Analis Ramal Rupiah Gagahi Dolar AS Pekan Depan

BATAMCLICK.COM, Nilai tukar rupiah diprediksi akan berada di jalur penguatan minggu depan. Ada beberapa faktor yang menopang mata uang Garuda mendominasi dolar Amerika Serikat (AS) besok.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan menerangkan ada faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi penguatan rupiah kemarin dan menjadi dasar proyeksi pergerakan besok.

Untuk eksternal datang dari data ketenagakerjaan di AS yang dirilis pada hari Kamis, menunjukkan bahwa klaim pengangguran awal turun lebih lambat dari yang diharapkan. Di saat yang sama, data dari pasar perumahan menunjukkan bahwa bagian dari ekonomi mendingin setelah tiga bulan mengalami kenaikan yang sangat kuat.

“Jadi, sementara ekonomi AS pulih, rebound tampaknya melambat. Hal ini mendorong Federal Reserve berjanji untuk mempertahankan suku bunga mendekati nol hingga setidaknya akhir 2023 sambil juga meningkatkan perkiraan PDB 2020, tetapi bank sentral juga meminta lebih banyak bantuan fiskal dari Kongres, yang tampaknya masih tidak mungkin,” ujarnya seperti dikutip Minggu (20/9/2020).

BACA JUGA:   Serang Polisi Tanpa Sebab, Pria Bali Meninggal Tertembak di Hotel

Sementara dari sisi internal wabah COVID-19 masih menjadi sentimen negatif. Kasus positif terus meningkat, bahkan penambahan kasus perhari terus memecahkan rekor. Selama wabah ini belum dalam dikontrol maka derita ekonomi RI dipercaya akan berkepanjangan.

Berbagai cara dilakukan pemerintah, salah satunya dengan melakukan reformasi sistem keuangan. Pemerintah melakukan perubahan-perubahan wewenang baik di Bank Indonesia (BI) maupun wewenang di OJK.

Ibrahim menilai pasar merespon negatif atas revisi UU BI hanya bersifat sementara. Menurutnya setelah melihat draft perombakan Undang-undang Bank Indonesia, pasar kembali positif lantaran menaruh harapan dalam wacana itu.

“Menanggapi draft tersebut pasar meyakini wewenang ke depan bank sentral akan lebih luas, apalagi sebelumnya Bank Indonesia sudah berperan dalam pertumbuhan ekonomi sehingga harus dilihat lagi seperti apa perluasan kewenangan yang direncanakan. Hanya saja intervensi BI di pasar keuangan yang meningkat selama pandemi masih dinilai positif oleh pasar asalkan tidak berlanjut di masa normal,” tuturnya.

BACA JUGA:   Ponpes Tagih Kemenag jadi Leading Sector Tangani Corona

Dengan melihat berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memprediksi nilai tukar rupiah pada awal pekan depan akan berada di jalur positif.

“Dalam penutupan perdagangan akhir pekan ini rupiah ditutup menguat 97 point di level Rp 14.735 dari penutupan sebelumnya di level Rp 14.832. Dalam perdagangan minggu depan tepatnya di hari Senin mata uang garuda masih akan kembali menguat antara 10-50 point di level Rp 14.700-Rp 14.780,” terangnya.

Sedangkan Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee berpandangan sebaliknya. Revisi UU BI yang sedang digodok DPR justru memberikan sentimen negatif karena mengancam independensi bank sentral. Hal itu menjadi salah satu dari 3 sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah, yakni kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan memasuki resesi dan meningkatnya kasus COVID-19

Baca juga:Airlangga Jelaskan soal ‘Pernyataan Anies Bikin IHSG Anjlok’

BACA JUGA:   Santai Banget, Bocah Tengil Ini Lewati Petugas Sambil Berdiri di Atas Motor

Meski begitu Hans menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan kemarin merupakan bentuk upaya menjaga stabilitas keuangan dalam mendukung perekonomian Indonesia. Meskipun inflasi sangat rendah tetapi volatilitas rupiah membuat BI menahan penurunan suku bunga. Dia yakin rupiah minggu depan akan lebih stabil.

“Data yang baik juga ditunjukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2020 kembali mencatatkan surplus sebesar US$ 2,33 miliar. Kedua hal ini diharapkan mampu membuat Rupiah menguat dan lebih stabil ke depannya,” terangnya.

Di samping itu di AS belum ada kesepakatan mengenai RUU stimulus fiskal untuk mengantisipasi virus corona baru yang diperkirakan senilai US$ 1,5 triliun. Tarik ulur politik terus terjadi. Bila terjadi kesepakatan diharapkan mampu menjadi sentimen positif yang mendorong indeks-indeks dunia naik dan nilai tukar dolar AS melemah.(abc)

Sumber: detikcom