Masuk Kebun Naik Kereta Drum, Lalu Petik Buah, Sensasi Wisata di Atuk Janis Tangkak

Kebun Buah Atuk Janis di Tangkak, Johor, Malaysia, menawarkan pengalaman memetik jambu dan nanas langsung dari kebun. Pengunjung juga bisa menikmati kereta gandeng, aktivitas edukasi, team building hingga lokasi resepsi. Pekan lalu, Batamclick berkesempatan mengunjungi kebun ini bersama Tourism Johor, Gaya Travel serta sejumlah pegiat media sosial Malaysia dan Indonesia.
Kebun Buah Atuk Janis di Tangkak, Johor, Malaysia, menawarkan pengalaman memetik jambu dan nanas langsung dari kebun. Pengunjung juga bisa menikmati kereta gandeng, aktivitas edukasi, team building hingga lokasi resepsi. Pekan lalu, Batamclick berkesempatan mengunjungi kebun ini bersama Tourism Johor, Gaya Travel serta sejumlah pegiat media sosial Malaysia dan Indonesia.

BATAMCLICK.COM: Kebun Buah Atuk Janis di Tangkak, Johor, Malaysia, menawarkan pengalaman wisata yang berbeda. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat tanaman, tetapi bisa langsung masuk ke kebun, berkeliling, hingga memetik buah yang sudah matang.

Kebun seluas sekitar 4 hektare itu dikelola Atuk Janis bersama keluarganya. Berbagai tanaman tumbuh di sana, terutama jambu dan nanas madu.

Dahulu, lahan tersebut merupakan kebun sayur. Atuk Janis mengelola lahan yang jauh lebih luas untuk tanaman sayuran sebelum kemudian melihat peluang dari budidaya buah.

Jambu menjadi salah satu pilihannya.

Perlahan, kebun itu berubah. Barisan tanaman jambu mulai memenuhi lahan. Buah yang dipanen kemudian dijual kepada masyarakat dan dipasok ke sejumlah pasar raya atau supermarket.

Permintaan bahkan kerap lebih besar daripada hasil panen.

“Buahnya tak cukup dekat pasar raya. Sebabnya tak cukup. Dekat sini pun orang sudah datang. Orang datang bawa lori,” kata Atuk Janis.

Jambu Tak Bisa Ditinggal Begitu Saja

Atuk Janis pemilik kebun

Menanam jambu bukan sekadar menunggu buah muncul dari ranting.

Atuk Janis harus memastikan tanaman tetap produktif. Ia rutin memangkas cabang dan tunas yang tumbuh agar pohon tidak terlalu tinggi dan tetap menghasilkan buah.

Setelah bunga muncul, pekerjaan lain menunggu.

Buah jambu yang mulai membesar harus dibungkus satu per satu. Cara itu dilakukan untuk melindungi buah dari hama sekaligus menjaga kulitnya tetap mulus.

“Kalau tak bungkus, tak jadi. Kalau tak bungkus, tak ada buah,” ujarnya.

Pekerjaan itu dilakukan setiap hari. Lima pekerja perempuan ikut merawat kebun, mulai dari membersihkan area, memeriksa tanaman hingga membungkus buah.

Begitu satu buah selesai dibungkus, mereka kembali memeriksa bunga dan bakal buah lainnya.

Siklus itu terus berjalan.

Lalat Buah Jadi Ancaman

Jambu harus dibungkus agar terhindar dari hama.

Musuh utama kebun jambu Atuk Janis adalah lalat buah.

Hama ini bisa merusak buah sebelum masuk masa panen. Karena itu, penyemprotan dilakukan secara berkala, sekitar 10 hingga 12 hari sekali.

Namun, perawatan tersebut bukan berarti membuat seluruh buah bebas dari kerusakan.

Menurut Atuk Janis, kerusakan tetap bisa terjadi. Penyemprotan hanya dilakukan untuk menekan jumlah buah yang rusak.

“Kalau 100 persen memang payah jambu,” katanya.

Dengan perawatan tersebut, kebun itu dapat menghasilkan sekitar 10 ribu hingga 11 ribu buah jambu dalam sebulan ketika produksi berjalan baik.

Hasil panen kemudian masuk ke pasar dan sebagian lainnya dibeli langsung oleh pengunjung.

Pengunjung Bisa Petik Buah Sendiri

Yang membuat kebun ini menarik bukan hanya hasil panennya.

Atuk Janis membuka kebunnya untuk wisatawan.

Pengunjung bisa melihat tanaman dari dekat dan merasakan langsung pengalaman memetik jambu serta nanas madu yang sudah layak dikonsumsi.

Ada pula cara lain untuk menikmati suasana kebun.

Pengunjung bisa berkeliling menggunakan kereta gandeng sederhana yang dibuat dari drum yang dibelah dan disusun hingga lima gandengan. Kereta itu kemudian ditarik menggunakan ATV atau sepeda motor roda empat.

Kendaraan sederhana tersebut membawa pengunjung menyusuri area kebun.

Setelah berkeliling, wisatawan bisa turun dan memilih buah yang ingin dipetik.

Pengalaman seperti itu membuat kebun tidak sekadar menjadi tempat produksi buah. Pengunjung juga bisa melihat bagaimana tanaman dirawat hingga buah siap dipanen.

Bukan Sekadar Tempat Wisata

Serunya Naik Kereta Drum Gandeng.

Kebun Atuk Janis juga dikembangkan untuk berbagai kegiatan.

Lokasinya dapat digunakan untuk kegiatan edukasi, termasuk mengenalkan proses budidaya buah kepada pengunjung. Area kebun juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan team building.

Tidak berhenti di situ.

Atuk Janis menyiapkan area yang dapat digunakan untuk resepsi pernikahan. Tempat tersebut mampu menampung hingga sekitar 1.000 tamu.

Dengan begitu, satu kawasan bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan, dari wisata keluarga hingga kegiatan kelompok dan acara besar.

Dari Jambu hingga Bisnis Lain

Kebun jambu hanyalah salah satu bagian dari usaha Atuk Janis.

Ia juga menjalankan bisnis kelapa sawit, peternakan lembu dan kambing, kedai makan, serta katering.

“Sebetulnya saya berniaga sawit. Ini berniaga tambahan. Sawit, jambu, lembu, kambing. Lepas tu ada kedai makan, pun ada dua. Buat catering lagi,” ujarnya.

Kini, kebun yang dahulu menjadi lahan sayur itu memiliki wajah berbeda.

Ada pengunjung yang datang untuk memetik buah. Ada pekerja yang sibuk membungkus jambu. Ada hasil panen yang dikirim ke pasar. Ada pula keluarga yang membawa pulang buah yang mereka petik sendiri.

Dari lahan pertanian, Atuk Janis membangun ruang usaha sekaligus tempat wisata.

Sederhana, tetapi cukup untuk membuat orang datang, berjalan-jalan di antara pohon buah, lalu pulang membawa hasil kebun sendiri.(bos)

Exit mobile version