Batamclick.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) terus mendorong penerapan ekonomi sirkular dalam pengelolaan uang Rupiah. Hingga saat ini, sebanyak 72 persen limbah racik uang kertas telah berhasil diolah menjadi produk bernilai tambah, dengan target mencapai 100 persen pengolahan sirkuler pada 2027.
Dalam penerapannya, BI bermitra dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mengolah racikan kertas uang menjadi barang souvenir dan cendera mata. Selain itu, BI juga bekerja sama dengan perusahaan pengolahan energi untuk memanfaatkan limbah racik uang sebagai bahan bakar tambahan sumber energi listrik maupun kebutuhan industri.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, menegaskan bahwa pengelolaan uang Rupiah kini dituntut untuk senantiasa memperhatikan keberlanjutan lingkungan (environmental sustainability).
“Pengelolaan Rupiah tidak berhenti saat uang sudah tidak layak edar. Pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana memusnahkannya, melainkan bagaimana memberikan nilai baru melalui pemanfaatan yang produktif,” tegas Ricky saat membuka rangkaian Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Berkat transformasi ramah lingkungan pada proses pencetakan, pengedaran, hingga pemusnahan uang Rupiah tersebut, inovasi pengelolaan uang Bank Indonesia berhasil meraih penghargaan internasional International Association of Currency Affairs (IACA) Award 2026.
Isu pengolahan limbah uang ramah lingkungan ini turut menjadi fokus utama dalam forum dialog internasional BRIDGE 2026 yang diselenggarakan BI di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Inisiatif BI sejalan dengan langkah berbagai bank sentral di kawasan regional yang juga terus berinovasi:
– Bank Negara Malaysia (BNM): Mengolah limbah racik uang kertas menjadi berbagai produk bernilai guna.
– Bank of Thailand (BoT): Memilih bahan kertas yang lebih tahan lama (durable paper) untuk memperpanjang masa edar uang, sekaligus memangkas kebutuhan cetak ulang uang rusak.
Forum dialog ekosistem uang tunai internasional tersebut dihadiri oleh perwakilan bank sentral dan otoritas moneter dari India, Malaysia, Thailand, Filipina, Papua Nugini, serta para pelaku industri uang tunai global.
