Banyak Area Gundul, Amazon Kini Justru Jadi Sarang Karbon Dioksida

BATAMCLICK.COM : Baru-baru ini, para ahli mengklaim bahwa seperlima hutan hujan Amazon justru mengeluarkan lebih banyak karbon dioksida atau C02 daripada yang diserapnya. Menurut peneliti, penyebab Amazon jadi ‘sarang CO2’ ini tidak lain disebabkan oleh deforestasi.

Dilansir dari BBC pada Rabu (12/2), hasil penelitian teranyar ini menyebutkan sekitar 20 persen dari total area Amazon telah menjadi sumber bersih karbon dioksida di atmosfer. Tidak hanya itu, terungkap pula bagaimana jumlah karbon dioksida yang dilepas bagian gundul Amazon justru berbanding terbalik dengan yang diserapnya.

Berdasarkan keterangan para ahli, pohon yang mati melepaskan lebih banyak CO2 daripada jumlah karbon dioksida yang diserap oleh pohon yang tumbuh di area deforestasi.

Penemuan Amazon sebagai sarang CO2 ini diungkap oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh Prof. Luciana Gatti, seorang peneliti di Institut Nasional Penelitian Antariksa Brasil (INPE). Untuk mengukur gas rumah kaca, Gatti dan tim menggunakan teknik dengan cara menerbangkan pesawat yang dilengkapi dengan sensor di berbagai bagian lembah Amazon.

BACA JUGA:   Mensos RI Sapa Warga Natuna Serahkan Sembako

Dalam laporannya, Gatti dan timnya mengklaim telah melakukan teknik tersebut setidaknya setiap dua minggu selama 10 tahun terakhir ini.

Setelah satu dekade terbang di atas Amazon, mereka memperoleh kejelasan bahwa bagian hutan yang gundul telah kehilangan kapasitasnya untuk menyerap karbon dioksida. Hasil ini juga tidak terlepas dari fakta bahwa jutaan pohon hilang karena penebangan dan kebakaran dalam beberapa tahun terakhir ini.

Tidak hanya itu, menurut Gatti, kapasitas untuk menangkap karbon dioksida bahkan sudah tidak terpengaruh oleh tahun-tahun yang basah.

BACA JUGA:   Update Corona Batam (22/9) 67 Orang Terkonfirmasi Positif Corona

“Setiap tahun (justru jadi) lebih buruk. Kami mengamati bahwa daerah di tenggara merupakan sumber karbon yang penting. Dan tidak masalah apakah itu tahun basah atau tahun kering. 2017-18 adalah tahun basah, tetapi tidak menghasilkan perbedaan,” ujar Gatti.

Meski hasil penelitian ini belum resmi dipublikasikan, tetapi studi ini digadang-gadang mempunyai implikasi besar terhadap strategi untuk memerangi perubahan iklim.

Dengan penemuan ini, para peneliti pun mengubah persepsi di mana Amazon yang dulunya berperan sebagai penyimpan karbon, kini, justru mungkin berubah menjadi sumber karbon.

Menanggapi temuan ini, ilmuwan iklim Brasil, Carlos Nobre, menyebutkan bahwa pengamatan Gatti tersebut sudah sangat mengkhawatirkan. Dalam keterangannya, Nobre pun menjelaskan bahwa hasil penelitian Gatti tersebut justru bisa menunjukkan awal dari titik kritis utama.

BACA JUGA:   Pajak Mobil 0% Efektif Dongkrak Daya Beli Masyarakat?

Nobre mengamini, temuan baru ini menunjukkan bahwa dalam 30 tahun ke depan, lebih dari setengah Amazon dapat berubah dari hutan hujan menjadi sabana.

“(Amazon) dulu, saat tahun 1980-an hingga 90-an, merupakan penyerap karbon yang sangat kuat, mungkin mengekstraksi dua miliar ton karbon dioksida per tahun dari atmosfer. Hari ini, kekuatan itu mungkin sudah berkurang menjadi 1-1,2 miliar ton karbon dioksida per tahun,” ucap Nobre.

“Dalam perhitungan kami, jika deforestasi sudah melebihi 20-25 persen, serta pemanasan global terus berlanjut dengan skenario emisi tinggi, maka titik kritis akan tercapai,” lanjut Nobre. []


Sumber : akurat.co