Siapkan Lajur Khusus Marka Merah, Dishub Batam Integrasikan Trans Batam hingga 10 Rute Pengumpan

Batamclick.com, BATAM — Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam mempertegas komitmennya dalam menghadirkan sistem transportasi umum massal yang terjangkau, aman, dan nyaman. Penataan dilakukan secara masif, mulai dari penyiapan lajur utama, rute pengumpan (feeder), hingga perluasan koridor seperti ruas Marina–Tanjung Riau.

Kepala UPT Pelayanan Jasa Transportasi Dishub Kota Batam, Bambang Sucipto, menegaskan intervensi transportasi umum harus dilakukan sejak dini agar Batam tidak terjebak krisis kemacetan di masa depan.

“Kajian teknis kami menunjukkan, jika tanpa intervensi angkutan umum dari pemerintah, kondisi lalu lintas Batam lima tahun ke depan bisa seperti Jakarta. Karakteristik Batam menampung kendaraan, tetapi sulit mengeluarkannya. Jika dibiarkan, kepemilikan kendaraan pribadi akan melonjak dan memicu kemacetan parah,” ujar Bambang.

Sebagai langkah penataan, Dishub Batam menyiapkan marka jalan khusus untuk memberikan prioritas bagi armada Trans Batam.

“Kami mengambil lajur paling kiri dari lima lajur jalan yang ada dengan penandaan marka cat merah secara bertahap. Pada APBD 2027 mendatang, program integrasi sistem bus transit cepat (BRT) dengan kawasan permukiman juga sudah kami usulkan,” terangnya.

Dalam peta jalan penataan transportasi umum Kota Batam, layanan koridor utama akan dikembangkan hingga 10 koridor. Salah satunya Koridor 10 (Tembesi–Galang) untuk menopang konektivitas kawasan pertumbuhan ekonomi baru Rempang Eco-City dan Pelabuhan Sei Jantung.

Selain itu, disiapkan pula 10 rute pengumpan pendukung. Pada tahap awal tahun depan, empat rute pengumpan siap beroperasi, meliputi Dapur 12–Fanindo, Dapur 12–Pasar Melayu, Ciptaland–Tiban Mentarau–Tiban Center, serta Sagulung–Patam Lestari–SPBU Tiban 3. Rute pengumpan lainnya disiapkan menyisir wilayah Batu Ampar, Nongsa, Piayu, hingga Batu Aji.

Bambang menyoroti pentingnya perubahan tolok ukur kota maju. Indikator kota maju tidak lagi dihitung dari jumlah kepemilikan kendaraan pribadi, melainkan tingginya penggunaan transportasi umum massal.

Dari kalkulasi efisiensi ruang jalan, pemanfaatan bus massal jauh lebih efektif mengurai kepadatan lalu lintas.

“Satu unit mobil pribadi berukuran 2,5 meter x 1,5 meter sering kali hanya diisi satu orang. Bandingkan dengan satu unit bus berukuran 7 meter x 2,5 meter yang mampu mengangkut hingga 40 orang sekaligus. Terjadi efisiensi ruang jalan dan penghematan bahan bakar minyak yang sangat besar,” paparnya.

Kebiasaan masyarakat Batam memanfaatkan Trans Batam juga menunjukkan tren positif. Bambang mengungkapkan, sekitar 20 hingga 25 persen penumpang saat ini didominasi kelompok pelajar. Pergeseran pola bertransportasi ini terjadi secara sukarela.

“Tanpa perlu pemaksaan seperti menaikkan tarif parkir secara drastis atau pembatasan usia kendaraan, masyarakat sudah sukarela berpindah ke angkutan umum, khususnya untuk koridor padat seperti Sekupang ke Batam Centre dan Tanjung Uncang ke Batam Centre,” kata Bambang.

Bahkan, kini mulai terbentuk budaya park and ride, yaitu warga memarkir kendaraan pribadinya di sekitar halte untuk melanjutkan perjalanan dengan Trans Batam.

“Daripada macet naik motor dan pusing mencari lokasi parkir di pusat kota, warga memilih memarkir kendaraannya di halte kami, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus. Ini bukti masyarakat semakin siap mendukung transportasi umum,” pungkasnya.

Exit mobile version