Malam 7 Likur yang “Keramat”

BATAMCLICK.COM: Malam 7 Likur atau 27 Ramadhan, merupakan malam “keramat” di tengah masyarakat Melayu kepulauan. Malam tersebut dipercaya sebagai malam yang penuh keistimewaan, sehingga tak heran jika masyarakat kerap merayakannya dengan cara menghias kampung-kampung mereka dengan penerangan. Jejeran lampu cangkok atau lampu colok yang terbuat dari kaleng bekas minuman diberi sumbu dan minyak tanah, menerangi jalan-jalan menuju ke kampung-kampung penduduk. Bukan itu saja, gerbang masuk pemukiman pun dihias dan dibentuk dengan mengunakan lampu-lampu tersebut.

BACA JUGA : 

Tradisi ini telah dilakuka oleh masyarakat Melayu Kabupaten Lingga sejak berabat-abat dan hingga saat ini terus menjadi tradsi turun-meurun setiap Malam 7 Likur.

Masyarakat Lingga yang mayoritas muslim dan kental dengan logat melayu dan adat istiadatnya sangat meyakini akan adanya malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar. Dipercaya, 10 hari penggalan terakhir itulah turunnya malam istimewa dan penuh ganjaran pahala itu jatuhnya pada 27 Ramadhan. Pada malam itu juga, masjid dan surau di kampung-kampung menggelar khataman Quran.

Untuk menyambut malam istimewa itulah masyarakat Lingga tanpa mengenal status sosial, baik miskin ataupun kaya semuanya berusaha menerangi laman rumah dengan lampu colok. Khusus di tengah kampung dibuat lebih besar lagi dengan pelbagai reka bentuk. Menilik kebelakang pada awal tahun 1960-an bentuknya dikenal dengan formasi gunung api, dengan seiring berjalannya waktu dan perubahan zaman, reka bentuk sususan api colok mulai dapat sentuhan perubahan serta inovasi kreativitas, hingga sampai seperti yang bisa kita saksikan sekarang ini.

Dari cerita yang telah turun temurun oleh nenek moyang terdahulu, pemasangan lampu colok ini sangat dianjurkan yang guna nya untuk sebagai penerangan sepanjang jalan kampung, sebab zaman dahulu belum ada listrik penerangan seperti yang kita nikmati sekarang ini. Oleh karena itu bisa kita lihat dan rasakan tradisi ini masih sangat eksis dan melekat serta mempunyai khas tersendiri dihati masyarakat Kabupaten Lingga.

Meski saat ini bisa kita lihat gerbang likur tak sebegitu banyak ditemui, tapi pada malam 27 Ramadhan 1440 H para muda-mudi bahkan orang tua membawa anak-anaknya untuk melihat keberadaan gerbang tujuh likur disetiap sudut kampung atau pedesaan. Momen seperti ini sudah sangat melekat dihati masyarakat Kabupaten Lingga sejak dari dahulu.(is)