PARAH! Industri di Batam Sedang Sakit Kronis, Pertumbuhan Industri dari 7,07% Jadi 1,76%


Namun harapan tidak seindah kenyataan. Malah yang ada sejumlah investor hengkang dari Batam. Niat menjadikan Batam sebagai pesaing Singapura sepertinya semakin jauh panggang dari api. Kondisi terkini, berdasarkan laporan dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) ada dua industri di Batam yang akan tutup.

Ekonomi Batam Lesu.


BACA JUGA:

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, pertumbuhan industri manufaktur di Batam malah cenderung turun. Pada 2013, pertumbuhan industri di Batam masih 7,07% tetapi pada 2017 melorot menjadi tinggal 1,76%. 

Industri pengolahan berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Batam, dengan sumbangsih sekitar 55%. Tidak heran ketika industri manufaktur melambat, pertumbuhan ekonomi Batam ikut terhambat. 

Bagaimana di sisi ekspor? Apakah Batam mampu menjadi mesin pendorong ekspor manufaktur Indonesia seperti yang dicita-citakan BJ Habibie? 

Ternyata ekspor Batam juga mengalami perlambatan. Pada 2014, nilai ekspor Batam tercatat US$ 11,3 miliar dan pada 2017 susut menjadi US$ 8,71 miliar. 

Perlambatan ekonomi, industri manufaktur, dan ekspor pada akhirnya berdampak kepada kesejahteraan rakyat. Angka kemiskinan di Batam memang berada dalam tren turun, tetapi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) malah naik. 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa kali memberikan perhatian khusus kepada Batam. Kini struktur kepemimpinan di Batam berubah, jabatan Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam dirangkap oleh Wali Kota untuk menghindari kemunculan ‘matahari kembar’. 

Semoga dengan perubahan ini Kepala BP Batam/Wali Kota menjadi fokus dalam mengembangkan industri. Dengan begitu, rakyat Indonesia kembali bisa menaruh harapan kepada Batam sebagai pendorong industri manufaktur dan ekspor nasional. (*)

Sumber : CNBC Indonesia







Laman:Laman sebelumnya Page 1 Page 2