BATAMCLICK – Di tengah lebatnya rimba belantara, suasana mendadak panas dan bergemuruh. Dua ekor kera berbadan kekar berdiri saling berhadap-hadapan dengan wajah garang menyeringai, siap melumat satu sama lain. Di tangan masing-masing, mereka mengangkat sesisir pisang dengan penuh emosi, bersiap membantingnya ke tanah demi menunjukkan kemarahan yang membara.
Di sekitar kaki mereka sudah berserakan oleh puluhan pisang yang menjadi korban “amarah suci” sebelumnya. Di sekeliling mereka, enam ekor kera penonton berdiri bersorak-sorai sambil bertepuk tangan gembira, seolah sedang menonton pertunjukan final piala dunia.
“Bantai! Hantam! Jangan kasih kendor!” teriak kera-kera penonton penuh semangat.
Usut punya usut, perang urat syaraf dan banting-banting pisang itu bukan karena perebutan wilayah, bukan pula karena sengketa betina tercantik, melainkan karena… khayalan tingkat tinggi tentang “Pisang Raja Terbesar di Dunia” yang dijanjikan oleh sang Raja Hutan.
Konon, sang Raja Hutan berjanji akan membagikan pisang raksasa yang ukurannya sebesar batang kelapa, rasanya paling manis se-nusantara, dan jumlahnya melimpah ruah untuk seluruh kawanan kera.
Masalahnya cuma satu: Pisang itu belum ada. Batangnya pun belum kelihatan, dan wujudnya belum pernah dilihat oleh satupun kera di hutan itu!
Semuanya baru sebatas wacana dalam brosur halusinasi kolektif.
Namun, karena daya khayal geng kera tersebut sudah melampaui batas kewarasan, mereka mulai berandai-andai dengan liar.
“Pokoknya bagian pisang terbesar itu harus jadi hak milikku! Kau kan cuma kera kurang gizi!” bentak si kera sebelah kiri sambil melotot tajam, mengacungkan pisangnya.
“Ngawur! Kau yang kurang ajar! Dalam bayanganku, aku sudah memakan separuh pisang itu, jadi kau tidak boleh mendahuluiku!” balas si kera sebelah kanan tak mau kalah, urat lehernya sampai menonjol keluar.
Mereka bertengkar hebat, saling caci, dan menghabiskan energi untuk memperebutkan sesuatu yang wujudnya saja masih berupa angin surga. Pisang sungguhan yang ada di tangan mereka malah dibanting-banting ke tanah hingga hancur lebur tanpa sisa.
Jauh di atas bukit yang rindang, seekor Kancil kecil duduk berselonjor sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Ia memperhatikan seluruh drama konyol itu dengan senyum simpul, sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak habis pikir.
“Aduh, ada-ada saja…” gumam si Kancil sambil terkekeh pelan. “Barang belum dibikin, janji baru sebatas omongan kosong, wujudnya entah di mana… tapi ributnya sudah mau bunuh-bunuhan. Kalau nanti ternyata yang datang cuma kulit pisang busuk, mau ditaruh di mana muka kera-kera itu?”
Cerita ini murni fiksi belaka, sekadar pengantar hari agar kalian makin semangat dan bahagia. Kalau ada kesamaan atau kemiripan dengan kisah yang sedang dialami pembaca… wah, kok bisa mirip gitu ya? “PISS”
penulis: bosanto
