Anda Harus Tahu! Peran Immunomodulator di Era New Normal

BATAMCLICK.COM, Meningkatkan daya tahan adalah pertahanan tubuh yang amat krusial di saat pandemi, mengingat angka kepositifan virus terus meningkat di era new normal di mana artinya virus bermutasi makin banyak.

Dr. Budhi Antariksa Ph.(D), Sp.P(K) dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI dan RS Persahabatan mengatakan, belum diketahui sampai kapan virus akan berakhir, begitu juga dengan penemuan vaksin. Maka, suplemen seperti immunomodulator dan multivitamin amat diperlukan.

“Tidak semua virus RNA itu bisa dibuatkan vaksinnya. Contoh, HIV dan Hepatitis C. Ada beberapa virus memang tidak ada vaksinnya. Dan kebetulan, corona itu masuk virus RNA, jadi belum tentu bisa dibentuk vaksinnya. Semoga sih bisa. Tapi, sampai sekarang belum ada buktinya,” kata Dr. Budhi dalam sebuah diskusi online yang diadakan IMBOOST, belum lama ini.

DR. (Cand) dr. Inggrid Tania, M.Si menambahkan, tubuh memerlukan tambahan suplemen dari luar, salah satunya suplemen immunomodulator. Zat ini memengaruhi sistem imun, di mana sistem tubuh diaktivasi dan dimodulasi.

“Di masa new normal justru perlu mengonsumsi suplemen immunomodulator. Walaupun new normal, kita tetap beraktivitas, tingkat stres tinggi baik stres fisik maupun stres mental. Ketika berada di luar rumah, maka kita semakin tidak terlindungi sehingga potensi tertular COVID-19 juga tinggi,” papar Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) itu.

Dr. Inggrid melanjutkan, immunomodulator bisa didapat dari subtansi natural ataupun sitentik. Untuk perlindungan imun yang maksimal, perlu mengonsumsi keduanya, baik immunomodulator natural contohnya echinacea maupun yang sitentik.

“Contoh yang sitentik itu misalnya vitamin C, vitamin D. Kemudian, yang dari bahan natural, tentu saja akan lebih bagus karena lebih baik diterima oleh tubuh. Sehingga, kita berharap lebih mudah diabsorpsi,” katanya.

Konsumsi suplemen immunomodulator menjadi penting, sebab saat PSBB diperlonggar, banyak orang beraktivitas, termasuk Orang Tanpa Gejala (OTG). Walau tanpa gejala, tetap saja OTG memiliki potensi untuk menularkan orang di sekitar, terutama yang daya tahannya lemah. Terkadang gejalanya tidak ringan atau bisa sedang hingga berat.

“Justru saat ini yang mengkhawatirkan itu OTG. Di sinilah pentingnya menjaga daya tahan secara optimal di samping menerapkan protokol kesehatan,” imbuh dr. Inggrid.

Immunomodulator yang bersifat immuno stimulan kuat atau imun booster kuat, bisa dikonsumsi setiap hari antara 8-16 minggu.

“Biasanya jeda dua minggu sudah cukup, setelah itu konsumsi kembali. Hal ini untuk menghindari kemungkinan timbulnya efek samping, seperti imuno supresan dan sebagainya, meski belum ada bukti kuat,” ujar dr. Inggrid.

Sementara itu VP Research & Development and Regulatory SOHO Global Health DR. Raphael Aswin Susilowidodo, M.Si mengatakan, immunomodulator yang baik mengandung ekstrak echinacea pupurea dan zinc picolinate. Kandungan ekstrak echinacea purpurea telah terbukti secara klinis dapat memodulasi atau mengatur sistem daya tahan tubuh sekaligus mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Sementara zinc picolinate berperanan aktif dan bekerja sinergis pada sistem imun tubuh. (Mat)

Sumber: SINDOnews.com