Wabup Karimun, Anwar Hasyim (kanan) tiba di Pelabuhan Pulau Manda Desa Ngal Kecamatan Ungar yang hanya terbuat dari papan, dalam agenda safari ramadhan, Jumat sore (10/5) didampingi Camat Ungar Muhammad Farida Syahdu
Wabup Karimun, Anwar Hasyim (kanan) tiba di Pelabuhan Pulau Manda Desa Ngal Kecamatan Ungar yang hanya terbuat dari papan, dalam agenda safari ramadhan, Jumat sore (10/5) didampingi Camat Ungar Muhammad Farida Syahdu

BATAMCLICK.COM: Safari ramadhan rombongan Wakil Bupati Karimun Anwar Hasyim di Pulau Manda Desa Ngal Kecamatan Ungar, menjadi salah satu destinasi keagamaan yang dinilai tidak hanya membawa misi religi, tapi juga membawa misi rencana pembangunan dalam melihat kebutuhan masyarakat setempat.

Ketika kapal yang membawa puluhan orang dalam rombongan tersebut merapat di Pelabuhan Pulau Manda pada Jumat sore (10/5), yang tergambar jauh dari kata mumpuni untuk urusan infrastruktur. Mulai dari pelabuhan yang hanya terbuat dari kayu, menjorok ke laut dan itu satu-satunya akses warga setempat yang digunakan untuk berpergian.

Setibanya didarat, akses jalan pun hanya berupa semenisasi selebar satu meter, yang kondisinya sudah mulai banyak lubang disana sini. Tidak ada kendaraan istimewa di pulau ini, jangankan sepedamotor, sepeda saja hanya ada satu atau dua orang yang memiliki. Sehingga untuk menuju Masjid Al Wali sebagai tempat safari ramadhan, rombongan harus berjalan kaki sekitar satu kilometer menyusuri jalan setapak.

Ketika hari berangsur senja, suara bising mesin genset diesel terdengar, sebagai tanda penerangan warga setempat baru dapat dinikmati tepat pukul 17.30 WIB. Memang fasilitas listrik dari PLN belum tersedia di pulau yang hanya berpenghuni sebanyak 60 Kepala Keluarga (KK), atau sekitar 180 jiwa ini.

Tidak hanya sampai disitu, kebutuhan air bersih juga menjadi salah satu kendala warga Pulau Manda, yang sampai saat ini hanya mengandalkan air tadah hujan untuk kebutuhan masak dan minum. Air tanah hanya dapat digunakan untuk mencuci. Pulau kecil yang menjadi bagian dari Desa Ngal ini tidak punya sumber mata air bersih. Sehingga saat kemarau tiba, masyarakat terpaksa menggunakan kapal nelayan membawa jerigen untuk mengambil air di pulau terdekat, tepatnya di Pulau Propos, dengan jarak tempuh sekitar 20 menit perjalanan laut.

Saat rombongan safari ramadhan berwudhu menjelang masuknya waktu berbuka puasa dan sholat magrib, air yang digunakan adalah air sumur yang memang rasanya sedikit asin. Hal ini pun diakui Camat Ungar, Muhammad Farida Syahdu dan menjadi salah satu bagian infrastruktur yang masih sangat dibutuhkan oleh warga Pulau Manda.

“Memang tidak ada sumber air bersih di pulau ini, sudah pernah dilakukan penggalian sumur, tetap saja airnya asin. Sempat dibuatkan sumur bor, tapi ternyata dibawah tanah banyak batu, sudah diulang berkali-kali tetap gagal,” jelas Syahdu disela-sela kesibukannya menyambut kedatangan Wakil Bupati Karimun Anwar Hasyim.

Dikatakan Syahdu, saat ini tim dari Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) telah turun di Pulau Ngal Desa Ngal, dan akan mulai merambah ke Pulau Manda pada pekan depan, untuk melakukan kajian pemenuhan kebutuhan air bersih.

