Yang Harus Dilakukan Jika Salat Salah Arah Kiblat

BATAMCLICK.COM : Para ulama sepakat bahwa menghadap Kiblat merupakan salah satu bagian dari syarat sahnya salat. Kiblat yang harus kita tuju saat salat jelas Kakbah yang ada di Masjidil Haram, Makkah.

Allah Swt berfirman yang artinya; “Dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 150)

Akan tetapi, pada beberapa kasus kita mungkin pernah mengalami salah menghadap Kiblat karena ketidaktahuan. Misalnya saat dalam perjalanan ke tempat yang sama sekali belum pernah kita datangi, kita spontan mendirikan salat namun setelah selesai baru kita sadar bahwa salat yang dikerjakan menghadap ke arah timur.

Jika demikian, apa yang mesti dilakukan?

Para ulama mazhab Syafi’i bersepakat bahwa salat yang salah menghadap Kiblat wajib diulangi secara mutlak.

Imam Nawawi berpendapat, “Orang yang salat (ke arah Kiblat) berdasarkan ijtihad, kemudian ia tahu ternyata itu salah, maka ia wajib mengqadha (mengulangi salatnya), menurut pendapat yang kuat. Dan apabila dia tahu kesalahannya di tengah salat, maka wajib mengulanginya dari awal.”

Apa yang menjadi kesepakatan mazhab Syafi’i di atas juga didasarkan pada salah satu hadis Nabi Muhammad saw selain dari Al-Qur’an.

Rasulullah saw bersabda, “Bila engkau hendak menjalankan salat, maka sempurnakanlah wudu, kemudian menghadaplah Kiblat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam menentukan arah Kiblat yang kita tuju, terdapat dua cara yang berbeda yakni dengan cara yakin dan dengan cara zhann (dugaan).

Yakin dalam hal ini berlaku bagi setiap muslim yang memang sudah pasti menghadap Kiblat misalnya ketika berada di sekitar Masjidil Haram.

Sedangkan zhann (dugaan) berlaku bagi setiap muslim yang jauh dari Masjidil Haram.

Untuk menentukan arah Kiblat ini, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan salah satunya berdasarkan berita dari orang yang terpercaya yang pernah melihat Kiblat secara langsung.

Tetapi dewasa ini, seiring dengan kemajuan teknologi maka kita bisa memanfaatkannya misalnya menggunakan kompas yang akurat.

Selain itu, bisa juga kita bertanya kepada penduduk setempat atau orang yang paham benar ke mana arah Kiblat. Jika tidak memungkinkan bertanya pada penduduk setempat karena seluruhnya non muslim misalnya, maka dapat menggunakan petunjuk dari alam seperti arah angin, sinar matahari dan lain sebagainya.

Sementara pendapat lain mengatakan jika seseorang Salah Arah Kiblat maka tidak perlu diulangi sebagaimana pendapat yang diungkapkan mazhab Hanafi.

Disebutkan dalam kitab Al-Akhyar (kitab mazhab Hanafi), “Jika ada orang tidak tahu arah Kiblat dan tidak ada seorang pun yang bisa ditanya, maka dia bisa berijtihad (dalam menentukan Kiblat) dan salatnya tidak perlu diulangi meski arah kiblatnya salah.

Jika dia tahu kesalahan arah Kiblat itu di tengah salat, maka dia cukup langsung berputar (ke arah yang benar) dan melanjutkan salatnya. Akan tetapi jika dia salat tanpa berusaha mencari arah Kiblat yang benar, lalu ternyata salah, maka wajib mengulangi salatnya.”

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang tidak tahu arah Kiblat maka ia harus berusaha menemukannya lewat banyak cara. Usaha ini dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian dalam mengerjakan salat supaya tidak sia-sia.

Wallahu a’lam.[]

Sumber : akurat.co