Berpengaruh, Ramon Damora Terima Anugerah Jembia Emas 2020

Yayasan Jembia Emas, kembali memberikan anugerah bagi sastrawan Kepulauan Riau uang dianggap paling aktif berkarya dan karya-karyanya berpengaruh di tengah-tengah masyarakat.

Ada 10 nominasi yang masuk dalam daftar calon penerima anugerah paling bergengsi di dunia seniman Kepri itu.

Namun kesepakatan juri yang terdiri dari Rida K Liamsi, Abdul Malik dan Husnizar Hood telah menjatuhkan pilihan pada Ramon Damora.

Seperti pengumuman yang dikeluarkan oleh dewan juri, Ramon dinobatkan sebagai penerima Anugerah Jembia Emas dinilai dari aspek ketunakan, karya, prestasi dan pengaruh.

PENGUMUMAN DEWAN JURI

Pengumuman tentang Penerima Anugerah Jembia Emas 2020

Dewan juri Anugerah Jembia Emas 2020 yang terdiri dari : Rida K Liamsi ( Ketua), Datuk Abdul Malik ( anggota ) dan Husnizar Hood ( anggota ) telah menilai kelayakan sepuluh ( 10 ) nominee calon penerima Anugerah Jembia Emas 2020, dari asfek Ketunakan, Karya, Prestasi dan Pengaruh, telah sepakat menetapkan: Ramon Damora , sastrawan, sebagai penerima Anugerah Jembua Emas 2020. Anugerah akan diserahkan pada acara prosesi Anugerah Jembia Emas 2020, tanggal 24 September 2020 malam bersamaan dengan pembukaan acara Festival Sastera Internasional Gunung Bintan ( FSIGB ) 2020 di halaman Gedung Daerah Tanjungpinang dan akan diserahkan oleh YB Gubernur Kepulauan Riau H Isdianto.

Demikian untuk dimaklumi

Tanjungpinang, 15 September 2020

Dewan juri
Rida J Liamsi
Abdul Malik
Husnizar Hood

Anugerah untu Semua Seniman di Kepri

Sementara itu, Ramon Damora mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya pada masyarakat Kepri, terlebih para seniman dan Dewan Juri Anugerah Jembia Emas 2020.

“Masyaallah Tabarakallah. Alhamdulillah segala puji syukur kepada Sang Khalik. Penghargaan ini adalah penghargaan untuk semua seniman/sastrawan/budayawan Kepulauan Riau,” ungkap Pembina dan Pengarah Batamclick.com itu.

Ramon berharap, anugerah ini dapat mejadi pelecut bahinya, dalam berkarya, agar mampu lebih baik lagi.

“Terimakasih Datok Seri Lela Rida K Liamsi dan majelis Dewan Juri (Datok Malik, Datok Kapitan Husnizar). Terimakasih Jembia, setinggi-tingginya sedalam-dalamnya. Kiranya penghargaan ini menjadi pelecut bagi saya untuk bekarya lebih baik lagi,” jelas Ketua PWI Kepri priode 2008-2018 itu.

“Terimakasih doa dan elu-eluan Tuan-Puan. Tuhan jua yang pantas membalas segala budi bahasa. Ars Longa Vita Brevis. Tabik!” tutupnya.

Biografi Ramon Damora

RAMON DAMORA. Lahir di Muara Mahat, Riau, 2 April 1978. Menempuh pendidikan S1 lewat jalur mahasiswa undangan di Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri (kini UIN) Sultan Syarif Qasim, Pekanbaru.

Mulai menulis puisi sejak duduk di bangku SMA, tepatnya di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Koto Baru, Padang Panjang, Sumatera Barat. Sebuah lembaga pendidikan semi-pesantren dengan seleksi ketat kurikulum penguasaan Bahasa Arab, Bahasa Inggris, serta Kitab Kuning, yang didirikan Departemen Agama Pusat. Di kelas 3 MAPK, puisinya berjudul ‘Bulan Juni di Sebuah Perang di Teluk Ketapang’ memenangi juara 2 lomba cipta puisi Raja Haji Fisabilillah yang digelar Dewan Kesenian Riau tahun 1995/1996.

BACA JUGA:   Real Madrid Menang Terus kalau Sergio Ramos Cetak Gol Penalti

Di kampus Ramon semakin tunak berkecimpung di dunia sastra, jurnalistik, dan teater. Tahun 1997, bersama GP Ade Dharmawi, Wahyu Kurniawan, Heri Budiman, Zulfan Amrin, Kunni Masrohanti, dll, mendirikan Teater Latah Tuah sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa yang bergerak di bidang seni teater, puisi, musik, dan tari. Di luar kampus, ia juga aktif di Bengkel Teater Pekanbaru bersama Bero Soekarno dan Muparsaulian. Terlibat dalam banyak naskah drama yang dipentaskan di Pekanbaru, Padang, Lampung, Jakarta, dan Yogyakarta.

