Batamclick.com,
Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tumbuh sebesar 7,52 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan III 2026, tertinggi di wilayah Sumatra, ditopang oleh kinerja industri pengolahan dan konstruksi.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri Rony Widijarto mengatakan pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan triwulan II 2026 yang sebesar 6,99 persen (yoy).
“Capaian Kepri melampaui pertumbuhan ekonomi Sumatra sebesar 4,95 persen dan nasional sebesar 5,47 persen. Ini menjadikan pertumbuhan ekonomi Kepri tertinggi di wilayah Sumatra pada triwulan III tahun 2026,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima di Batam, Kepri, Minggu.
Secara kumulatif hingga triwulan III 2026, ekonomi Kepri tumbuh 7,19 persen (cumulative-to-cumulative/ctc), lebih tinggi dibandingkan Sumatra sebesar 5,04 persen dan nasional 5,45 persen.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan mencatat pertumbuhan 7,79 persen dengan kontribusi sebesar 3,18 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Kepri.
“Kinerja sektor tersebut mengalami akselerasi seiring penguatan aktivitas manufaktur, termasuk industri elektronik yang menjadi salah satu sektor unggulan daerah,” katanya.
Penguatan industri pengolahan juga tercermin dari ekspor nonmigas Kepri yang tumbuh 9,56 persen (yoy) pada triwulan III 2026, berbalik dari kontraksi 0,88 persen pada triwulan sebelumnya.
“Sektor konstruksi juga tumbuh 6,61 persen dengan kontribusi 1,25 persen, sejalan dengan berlanjutnya pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), kawasan industri, serta sejumlah proyek pusat data (data center) di Batam,” katanya.
Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 6,26 persen dengan kontribusi 0,73 persen.
Perdagangan besar dan eceran tumbuh 7,99 persen dengan kontribusi 0,66 persen. Meski tetap tumbuh positif, kedua sektor tersebut mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya.
Dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) masih menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 5,65 persen (yoy) dan kontribusi 2,38 persen.
“Angka tersebut lambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 24,08 persen, tetapi tetap mencerminkan aktivitas investasi dan pembangunan proyek strategis yang berlanjut di Kepri, termasuk kawasan industri dan pusat data,” katanya.
Ke depan, BI Kepri akan memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran bersama pemerintah untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
BI Kepri bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga melanjutkan pengendalian inflasi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), dengan strategi 4K yang mencakup keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif.
Sumber, Antara
