Jangan Terlalu Ekslusif, Nanti Ditinggalkan (Jelang Pilkada Kepri)

BATAMCLICK.COM: Mesin politik masing-masing bakal calon kepala daerah, yang berkeinginan bertarung di kancah Pilkada akhir 2020 mendatang, semakin laju.

Berbagai cara mulai dilakukan, demi memperlihatkan pengaruh dan “kekuatan” pergerakan.

Kendati demikian, politik harus dilakukan dengan santun, dan harus menjaga suhu kekeluargaan politik itu sendiri.

Pengamat Politik yang juga Akademisi di Kepri DR. Razaki Persada, melihat suhu politik di Kepri jelang Pilkada ini, masih sangat adem ayem dan masih menunjukkan kekeluargaan.

“Memang ada riak-riak politik yang muncul, tapi itu masih dapat dimaklumi dan masih dalam kategori manufer politik lah,” ungkapnya.

Namun demikian, Razaki juga menegaskan, politik harus dijalankan dengan penuh kesantunan.

“Hak mereka untuk melakukan penilaian-penilaian, tapi penyampaiannya harus dengan santun, jangan memojokkan, jangan tendensius,” paparnya.

Bukan tidak mungkin, ke depan Nasdem dan Golkar di Kepri ini akan menyatu.

“Politik ini dinamis, tidak ada yang tak mungkin di politik, tidak ada musuh yang abadi di politik. Semuanya bisa terjadi,” ujarnya.

Razaki memprediksi di Pilkada Gubernur Kepri nanti, akan ada lebih dari dua pasangan.

“Saat ini yang sudah mulai mengerucut baru satu pasangan, koalisi PDI P, Gerindra dan PKB, sisa kursi masih banyak, masih cukup untuk dua pasang calon lagi,” ujarnya.

Dicontohkannya, Nasdem dengan perolehan 7 kursi di DPRD Kepri bisa membentuk koalisi sendiri, begitu juga dengan Golkar.

“Kita berharap ada 3 pasang calon, sehingga suhu politik di Kepri ini bisa cair, kalau head to head, memang akan panas,” katanya.

Tenggang waktu lobi-lobi politik untuk mendirikan satu koalisi ini masih sangat panjang, tapi Razaki juga mengingatkan kepada masing-masing partai, agar tidak bersikap ekslusif.

Koordinator Presedium Jaringan Demokrasi Indonesia (JADI) Kepri ini menilai, saat ini sikap Nasdem masih sangat ekslusif dan tertutup.

“Ini bisa jadi preseden buruk bagi Nasdem sendiri, dia bisa dijadikan musuh bersama dan ditinggalkan,” ungkapnya.

Apalagi Nasdem tidak memiliki kursi yang cukup untuk mengusung calonnya sendiri.

“Nasdem membutuhkan koalisi, sehingga harus lebih terbuka dan menjalin komunikasi politik yang baik dengan berbagai partai,” tutupnya.

Komunikasi Politik itu Setrategi

Wakil Ketua OKK DPW Partai Nasdem Kepri, Taufik Muntasir menyangkal jika Nasdem dikatakan partai yang ekslusif dan tidak melakukan lobi-lobi politik dengan partai lain.

“Nasdem Kepri termasuk partai yang pertama membuka pendftaran bakal calon pimpinan daerah, itukan sudah komunikasi politik, sudah lobi-lobi politik,” jelasnya.

Nah, kalau yang dimaksud tertutup dalam membangun koalisi, menurut politisi yang akrab disapa Ace ini, itu merupakan strategi politik partai.

“Kami berkomunikasi dengan beberapa partai dalam membentuk koalisi, tapi itu kan tak perlu disebutkan, karena ini startegi politik, jadi tak perlu dibuka dan diberitahu ke orang lain” katanya.

Ditambahkan Ace, Nasdem hingga saat ini masih terus melakukan komunikasi politik dengan sejumlah partai, dan yakin kuat dan besar dalam menghadapi Pilkada 2020 ini.(bos)