Sastra, terutama puisi, menjadi minat yang sangat ditekuninya. Sajak-sajaknya tersebar di media massa lokal dan nasional, juga terhimpun di lebih dari 20 antologi puisi berbahasa Indonesia, Inggris, dan Perancis, di antaranya Matahari Cinta Samudera Kata (Editor: Rida K Liamsi, 2016), Yang Datang Setelah Chairil (Editor: Sutardji Calzoum Bachri, 2016), Peradaban Baru Corona 99 Puisi Wartawan-Penyair Indonesia (Editor: Remy Silado, 2020), dll.

Dua puisinya yang berjudul ‘Nude’ (Nota untuk Desember) dan ‘Gurindam Setengah Mayam’ dimuat di halaman Bentara, Kompas, edisi Jum’at 4 Juli 2003 dan tercatat sebagai puisi dari penyair Kepulauan Riau pertama yang dimuat di Kompas sejak surat kabar nasional tersebut mulai membuka rubrik puisinya (kala itu masih bernama ‘Bentara’). Sejak itu, sajak-sajaknya secara rutin tayang di media-media nasional seperti Kompas, Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, dll.

Tahun 2008, Yayasan Sagang memberi laluan kepada Ramon untuk menerbitkan buku kumpulan puisi pertamanya, Bulu Mata Susu. Rencana penerbitan buku puisi pertamanya ini disambut antusias oleh sejumlah sastrawan. Penyair Sitok Srengenge memberikan catatan pengantar yang sangat panjang di buku itu. Dan novelis Eka Kurniawan melukis tangan secara khusus untuk ilustrasi sampulnya. Setahun setelah Bulu Mata Susu terbit, Ramon Damora diundang sebagai peserta Festival Utan Kayu Litterary Biennale 2009 di Komunitas Salihara, Jakarta, bersama, di antaranya, Sandra Thibodeaux (Australia), Vanni Bianconi (Swiss), Moon Chung Hee (Korea Selatan), Alfred Schaffer (Belanda), Dacia Maraini (Italia), dan Triyanto Triwikromo, Gus tf Sakai, Ahda Imran, M Aan Mansyur, Leila S Chudori, dll (Indonesia). Di Utan Kayu Litterary Biennale Festivale 2009, puisi-puisi Ramon Damora diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan termaktub dalam antologi dwi-bahasa ‘Traversing/Merandai’ (Salihara, 2009). Di tahun yang sama, Anugerah Pena Kencana memilih puisi-puisinya untuk antologi ’60 Puisi Indonesia Terbaik 2009′ (Gramedia, 2009).

BACA JUGA:   Pabrik Aspal Karet Muba salah satu Kontribusi Nyata Pulihkan Ekonomi Nasional di Masa Pandemi

Tahun 2011, sajak-sajak pendeknya bertema cinta dimuat dalam antologi ‘Cinta, Kenangan, dan Hal-hal yang Tak Selesai’ (Gramedia, 2011). Antologi ini memuat puisi-puisi cinta yang pendek, kurang dari 200 karakter, yang dipublikasikan di medium mikroblog Twitter pada akun @sajak_cinta. Selain Ramon, buku antologi ‘Cinta, Kenangan…’ juga memuat penggalan sajak-sajak cinta musisi Anji, artis Olga Lidya, sastrawan Agus Noor, Warih Wisatsana, Gunawan Maryanto Hasan Aspahani, dll.

Adalah INALCO (Institut  National Des Langues Et Civilisations Orientales), Paris, Perancis, salah satu kampus tertua di dunia (berdiri sejak era Revolusi Perancis) yang mempelajari Bahasa-bahasa Timur (Arab, Turki, Parsi, Melayu). Secara berkala, setiap dua tahun sekali, INALCO membuka kesempatan bagi para sastrawan penutur Bahasa Timur asli untuk mengajar di tempat mereka. Tahun 2015, proposal ‘Puisi Soneta dari Melayu’ Ramon Damora lolos dan diterima oleh Ketua Jurusan Bahasa Melayu INALCO, Dr Etienne Naveau. Bersama sastrawan Fachrunnas MA Jabbar, Ramon diundang mengajar kelas Bahasa Melayu dan membacakan puisi-puisi sonetanya di kampus INALCO selama hampir satu bulan pada sebuah penghujung musim semi. Eksperimen Ramon pada puisi-puisi bergaya soneta menarik perhatian Dr Naveau. Tahun 2016, bersama sejumlah pengamat sastra Melayu asal Perancis yang tergabung dalam Association Franco-Indonessienne Pasar Malam, Etienne membuat proyek antologi ‘Florilege Plus de 120 Sonnets Indonesiens de Muhammad Yamin a Sapardi Djoko Damono’ (Florilege dan 120 Soneta Indonesia dari Muhammad Yamin ke Sapardi Djoko Damono). Dua puisi soneta Ramon Damora, Soneta Anai-anai dan Soneta bagi Pelukis Monet, termaktub dalam antologi tersebut dalam terjemahan Perancis: Sonnet de la termite dan Sonnet-Monet.

