Pekerja mulai menyusun batu bata mendirikan tembok di badan jalan, yang menjadi akses warga, Kamis (4/7)
Pekerja mulai menyusun batu bata mendirikan tembok di badan jalan, yang menjadi akses warga, Kamis (4/7)

BATAMCLICK.COM: Lobi-lobi yang dilakukan DPRD Kabupaten Karimun, agar PT Timah tidak melakukan pemagaran akses jalan menuju pemukiman warga di Perumahan Mega Sedayu PN Kecamatan Tebing tak membuahkan hasil.

Pihak PT Timah tetap membangun tembok menutupi jalan warga, yang telah mulai dilakukan sejak Rabu kemarin (3/7). Meski beberapa hari sebelumnya aksi pemagaran sempat dipending karena masih dalam proses mediasi.

Para pekerja tetap membangun pagar pembatas pada badan jalan yang merupakan akses warga keluar masuk komplek. Batu bata telah tersusun setinggi satu meter lebih.

Tindakan tersebut membuat warga merasa kecewa. Karena selama ini telah melakukan berbagai upaya. Sampai kepada mengadukan persoalan tersebut ke DPRD Kabupaten Karimun, namun tak membuahkan hasil.

“Saat tindakan pertama kali beberapa hari lalu ketika pekerja mulai membangun pondasi untuk pagar, sempat dihentikan karena masih dilakukan tahapan mediasi. Lalu kami melapor ke DPRD agar digelar hearing dengan menghadirkan PT Timah, pihak pengembang dalam hal ini Mega Sedayu. Kemudian jalan ini tidak akan ditutup sampai ada kesepakatan dalam hearing. Tapi sampai sekarang tidak kunjung dilakukan hearing dan jalan pun langsung ditutup, sejak Rabu (3/7). Kamis semalam langsung naik bata (pagar),” terang salah seorang warga, Ferdi, Sabtu (6/7).

Menurut pria yang tinggal di Blok D Nomor 4 ini, ada jalan alternatif yang dibuatkan oleh pihak pengembang perumahan Mega Sedayu PN. Namun aksesnya tidak memadai dan cukup sempit, tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda empat, belum lagi melintasi pemukiman warga diluar perumahan.

“Kalau jalan alternatif ini digunakan warga diluar komplek untuk pesta, maka kami tidak bisa keluar masuk. Satu-satunya jalan hanya yang dipagari ini,” tambahnya.

Sementara itu, pihak PT Tima beralsan pemagaran yang dilakukan karena menjaga dan mengamankan aset, kemudian telah dibuat kesepakatan dengan pihak developer, sehingga jalan tersebut tetap ditutup.

Sekretaris Wilayah PT Timah Kepri, Eko Yori Faruza mengatakan, dasar PT Timah mengamankan aset mereka adalah berdasarkan Surat Edaran Menteri Badan Usaha Milik Negata (BUMN) Nomor: SE-09-MBU/2008 tanggal 23 Mei 2008, agar direksi BUMN melakukan pembenahan terhadap administrasi dan dokumen kepemilikan dan penguasaan aset perusahaan. Termasuk melakukan pengamanan yang berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, Kepolisian dan Kejaksaan.

Selain itu, Surat Edaran Menteri BUMN No. SE-09/MBU/2009 tanggal 25 Mei2009, agat direksi BUMN melaksanakan penarikan semua aset yang dikuasai oleh orang yang tidak berhak, termasuk dengan melakukan upaya hukum optimal.

“PT Timah mulai gencar menata aset-aset yang telah lama terbiarkan, melalui kebijakan manageman, direksi, hingga holding BUMN pertambangan.

Aset ini penting untuk dijaga. Jangan sampai dimanfaatkan oleh orang lain. Kita dimita untuk menjaga aset-aset yang kita miliki,” jelas Yori.

Yori menyebutkan, pihak PT Timah tidak memiliki permasalahan dengan warga. Melainkan pengembang dalam hal ini Mega Sedayu yang memiliki masalah kepada warga perumahan. Developer pun telah menyetujui untuk mencarikan jalan altenatif, untuk akses warga.

“Justru PT Timah telah berkoordinasi sejak awal, tapi tak ada titik temu. Sehingga kita tutup. Kalau tak dipagar lahan kita mungkin tidak akan pernah selesai. Dulu juga sempat terdengar ada warga yang memegang surat wasiat, ternyata itu palsu, kalau secara hukum mereka pasti kalah. Lahan yang kami pagari merupakan kepemilikan secara sah,” terangnya.

Disinggung soal surat dari DPRD Kabupaten Karimun, dia mengaku telah membalas surat yang dimaksud. Yang isinya adalah akan tetap memagari lahgan mereka, karena telah berkoordinasi dan berunding dengan berbagai pihak terkait.(gan)