Demotivasi, Pandemi, dan New Normal, Apa yang Mesti Dilakukan?

BATAMCLICK.COM, “Duh, demot banget, nih. Aku kenapa, ya?”

Merasa kehilangan motivasi, demot, atau demotivasi di tengah pandemi ini mungkin beberapa kali kita alami. Pertanyaannya, apakah ini hal yang wajar?

Melansir dari CNBC, Lynn Bufka, seorang psikolog klinis dan direktur senior di American Psychological Association, mengatakan bahwa merasa cemas dan kehilangan motivasi di tengah pandemi ini adalah hal yang sangat wajar. 

Lynn Bufka menerangkan bahwa setiap orang punya cara yang berbeda dalam menghadapi situasi wabah COVID-19.

Ada orang yang justru bisa fokus pada segala tugas selama periode belajar atau bekerja di rumah, tapi ada juga yang merasa jadi gak punya kendali atas apa yang terjadi. Gak ada yang salah dengan keduanya.

Walau begitu, perlu diingat bahwa pandemi gak bikin Bumi berhenti berputar. Indonesia kini memasuki masa norma baru, yaitu boleh beraktivitas di luar, tapi dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat.

BACA JUGA:   Yeo Jin Goo Rayakan Ulang Tahun ke-23, di Mana Ya?

Dalih demotivasi gara-gara rasa cemas yang menghantui di tengah pandemi gak bisa jadi alasan untuk gak menyelesaikan tugas kuliah atau kerjaan kita. Jadi, kalau kita masih merasa demot terus, kita harus gimana? 

1. SADARI, TERIMA, DAN AKUI YANG KAMU RASAKAN

Hal ini memang gak gampang. Sering kita menyangkal apa yang lagi kita rasakan, salah satunya mungkin karena kita takut menghadapi kenyataan bahwa kita gak sekuat yang kita bayangkan. Walau begitu, mempraktikkan tiga hal di atas sangat penting supaya kita bisa makin mengenal diri kita sendiri dan mengidentifikasi apa yang sekiranya perlu kita lakukan untuk menghadapi perasaan itu.

BACA JUGA:   163 Daerah Zona Kuning Bisa Sekolah Tatap Muka

2. BERAKSI

Penting untuk diingat bahwa sering kali kita terjebak dengan perasaan kita sendiri. Kita malah sekadar berandai-andai tentang apa yang bisa kita lakukan untuk menghalau perasaan negatif yang kita rasakan.

Misalnya, si A menyadari bahwa ia hilang semangat karena perasaan cemas gara-gara menonton berita kematian korban COVID-19 yang bertubi-tubi. Langkah lanjutan yang seharusnya dilakukan si A adalah memahami bahayanya virus ini, dan melakukan pencegahan semaksimal mungkin. Intinya, beraksilah, bukan sekadar memikirkannya saja yang akhirnya membuat emosi jadi tak stabil.

3. EVALUASI

Kalau udah beraksi, selesai dong? Oh, tentu tidak. Pikiran kayak gini yang bikin kita kesulitan menciptakan rutinitas penghalau demotivasi dan justru hanya melakukannya sekali. Luangkan waktu sejenak untuk merenungkan dampak apa yang kita rasakan setelah beraksi tadi. Kalau positif, tingkah lakunya bisa kita pertahankan atau coba terus berkali-kali. Kalau negatif, kita perlu kembali ke langkah pertama. Jangan-jangan kita salah mengidentifikasi perasaan kita lagi!

BACA JUGA:   Hampir Bangkrut, Restoran Kari Tertua di London Mampu Bertahan Karena Netizen

Ketiga langkah penghalau demotivasi di atas memang gak semudah itu dilakukan. Judulnya aja demotivasi, gimana bisa bangkitin dorongan untuk beraksi? Maka dari itu, langkah pertama sangat krusial untuk memulai serangkaian kegiatan ini.

Ingat, ya, meski kehilangan motivasi adalah hal yang wajar di tengah pandemi, bukan berarti kamu bisa terus bersembunyi di balik alasan itu terus. Kalau biasanya ada New Year, New Me, coba sekarang kamu praktikkan New Normal, New Me! (Mat)

Sumber: SINDOnews.com