Tahun 2015, Ramon ditunjuk oleh Datuk Rida K Liamsi sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Jembia, sekaligus mengelola untuk pertama kalinya suplemen 8 halaman ‘Jembia’ di Harian Batam Pos setiap edisi Ahad. Sungguh sebuah pekerjaan yang sunyi dan menggairahkan. Sunyi karena atmosfer berkesusatraan di Kepri kala itu sepi kreativitas, miskin karya, baik dari sastrawan yang lebih dulu berkarya apalagi dari generasi muda. Menggairahkan karena di situ justru tantangannya. Penghujung September 2015, suplemen Jembia menggebrak pertama kali dengan lay-out 8 halaman yang sangat segar, modern, kaya rubrikasi, di antaranya rubrik ‘Hari Puisi’ untuk karya-karya puisi, ‘Niskala’ untuk cerita pendek, ‘Perada’ untuk artikel seni dan esai, ‘Warkah/Markah’ untuk berita singkat spotlight iven-iven sastra, serta terobosan baru literasi dalam rubrikasi ‘Cindai’ yang memakai narasi bercerita ‘aku dan kau’ untuk kaum perempuan yang ditampilkan stylish, fashionable, dengan buku-buku sastra favoritnya.

BACA JUGA:   Kemnaker Ajak ASEAN Kuatkan Kerja Sama Atasi Krisis Ketenagakerjaan

Dengan cepat Jembia menarik perhatian para pencinta sastra tanah air. Naskah-naskah membanjir setiap bulannya, namun tetap tak mudah memancing karya-karya dari sastrawan Kepri. Dengan intens ia hubungi satu per satu sejumlah sastrawan Kepri untuk bersedia mengirimkan karya-karya terbarunya. Sementara di kalangan generasi muda yang rata-rata tidak percaya diri, ia pantau diam-diam akun media sosial mereka, mengintip satu demi satu karya-karya yang ‘hanya’ berani mereka tayangkan di sana, lalu memungutnya diam-diam untuk menayangkannya di beberapa edisi secara kolektif. Cara terakhir ini terbukti sangat efektif. Kelak Jembia berbangga hati bisa menemukan dan melahirkan nama-nama baru generasi muda sastrawan Kepri seperti Yoan S Nugraha, Rendra Setyadiharja, Al Mukhlis, Irwanto, Harfan MK a.k.a Rudi Rendra, M Febriyadi, Barozi Alaika, Sri Ruwanti, Sudirman el-Batamy, Romo RD Paschal, Nofriadi Putra, L Fara Cece Lucina, Medri Oesnoe, SM Bagaskara, dll. Dengan bimbingan Datuk Rida K Liamsi, Ramon Damora berhasil menancapkan tiang pancang pondasi Jembia sebagai kiblat laman kreativitas berkesenian yang tangguh.

Tahun 2017, Ramon Damora menerbitkan buku puisi keduanya ‘Benang Bekas Sungai’ yang terpilih sebagai 15 Besar Sayembara Buku Puisi Hari Puisi Indonesia 2017 dari 269 buku puisi yang masuk. Di luar buku puisi, Ramon juga menulis dan mengeditori sejumlah buku-buku jurnalistik, di antaranya ‘Membaca Sani’ (Akar Indonesia, 2013), ‘Kamus Kalbu’ (Kumpulan Kolom Bahasa Ramon Damora, PWI Pusat, 2015). Ramon memulai karir jurnalistiknya sejak tahun 2000. Hampir 20 tahun mengabdi di jurnalistik, ia tercatat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kepri 2 Periode. Ia juga merupakan jurnalis asal Kepri yang mendapatkan lisensi dari Dewan Pers dan PWI Pusat sebagai Asesor/Penguji UKW (Uji Kompetensi Wartawan) dengan jam terbang menguji sertifikasi wartawan di Kepri, Riau, Lampung, Sumatera Utara, Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. Sekarang ia dipercaya sebagai Ketua Departemen Budaya PWI Pusat, dan Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan, dan Literasi Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Pusat.

Bersama istri dan dua orang anak, ia menetap di Batam sambil menjalankan hobi baru: bisnis networking, menulis lagu, cerita pendek, traveling keliling dunia, menunggangi Harley Davidson.