Redam Tensi Gejolak Global, Bank Indonesia Tahan BI-Rate di Level 5,75 Persen

Batamclick.com, JAKARTA — Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 18–19 Agustus 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%.

Keputusan ini konsisten dengan strategi BI dalam memitigasi dampak gejolak pasar keuangan global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, menstabilkan nilai tukar Rupiah, serta memastikan inflasi tetap berada pada sasaran target 2,5±1% untuk tahun 2026 dan 2027.

Guna memperkuat stabilitas pasar dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan, BI menempuh lima langkah kebijakan utama:
– Stabilisasi Nilai Tukar & Operasi Moneter: Mengoptimalkan intervensi valas (NDF luar negeri, spot, dan DNDF) serta menjaga pertumbuhan uang primer (M0) lebih dari 10% (double digit).
– Perluasan Insentif Swap Lindung Nilai (Hedging): Memperluas insentif pengurangan premi Swap Jual Lindung Nilai sebesar 12,5% untuk pinjaman luar negeri bank dan Foreign Direct Investment (FDI) yang berlaku efektif mulai minggu kedua September 2026.
– Penguatan Kebijakan Makroprudensial:
Penerapan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial Pendalaman Pasar Uang (KLM PPU) efektif per 1 September 2026.
Kebijakan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) efektif per 1 Oktober 2026.
– Akselerasi Digitalisasi Sistem Pembayaran: Mendorong adopsi Kartu Kredit Indonesia (KKI), kesiapan perluasan MDR QRIS 0% (hingga nominal Rp100.000) per 1 Oktober 2026, serta penyelenggaraan FEKDI & IFSE 2026 pada 24–26 September 2026.
– Sinergi Kebijakan: Memperkuat koordinasi lintas instansi bersama Pemerintah, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dan pemangku kepentingan.

Indikator Makroekonomi & Sektor Keuangan Nasional
– Pertumbuhan Ekonomi: Ekonomi Indonesia triwulan II 2026 tumbuh kuat 5,29% (yoy), ditopang oleh konsumsi pemerintah—termasuk efektivitas program Makan Bergizi Gratis (MBG)—serta investasi. BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun 2026 berada pada kisaran 4,9–5,7%.
– Nilai Tukar & Cadangan Devisa: Per 18 Agustus 2026, Rupiah menguat ke posisi Rp17.855 per dolar AS (menguat 0,78% ptp dibanding akhir Juli 2026). Cadangan devisa akhir Juli 2026 tercatat aman sebesar 145,3 miliar dolar AS (setara 5,5 bulan impor).
– Laju Inflasi: Inflasi IHK Juli 2026 melambat ke level 2,88% (yoy), didukung inflasi inti yang stabil pada 2,76% (yoy) dan penurunan inflasi volatile food menjadi 2,52% (yoy) akibat panen raya hortikultura.
– Kinerja Intermediasi Perbankan: Penyaluran kredit perbankan Juli 2026 melonjak 13,58% (yoy), disokong insentif KLM BI yang telah teralokasi sebesar Rp446,5 triliun. Ketahanan perbankan tetap solid dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) di level 23,70% dan NPL neto sangat rendah sebesar 0,82%.
– Transaksi Digital & QRIS: Volume pembayaran digital Juli 2026 tumbuh 28,69% (yoy) mencapai 5,50 miliar transaksi. Transaksi QRIS meroket 82,42% (yoy), sementara pemanfaatan BI-FAST mencapai 546 juta transaksi (tumbuh 31,62% yoy dengan nilai Rp1.355 triliun).

Exit mobile version