“Di Pulau Manda ini tidak bisa pakai sumur gali atau sumur bor, airnya tetap asin. Satu- satunya solusi adalah kita bangun tower air lengkap dengan tanki. Air bersih diangkut dari pulau terdekat, kita siapkan kapal lengkap dengan tanki juga seperti kapal pembawa minyak. Sumur disiapkan di Pulau Propos. Nanti air dari topwer akan dialirkan ke rumah rumah warga, dengan sistim gravitasi, karena tanah disini cukup datar sehingga tak perlu gunakan mesin mengalirkan air,” katanya.

Solusi itu dibuat karena mengingat jika masuk musim kemarau, warga sekitar kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih, sementara sampai saat ini hanya mengandalkan air hujan yang ditampung.

Sedangkan kebutuhan listrik, Syahdu mengaku memang PLN belum dapat masuk untuk menuhi kebutuhan warga Pulau Manda. Mesin genset yang ada pun baru didapat tahun kemarin dari Provinsi, yang bersumber dari dana aspirasi dengan kapasitas 20 Kilowatt. Sebelum ada bantuan tersebut, warga hanya memanfaatkan genset bertenaga kecil dan menyala sejak pukul 17.30 WIB mati pada malam hari pukul 22.00 WIB. Sepanjang ramadhan, genset akan menyala pada saat jam santap sahur sekira pukul 03.00 WIB dini hari, dan mati seusai sholat subuh.

“Kalau iuran saya kurang tahu berapa yang dibebankan kepada warga, tapi ada subsidi sebagai bentuk bantuan dari dana desa (DD) disamping iuran warga,” ungka Syahdu.

Dikatakan, sejauh ini, pihak PLN memang telah melakukan penjajakan, dan telah disediakan lahan untuk pembangunan fasiltias mesin PLN. Hanya saja belum didapati informasi kapan hal itu dapat terealisasi. Untuk sementara, baru Pulau Ngal yang sudah dalam proses pengerjaan dan Pulau Manda belum ada kejelasan.

“Daya yang dibutuhkan disini (Pulau Manda) tidak besar, informasi dari PLN sektiar 10 KVA sudah cukup. Karena di pulau ini tidak ada jenis usaha yang mengandalkan listrik. Solusi alternatifnya munkin menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS),” ujarnya lagi.

Untuk kebutuhan pelabuhan, Syahdu mengaku sementara waktu tidak begitu mendesak dan masih dapat digunakan, namun yang terpenting adalah kebutuhan air bersih dan listrik. Meskipun memang pelabuhan menjadi infrastruktur yang sangat vital di pulau tersebut, sebagai akses untuk berpegian.

Pulau Manda makin terasa terisolir ketika signal ponsel khusus internet tersendat,  sehingga membuat komunikasi jadi tidak lancar.

Kebutuhan Warga Langsung Direspon Wabup

Sementara itu, Wakil Bupati Karimun Anwar Hasyim menanggapi kebutuhan warga di Pulau Manda, agar dapta diusulkan dalam kegiatan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Ungar. Yang nantinya akan diteruskan ke Kabupaten Karimun.

“Ini lah salah satu tujuan dari safari ramadhan yang diagendakan Pemkab Karimun. Tidak hanya agenda religi saja, tapi sekaligus menjaring aspirasi masyarakat setempat. Melihat kebutuhan yang paling mendesak untuk segera diselesaikan oleh pemerintah. Saya pun sudah melihat langsung mulai dari turun dari kapal menuju Masjid Al Wali ini, seperti apa kondisi dan kebutuhan masyarakat, ini harus segera diusulkan dalam Musrenbang,” kata Anwar dalam sambutannya.

Pemerintah lanjut Anwar, tidak punya banyak waktu untuk datang ke Pulau Manda setiap harinya. Sehingga dijadwalkan dalam agenda safari ramadhan. Dalam agenda itu tentunya ada informasi dan keluhan masyarakat yang harus direspon dengan cepat.

“Dari bincang-bincang ringan sambil jamuan berbuka puasa tadi, ada tiga poin penting yang harus segera diselesaikan demi memenuhi kebutuhan warga Pulau Manda. Pertama soal pelabuhan yang memang kurang sehat dan harus berhati-hati jika melintas. Kedua soal listrik, ketiga masalah air bersih, kita wudhu tadi airnya rasanya asin. Semoga masalah ini segera kita selesaikan,” jelas Anwar.(gan)