Kemenhub Antisipasi Bencana Hidrometeorologi di Bandara & Pelabuhan

BATAMCLICK.COM, Kementerian Perhubungan melakukan upaya antisipasi menghadapi bencana hidrometeorologi setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi akan ada peningkatan curah hujan pada bulan depan.

BMKG memprediksi fenomena La Nina akan menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia. Diperkirakan curah hujan akan naik 20-40 persen di atas normal.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan upaya mengantisipasi bencana hidrometeorologi ini juga dilakukan untuk menindaklanjuti arahan Presiden. Adapun langkah antisipasi yang dilakukan, khususnya di sektor perhubungan udara dan laut.

“Kami meminta seluruh penyelenggara sarana dan prasarana transportasi dan stakeholder terkait lainnya untuk melakukan upaya antisipasi dan penanganan tanggap darurat,” ujar Budi dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10/2020).

BACA JUGA:   Ramalan Zodiak 30 Oktober 2020: Cancer Berantem Hebat, Asmara Rawan Kandas

Di sektor udara, Kemenhub telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 47 tahun 2020 tentang Kegiatan Penerbangan pada kondisi weather minima, yakni suatu kondisi visibilitas atau jarak pandang yang terbatas karena faktor cuaca. SE ini ditujukan untuk penyelenggara angkutan udara, navigasi penerbangan, dan pelayanan informasi meteorologi penerbangan.

SE ini menginstruksikan pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan antisipasi jika terjadi kondisi weather minima sesuai SOP, seperti informasi perubahan cuaca, instruksi kepada pilot, memastikan keandalan dan akurasi peralatan navigasi penerbangan, mengukur visibility runaway, dan sebagainya.

BACA JUGA:   Selamat, Paula Verhoeven Istri Baim Wong Hamil Anak Kedua

Upaya antisipasi telah dilakukan di 15 bandara yang berlokasi di daerah rawan tsunami, seperti Bandara Binaka Gunung Sitoli, Minangkabau, Ngurah Rai, Balikpapan, Mamuju, Luwuk, Ende, Maumere, Melonguane, Ternate, Weda, Buli, Ambon, Manokwari, dan Biak.

Di sektor laut, Budi telah menginstruksikan jajaran Ditjen Perhubungan Laut, yakni Direktorat Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP) dan Kenavigasian, distrik navigasi, kantor kesyahbandaran, dan otoritas pelabuhan seluruh Indonesia untuk melakukan upaya antisipasi.

Langkah antisipasi yang dilakukan antara lain menerbitkan maklumat pelayaran jika terjadi cuaca buruk dan gelombang tinggi, mengoptimalkan tim respons cepat Ditjen Perhubungan Laut terkait kesiapsiagaan tanggap darurat, mengoptimalkan sarana bantu navigasi pelayaran dan telekomunikasi pelayaran melalui vessel traffic system (VTS), berkoordinasi dengan Basarnas, dan menyiagakan kapal patroli.

BACA JUGA:   Warganet Marah, Penagih Hutang Minta Baik-baik Malah Dihina Miskin

Kemenhub melalui Ditjen Perhubungan Laut juga melakukan integrasi sistem sensor penerima peringatan atau sensor warning receiver system new generation yang dipasang di VTS pada pelabuhan-pelabuhan rawan tsunami.

Penempatan alat penerima peringatan ini dipasang di beberapa pelabuhan seperti Bakauheni, Bali, Ambon, Teluk Bayur, dan Marine Command Center (MCC) yang berada di kantor Pusat Kemenhub, Jakarta. (mat)

sumber: detik.com