Minyak tanah menghilang di Karimun, foto IST
Minyak tanah menghilang di Karimun, foto IST

BATAMCLICK.COM: Masyarakat di hampir seluruh wilayah Kabupaten Karimun kini mengalami kelangkaan minyak tanah, yang biasa digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak sehari-hari.

Sekalipun ada yang menjualnya, namun harganya tiga kali lipat dari harga biasanya. Kelangkaan ini menyusul ditariknya minyak tanah subsidi oleh pemerintah sebesar 70 persen sejak Februari kemarin. Hal itu dilakukan dengan alasan saat ini sudah dilakukan konversi ke gas LPG 3 kilogram.

Kondisi ini sebagaimana dialami oleh seorang warga Kecamatan Karimun bernama Ernawati. Dia mengaku kewalahan ketika minyak tanah tak bisa diperoleh, sementara rumahnya tidak mendapatkan bantuan atau subsidi gas LPG 3 klogram.

“Jelas kewalahan, kami masyarakat yang ekonomi lemah begini dan belum dapat gas LPG karena secara bertahap tak bisa berbuat apa-apa. Sementara minyak tanah tak bisa lagi kami beli karena harganya sangat mahal,” ucap Erna, Jumat (13/3).

Menyiasati kebutuhannya untuk memasak, Erna terpaksa mencari ranting kayu kering keliling kampung, lalu dibawanya pulang untuk dijadikan bahan bakar memasak didapur.

Hal yang sama pun dirasakan oleh Khadafi, warga Kecamatan Karimun ini juga mengaku sudah keliling ke beberapa tempat dan menanyakan setiap warung yang ditemui, namun tak ada satupun yang menjual minyak tanah.

“Ada satu warung yang jual, tapi harga per botolnya Rp25 ribu, padahal sebelum langka harganya cuma Rp8000 sampai Rp9000 per botol, sudah lah susah didapat lalu naik sampai tiga kali lipat,” ucap Khadafi.

Atas kondisi ini dia meminta pemerintah daerah Kabupaten Karimun segera turun tangan, karena jika dibiarkan berlarut dikhawatirkan menimbulkan persoalan baru dikemudian hari.

Seperti diketahui, tahun 2018 lalu Kabupaten Karimun melakukan konversi minyak tanah ke gas LPG 3 kilogram sebanyak 45,857 paket, lengkap dengan kompor, selang regulator dan tabung gas. Dibagikan untuk 71 Desa dan Kelurahan di 12 Kecamatan se Kabupaten Karimun. Hanya saja, sampai saat ini belum tersebar secara kesleuruhan dan data yang diperoleh, masih ada sekitar 30 kepala keluarga yang belum tersentuh dengan program konversi tersebut.(gan)