Novianto, dari Meja Redaksi ke Jalan-Jalan, Membawa Dunia Wisata Lebih Dekat

Novianto Travel Vlogger dari Batm
Novianto Travel Vlogger dari Batm

BATAMCLICK.COM: Ada orang yang bepergian untuk mencari pengalaman. Ada pula yang ingin membagikan pengalaman itu kepada orang lain. Novianto memilih keduanya. Melalui kamera dan tulisan, pria asal Tanjungpinang yang kini menetap di Batam itu mengajak orang melihat lebih dekat tempat-tempat yang mungkin selama ini hanya mereka kenal dari cerita.

Di dunia digital, ia dikenal sebagai Bos Anto. Nama itu melekat pada kanal YouTube Bos Anto Show, akun Instagram @Bosanto.batamclick, TikTok Batamclick.com, dan Facebook Bos Anto Batamclick. Di luar aktivitasnya sebagai kreator konten, Novianto juga bertanggung jawab atas konten artikel di media pers BatamClick.com.

Namun, kecintaannya pada perjalanan bukan tumbuh dari kegemaran membuat video pendek atau mengikuti tren media sosial. Jauh sebelum kamera menjadi teman perjalanannya, ia lebih dahulu mengenal dunia pariwisata dari balik buku catatan wartawan.

Sekitar 2003, ketika memulai karier jurnalistik di harian Posmetro, Novianto kerap mendapat tugas meliput peluncuran rute penerbangan, pembukaan jalur kapal cepat, hingga pengenalan destinasi wisata di dalam dan luar negeri. Pekerjaan itu membawanya berkenalan dengan dunia yang lebih luas daripada halaman-halaman berita yang setiap hari harus ia selesaikan.

Dari perjalanan-perjalanan tersebut, tumbuh ketertarikan yang bertahan hingga sekarang. Ia melihat pariwisata bukan semata urusan hotel, tiket pesawat, atau kapal yang membawa penumpang dari satu pulau ke pulau lain. Ada cerita tentang manusia, kebudayaan, makanan, bentang alam, dan kehidupan lokal yang menunggu untuk dikenali.

Membuka artefak kunci Ka’bah jaman dulu di Galleri Aura Islam Johor.

Sayangnya, pekerjaan sebagai wartawan koran harian dengan fokus pemberitaan perkotaan membuatnya tidak leluasa menulis perjalanan secara rutin. Ada berita yang harus dikejar, tenggat yang tidak bisa ditawar, dan peristiwa kota yang menuntut perhatian setiap hari. Kecintaannya pada pariwisata pun harus menunggu giliran.

Kini, ketika memiliki lebih banyak waktu untuk menekuni minat tersebut, Novianto kembali merawat dunia yang pernah membuatnya jatuh hati. Ia menggarap Travel Vlogger, menggabungkan pengalaman perjalanan, pengamatan, tulisan, dan video untuk memperkenalkan berbagai destinasi kepada khalayak yang lebih luas.

Menyisiri Selat Johor berbatasan dengan Singapura.

Perjalanannya tidak berhenti pada tempat-tempat yang sudah akrab di telinga wisatawan. Ia juga kerap diminta menulis tentang beragam destinasi di Johor, Malaysia. Topiknya beragam, mulai dari wisata belanja dan kuliner, hotel, pariwisata bahari, island hopping, hingga wisata medis di sejumlah rumah sakit terkemuka di wilayah tersebut.

Bagi Novianto, setiap destinasi memiliki daya tarik yang berbeda. Ada tempat yang memikat karena panorama alamnya, ada yang meninggalkan kesan melalui makanan khasnya, dan ada pula yang menarik karena pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung. Tugas seorang pencerita perjalanan, menurut semangat yang ia pegang, bukan sekadar menunjukkan tempat, melainkan membantu orang memahami mengapa tempat itu layak dikunjungi.

Ketertarikan tersebut juga berakar pada tontonan yang menemani perjalanan generasinya mengenal dunia wisata. Ia mengingat Bondan Winarno dengan ungkapan khasnya, “Pokoke Maknyus”, melalui program Wisata Kuliner di Trans TV. Program petualangan seperti My Trip My Adventure, Jejak Petualang, dan Jalan-Jalan turut memberinya inspirasi.

Tugu Kaltulistiwa di Daik, Lingga.

Tayangan-tayangan itu memperlihatkan bahwa perjalanan bisa menjadi hiburan sekaligus sumber pengetahuan. Penonton tidak hanya melihat pemandangan, tetapi juga mengenal kebiasaan masyarakat, mencicipi makanan yang belum pernah mereka temui, dan menyaksikan kehidupan di tempat yang jauh dari keseharian mereka.

Novianto ingin meneruskan semangat serupa melalui medium yang kini lebih dekat dengan masyarakat: internet dan media sosial. Kamera menjadi alat untuk merekam pengalaman, sedangkan tulisan memberinya ruang untuk menyampaikan hal-hal yang tidak selalu tertangkap gambar.

Ia ingin mengajak orang melihat lebih dekat, lebih dalam, keindahan destinasi wisata di berbagai penjuru dunia. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk pergi. Keterbatasan biaya, waktu, pekerjaan, maupun keadaan pribadi dapat membuat sebuah perjalanan hanya berhenti sebagai keinginan.

Di situlah ia menemukan alasan untuk terus membuat konten.

“Banyak orang tak berkesempatan untuk datang ke suatu daerah wisata karena satu dan lain hal, padahal ia ingin sekali ke sana. Semoga dengan menonton video saya, keinginannya untuk hadir di sana terkabul,” ujarnya.

Menyumpit

Kalimat itu menjelaskan bahwa bagi Novianto, perjalanan tidak selalu harus berakhir dengan koper yang kembali ke rumah dan foto yang tersimpan di telepon genggam. Sebuah perjalanan juga bisa berlangsung di ruang keluarga, di sela waktu istirahat, atau melalui layar kecil seseorang yang sedang membayangkan tempat yang ingin dikunjunginya suatu hari nanti.

Tentu, video tidak dapat sepenuhnya menggantikan pengalaman berdiri di tepi pantai, mencicipi makanan langsung dari dapurnya, atau menyusuri kampung yang kehidupan warganya bergerak dengan ritme berbeda. Namun, sebuah cerita yang disampaikan dengan baik dapat membuka pintu pertama: menumbuhkan rasa ingin tahu, memperkenalkan kebudayaan, dan membuat seseorang berani merencanakan perjalanan yang sebelumnya hanya menjadi angan-angan.

Dari meja redaksi hingga perjalanan wisata, Novianto membawa bekal yang sama: keinginan untuk bercerita. Bedanya, dahulu ia menuliskan peristiwa yang terjadi di sekitarnya untuk dibaca keesokan hari. Kini, ia merekam perjalanan agar orang lain dapat ikut melihat dunia yang ia temui.

Melalui Bos Anto Show dan berbagai kanal digitalnya, ia sedang menempuh perjalanan yang lebih panjang daripada sekadar berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain. Ia ingin menjadikan setiap perjalanan sebagai jembatan antara tempat yang belum dikenal dan orang-orang yang ingin mengenalnya.

Sebab, bagi mereka yang belum bisa berangkat, terkadang sebuah perjalanan dimulai bukan dari terminal, pelabuhan, atau bandara. Ia bermula dari rasa penasaran yang tumbuh setelah seseorang menyaksikan sebuah video, membaca sebuah cerita, lalu berkata dalam hati: suatu hari nanti, saya ingin berada di sana.(bos)

Exit mobile version