah ini betul-betul komplementer, saling melengkapi antara kebijakan kita dengan kepentingan masyarakat,” katanya.
Sumber, Antara
