Kondisi kaki korban dugaan malprakter RSUD Muhammad Sani yang tewas beberapa saat, setelah diberikan suntikan kedua kali atas demam yang dideritanya, Jumat. (14/6)
Kondisi kaki korban dugaan malprakter RSUD Muhammad Sani yang tewas beberapa saat, setelah diberikan suntikan kedua kali atas demam yang dideritanya, Jumat. (14/6)

BATAMCLICK.COM: Tim medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muhammad Sani diduga melakukan malpraktek, yang mengakibatkan hilangnya nyawa pasien, pada Jumat malam (14/6/2019).

Pasien atas nama Hermansyah (45) itu dinyatakan tewas setelah diberikan obat oleh tim medis dari rumah sakit milik Pemkab Karimun tersebut, tepatnya sekitar pukul 19.35 WIB

Salah seorang kerabat korban bernama Edy Anwar mengatakan, dugaan malpraktek yang dialami oleh almarhum adiknya itu bermula ketika kondisi tubuh korban dalam tidak sehat dan terserang demam biasa.

“Almarhum adik saya (Hermansyah) meninggal dunia saat ditangani medis RSUD Muhammad Sani. Dia menghembuskan nafas terakhir di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) pada RSUD milik Pemkab Karimun ini sekitar pukul 19.35 WIB,” kata Edy kepada para awak media di depan kamar mayat, Jumat malam (14/6).

Tewasnya Hermanysah bermula ketika dia datang berobat ke RSUD Muhammad Sani, atas sakit yang dideritanya yakni demam panas. Sehingga oleh tim medis rumah sakit memberikan suntikan obat-obatan dan bebrapa jenis pil.

“Setelah disuntik beberapa saat, Hermansyah langsung pulang. Tak berapa lama kakinya
bengkak dan melepuh, layaknya terkena luka bakar. Sehingga saya bawa korban untuk kembali ke RSUD Muhammad Sani, tapi begitu tiba rupanya kembali disuntik tanpa ada pertanyaan atau pemeriksaan terlebih dahulu terhadap pasien,” jelas Edy.

Setelah mendapatkan suntikan kedua itu, Hermansyah langsung mengalami sesak nafas dan dilarikan ke UGD Edy mengaku sempat berteriak kepada tim medis agar segera diberikan pertolongan secepatnya.

“Mirisnya lagi, ketika pertolongan yang diharapkan dengan membawa tabung oksigen, ternyata tidak ada isinya alias kosong. Sehingga kondisi adik saya makin drop. Lima menit berselang pasca kejang-kejang, adik saya pun tidak lagi bernafas dan dinyatakan telah meninggal dunia sekira pukul 19.35 WIB,” tambah Edy.

Edy menilai telah terjadi kelalaian yang dilakukan pihak RSUD Muhammad Sani, sampai menghilangkan nyawa dan dinilai telah terjadi dugaan malpraktek bagi adiknya.

“Kok oksigen di UGD bisa kosong, padahal itu ruangan pelayanan kesehatan yang sangat urgent. Artinya peralatan pertolongan bagi pasien darurat harus selalu tersedia, tapi kenyataannya tabung oksigen tidak ada isinya dan adik saya tak tertolong lagi atau langsung meninggal dunia,” tambahnya.

Atas dugaan malpraktek itu, Edy mengaku bakal menempuh jalur hukum, dengan melaporkan RSUD Muhammad Sani kepada pihak berwajib.

Pantauan di lapangan, pihak keluarga tampak ramai memadati ruang pemulasaraan jenazah di rumah sakit tersebut, untuk melihat proses visum terhadap jenazah Hermansah. Hadir dalam proses visum adalah Inafis Polres Karimun, kerabat korban menunggu hasil visum di depan ruang pemulasaraan jenazah.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak RSUD Muhammad Sani.(gan)