Kisah Kesederhanaan Sahabat Ali bin Abi Thalib saat Hari Raya Idulfitri

BATAMCLICK.COM, Hari raya Idulfitri tak ubahnya menjadi hari penuh kegembiraan bagi setiap muslim setelah selesai menjalani ibadah puasa Ramadan. Namun Sahabat Ali Bin Abi Thalib justru pernah merasakan kesedihan lantaran Ramadan telah pergi.

Suatu ketika, Sahabat Ali merasa sangat sedih setelah salat Asar di penghujung Ramadan. Ia kemudian pulang ke rumahnya dan disambut oleh istri tercinta Fatimah Az-Zahra.

Fatimah pun heran melihat mata suaminya itu sembab melukiskan kesedihan. Ia lantas bertanya, “Kenapa engkau terlihat pucat, tidak ada tanda-tanda keceriaan sedikit pun di wajahmu, padahal sebentar lagi kita akan menyambut hari kemenangan?”

Sahabat Ali hanya terdiam lesu dan tidak mampu menyembunyikan kesedihannya.

Sesaat kemudian ia berkata, “Hampir sebulan kita mendapat pelajaran dari Ramadan bahwa lapar dan haus itu teramat pedih. Segala puji bagi Allah, yang sering memberi hari-hari kita dengan perut sering terisi.”

Sahabat Ali setelah berunding dengan istrinya lalu berniat untuk membagikan sejumlah harta simpanannya pada fakir miskin.

Setelah takbir berkumandang di hari Idulfitri, Sahabat Ali pun membagikan sejumlah gandum dan dua karung kurma hasil dari panen kebunnya. Berkeliling dari pojok kota dan perkampungan untuk membagi kebahagian kepada para fakir miskin, anak yatim piatu dan yang membutuhkan lainnya.

Singkat cerita, sahabat Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali berkunjung dan bermaksud mengucapkan selamat Idulfitri kepada Ali.

Saat masuk ke rumah Ali, betapa terkejutnya mereka melihat sebuah nampan yang berisi gandum dan roti kering yang sudah basi dan tidak layak dikonsumsi.

Menyaksikan keadaan keluarga Ali yang memprihatinkan ketika hari raya tersebut, Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali merasa sangat sedih dan melaporkannya kepada Rasulullah saw.

Dengan terbata-bata mereka mengadu, “Wahai Rasulullah, putra baginda, putri baginda dan cucu baginda..”

“Tenangkan dirimu, ada apa wahai sahabatku?” timpal Rasulullah menenangkan mereka.

“Segeralah ke rumah menantu dan putri baginda, ya Rasulullah. Saya takut cucu baginda Hasan dan Husein akan sakit.”

“Ada apa dengan cucuku dan keluargaku?” tanya Rasulullah.

“Saya tak kuat menceritakannya sekarang, lebih baik engkau menengoknya…”

Tanpa pikir panjang, Rasulullah lalu menengok rumah putri dan menantunya tersebut.

Dan betapa kagetnya pula Rasulullah saat melihat keadaan Ali dan Fatimah di saat semua orang bergembira karena hari raya.

Rasulullah berdoa, “Ya Allah, Allahumma Isyhad. Ya Allah saksikanlah, saksikanlah.”

Begitulah kesederhanaan rumah Sahabat Ali Bin Abi Thalib saat hari raya Idulfitri karena ia lebih mengutamakan kebahagian orang lain yang lebih membutuhkan daripada dirinya sendiri.

Kisah ini termaktub dalam dua kitab, yakni Sirrah Ashabu an-Nabi karya Syekh Mahmud al-Misri dan Syiar A’lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi.

Wallahu a’lam.[]

Sumber: akurat.co