Masalah Kaleng-Kaleng ini Bagi Pemimpin Batam…


SUNGKAN rasanya hendak membuat tulisan ini, tapi akan lebih terngiang-ngiang kalau ini tak saya tulis.

Selasa (10/12/2019) pagi atas undangan Forum CEO Media Siber Kepri, Wakil Ketua Dewan Pers Indonesia, Hendri CH Bangun sampai di Batam, dari perjalanan yang cukup melelahkan, sejak pukul 04.00 subuh ia sudah harus keluar dari rumah menuju Bandara Soekarno Hatta, agar dapat naik pesawat pertama Jakarta-Batam.


BACA JUGA:

Sebagai tuan rumah, sekaligus pemilik kegiatan, saya bersama rekan, Eddy Supriatna, Ceo Mediakepri.co.id menjemput beliau di Bandara Internasional Hang Nadim Batam.

Bagi masyarakat awam, sosok Hendri CH Bangun tentu tidak begitu populer, tapi bagi kami yang beraktifitas di dunia pers, Hendri CH Bangun termasuk dalam deretan nama teratas, bahkan orang nomor dua saat ini setelah Prof. M Nuh sebagai Ketua Dewan Pers, induk organisasi Pers yang diakui negara dan Undang-Undang RI Nomor 40 tahun 1999 Tentang Pers.

Setelah Bang Hendri, begitu biasa kami menyapanya, naik ke mobil Toyota Calya BP 1437 ME milik saya, dan saya siap untuk bergerak meninggalkan bandara, tiba-tiba sejumlah pria menghampiri mobil dan mengetuk kaca jendela pas di sebelah saya.

“Permisi dululah kalau mau ngambil penumpang di sini?” Kata salah seorang dari mereka.

Saya sempat terkejut, tapi akhirnya saya paham, dan bertanya apa masalahnya?

“Kamu taksi online kan? Ini terdaftar di aplikasi Maxim, kami ada daftarnya nih” cetusnya sembari memperlihatkan secarik kertas kecil bergambar logo aplikasi Taksi Online Maxim.

Tak ingin ribut, dan saya sadar sama siapa saya berbicara, saya menjelaskan bahwa saya dan mobil saya tak pernah terdaftar di aplikasi taksi online mana pun. Bahkan untuk meyakinkan mereka, saya menunjukkan STNK dan KTP.

Masih ada yang ngotot, dan tak percaya, sampai-sampai Bang Hendri juga sempat agak terpancing.

Hingga akhirnya salah seorang dari mereka kembali melihat plat polisi saya dan mencocokkan dengan catatan yang ada di tangannya, dan berkata, “Salah… Salah… Serinya beda.”

Ya, pria itu langsung minta maaf, karena sudah “salah tangkap”. Maaf tentu gampang diucapkan dan diberikan, tapi apa harus begini terus kondisi kita ini?

Setahun lalu saya masih ingat, ada mobil yang dikira taksi online digulingkan di depan Pelabuhan Internasional Batamcentre.

Baru-baru ini, ribut juga pecah di Pelabuhan Internasional Batamcentre, sehingga pengunjung, turis yang datang ke Batam saat itu ketakutan dan terkurung di dalam terminal pelabuhan lantaran tak berani keluar.

Lantas ini harus terus terjadi dan berulang-ulang lagi?

Sebenarnya masalah ini sangat sepele, kalau Pemerintah Kota Batam mengaku tak punya wewenang untuk perizinan taksi online, ya minimal pemerintah bisa memikirkan keselamatan dan kenyamanan kami, orang-orang yang tidak terdaftar sebagai sopir taksi online, tapi bisa terkena bahaya, bisa menjadi korban persekusi, hanya karena PLAT POLISI KAMI MIRIP DENGAN PLAT POLISI TAKSI ONLINE.

Salah kami? Salah taksi online? Atau salah taksi pangkalan yang “boleh” melakukan sweeping dan akhirnya salah tangkap karena tak cermat melihat nomor polisi?

Sekali lagi ini masalah sangat sepele, ya bahasa trendnya saat ini Kaleng-Kaleng lah… Hanya butuh sedikit keseriusan.

Operator atau penyedia taksi online memiliki aturan main, setiap bulan, ratusan member atau sopir taksi, ojek dll yang disaspend oleh mereka karena melanggar aturan mereka.

Nah, Pemerintah Kota Batam bisa menyelipkan satu aturan saja di antara aturan-aturan yang ada di dalam aplikasi itu.

Pemerintah yang punya kuasa di daerah ini.

Masukkanlah aturan, setiap kendaraan yang digunakan sebagai taksi online harus ditempel stiker. Kecil saja, tak perlu besar, diameter 10 cm pun jadi, tempelnya di kaca depan pojok atas sebelah sopir, sehingga semua orang bisa melihatnya.

Wajibkan penggunaan stiker tersebut melalui operator aplikasi penyedia jasa taksi online. Kalau ada sopir yang tak menempelkan stiker itu, operator harus mensuspend, bekukan akunnya, jadi ada perbedaan antara taksi online dengan pengendara lain.

Sehingga tidak ada lagi masyarakat awam yang dipersekusi karena sweeping yang dilakukan oleh taksi pangkalan.

Selamatkan kami dari persekusi Pak Wali…

Novianto
Pemred Batamclick.com
Sekertaris PWI Kepri
Ketua Forum Ceo Media Siber Kepri