Korban Ledakan di PT MOS Meninggal Setelah 3 Bulan Dirawat, Pengawas Disnaker Pastikan Ahliwaris Terima Hak Ketenagakerjaan

Peristiwa ledakan kapal tanker di PT MOS pada 24 Arpil lalu, satu dari dua orang korban meninggal dunia pada Minggu kemarin (7/7), setelah menjalani perawatan sekitar tiga bulan di RSUD M Sani
Peristiwa ledakan kapal tanker di PT MOS pada 24 Arpil lalu, satu dari dua orang korban meninggal dunia pada Minggu kemarin (7/7), setelah menjalani perawatan sekitar tiga bulan di RSUD M Sani

BATAMCLICK.COM: Seorang pekerja PT Multi Ocean Shipyard (PT MOS) yang terkena ledakan kapal tanker pada April lalu meninggal dunia, Minggu dini hari (7/7) sekira pukul 04.00 WIB.

Korban bernama Imam Gazali (23) itu dirawat cukup lama sejak peristiwa ledakan tersebut tepatnya pada 24 April lalu. Namun ia menghembuskan nafas terakhir setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muhammad Sani, lebih kurang tiga bulan lamanya dan nyawanya tak tertolong.

BACA JUGA : 

Informasi dihimpun, seorang tenaga medis mendatangi PT MOS dan menyampaikan bahwa Imam membutuhkan enam kantong darah.

“HB nya rendah dan butuh enam kantong darah, kalau tak dapat juga bisa jadi nyawanya tak tertolong. Tapi rupanya subuh Minggu dapat kabar kalau dia (koran) meninggal dunia,” ucap salah seorang pekerja PT MOS.

Pengawas Ketenagakerjaan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Kepri, Mujarab mengatakan, Imam merupakan pekerja PT MOS dan dalam kategori kecelakaan kerja. Sehingga pihak keluarga atau ahliwaris berhak menerima bantuan atau hak-hak pekerja atas kecelakan yang dialami korban.

“Almarhum tercatat sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Sehingga hak untuk ahliwaris dipastikan akan diperoleh. Sebagaimana aturan yang berlaku,” ujar Mujarab.

Dikatakan Mujarab, dalam waktu dekat pihak Pengawas Disnaker Provinsi akan melakukan hitung-hitungan hak yang akan diterima oleh ahliwaris. Mulai dari jenis yang akan diterima, besaran, dan sebagainya. Termasuk juga uang serta menghitung besaran gaji tiap bulan yang diterima almarhum.

Setelah dihitung, nanti akan dikeluarkan surat penetapan dan memerintahkan BPJS untuk membayarnya. Begitupun kepada pihak perusahaan untuk dapat memberikan santunan meskipun tidak ada ketentuan yang mengikat.

“Tapi kita minta terlebih dahulu agar PT MOS menanggung kebutuhan pemulangan jenazah menuju kampung halamannya, di Provinsi Aceh. Setelahnya baru diselesaikan semua yang sudah dihitung,” jelas Mujarab.

Karena Imam telah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, maka seluruh biaya berobat selama tiga bulan ditanggung BPJS. “Kalau tidak, pasti PT MOS kelimpungan, karena dalam beberapa bulan dirawat ini saja mau habis berapa ratus juta. Untungnya dia diikutkan sebagai peserta BPJS,” tutup Mujarab.

Seperti diketahui, dua orang pekerja di PT Multi Ocean Shipyard (MOS) mengalami luka bakar serius, atas peristiwa ledakan kapal di lokasi perusahaan tersebut, Rabu sore (24/4) sekira pukul 17.30 WIB.

Informasi dihimpun, ledakan bersumber dari kapal tanker bernama Success Energy, yang tengah sandar di areal PT MOS. Kapal tersebut rencananya akan dibelah-belah untuk dijadikan scrub.

“Kapal itu lagi dikerjakan dan tau-tau bagian bawah kapal kena percikan api. Sehingga menimbulkan ledakan, di bagian yang meledak itu memang ada tabung gas dan oksigen,” ungkap salah seorang pekerja di PT MOS yang enggan disebutkan namanya, Rabu (24/4).

Ledakan yang ditimbulkan, mengakibatkan dua orang pekerja luka parah, sekujur tubuhnya melepuh. Sehingga langsung dilarikan ke RSUD Muhammad Sani dan Rumah Sakit Bhakti Timah (RSBT) untuk ditangani tim medis.(gan)