Bersama Satgas TMMD Reguler 104 Ibu -ibu warga Desa Jurangjero melestarikan Budaya Tradisional


BATAMCLICK.COM, BLORA — Kothekan adalah seni tradisional khas jawa yang sudah berabad-abad dan merupakan tradisi masyarakat agraris karena merupakan pengembangan dari kegiatan rutin petani, yaitu menumbuk padi. Konon pada awalnya merupakan kegiatan santai sekadar untuk bersenandung di saat-saat jeda menumbuk padi. Kreativitas tersebut terus berkembang menjadi simbol kegiatan sosial masyarakat agraris.

Nguri-uri kabudayan merupakan usaha untuk memajukan jati diri bangsa, Hal ini dapat diartikan bahwa kebudayaan merupakan identitas dari suatu kelompok masyarakat. Tata cara, etika, tradisi suatu merupakan bahan pengidentifikasian identitas suatu bangsa. Apabila tidak di uri-uri, maka orang Jawa akan kehilangan identitasnya.


BACA JUGA:

Oleh karena itu banyak usaha orang Jawa dalam nguri-uri lebih bermaksud untuk mempertahankan jati dirinya. Misalkan saja seperti kothekan. Kothekan kini tidak lagi digunakan sebagai alat seni tradisional ,dengan peralatan lesung dan alu yang di tumbukan ke lesung sehingga terbentuk irama musik,hal ini menjadi sesuatu yang dibanggakan dan di luhurkan karena nilai sejarah dan estetikanya.

Demikian juga halnya dengan pelaksanaan tradisi lain seperti tata cara bergotong royong, merayakan selebrasi, berdoa maupun menghormati leluhur. Seluruhnya digunakan untuk melestarikan kebudayaan.

Menurut Ketua BPD Desa Jurangjero Sukarno (49) mengatakan, ” Kothekan merupakan kesenian tradisional khas jawa warisan nenek moyang pada zaman dulu,sehingga kita sebagai generasi penerus wajib melestarikan atau menguri – uri kesenian yang menggunakan peralatan lesung dan alu ini.Begitu indah saat alu di tumbukan secara bergantian sehingga terbentuk irama suara musik yang enak di dengar, ” Ujarnya.

Kegiatan itu biasanya di adakan untuk kegiatan memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia,acara sedekah bumi juga bisa di gunakan untuk acara tradisi lainya agar acara tersebut meriah.