Tim Penyidik Dittipidsiber Ditreskrimsus Polda Kepri Telah Menyerahkan tersangka

Batamclick.com, Batam – Tim Penyidik Dittipidsiber Ditreskrimsus Polda Kepri telah menyerahkan tersangka Slamat Santoso alias Andreas Lambono beserta barang bukti ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kepri di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam, Senin (29/6/2020).

Slamat yang diduga terlibat tindak pidana turut serta atau bekerja sama mentransfer dokumen perusahaan PT Hi Test Batam Centre, merupakan kasus yang dipisahkan (split) yang sudah diputuskan Pengadilan Negeri (PN) Batam dengan terdakwa Mulya Dwi Wulandari.

“Karena tempat perkaranya di Batam, Kejati Kepri melimpahkan ke Kejari Batam. Karena sudah P-21 dan sudah dilimpahkan, tugas kami selesai,” ujar penyidik Dittipidsiber Ditreskrimsus Polda Kepri.

Kasus sebelumnya yang displit, PN Batam telah menvonis terdakwa Mulya Dwi Wulandari, mantan karyawan PT Hi Test, Batamcentre, dengan hukuman 9 bulan, denda Rp 1 miliar subsider 1 bulan kurungan penjara, dipotong masa tahanan.

Seperti diketahui, majelis hakim terdiri Ketua Majelis Hakim Jasael, hakim anggota Muhammad Chandra, dan hakim anggota Efrida Yanti menyatakan perbuatan terdakwa Mulya Dwi Wulandari terbukti dengan sengaja tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apapun memindahkan atau mentransfer, informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik kepada sistem elektronik orang lain yang tidak berhak.

Dalam dakwaan JPU, pada kurun waktu Oktober sampai November 2018, Slamat Santoso alias Andreas Lambono mengajak terdakwa Mulya Dwi Wulandari bertemu di kantor Slamat di Palm Spring, Kota Batam dan meminta terdakwa untuk membawa curiculum vitae (CV) dan sertifikat dengan tujuan merekrut terdakwa sebagai karyawan di perusahaan Slamat.

Selanjutnya terdakwa dan Slamat intensif melakukan percakapan menggunakan handphone masing-masing. Lalu Slamat minta agar terdakwa mengirimkan list peralatan PT Hi-Test. 

Terdakwa mengambil foto-foto peralatan laboratorium milik PT Hi-Test dan memindahkan file atau dokumen dari komputer laboratorium PT Hi-Test ke handphone terdakwa. Lalu, terdakwa mengirimkan ke handphone Slamat melalui aplikasi WhatsApp (WA).

Perbuatan terdakwa terbukti telah melanggar pasal 48 Ayat (2) Jo 32 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHPidana.

” Berdasarkan petunjuk P21, tersangka Slamet dikenakan Pasal 55 ayat (1) KUHP mengatur tentang penyertaan dalam tindak pidana. Pelaku tindak pidana bukan saja orang yang benar-benar melakukan, tetapi juga mereka yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan pidana,” tutup 
ungkap penyidik Dittipidsiber Ditreskrimsus Polda Kepri. (+×}