Malam Mencekam di Pulau Buluh, Rumah Nelayan Marzuki Luluh Lantak Disapu Angin Puting Beliung

Malam yang awalnya tenang di Dusun Pulau Buluh, Desa Penaah, Kabupaten Lingga, mendadak berubah menjadi mimpi buruk. Tepat pukul 01.00 WIB, Kamis (5/6/2025), angin puting beliung datang tanpa ampun, menyapu rumah-rumah warga pesisir dalam kegelapan malam.

Di tengah kegelapan itu, Marzuki (45), seorang nelayan, hanya sempat menggenggam tangan anak-anaknya dan berlari menyelamatkan diri. Angin berputar kencang, menerbangkan atap rumah kayunya yang sederhana, merobohkan dinding, dan memporak-porandakan seluruh isi rumah.

“Langit tiba-tiba gelap, angin mutar-mutar dan langsung menghantam rumah kami. Semua bergetar, atap terbang, dinding roboh. Kami hanya sempat lari keluar bawa anak-anak,” tutur Marzuki, suaranya bergetar menahan duka.

Hujan lebat dan petir yang menyambar-nyambar menambah kepanikan warga. Dalam 45 menit yang menegangkan itu, rumah Marzuki luluh lantak, nyaris rata dengan tanah. Kasur, lemari, piring, gelas – semua hilang disapu angin.

Namun di balik kerusakan parah itu, Marzuki tetap bersyukur. “Alhamdulillah, kami semua selamat. Sekarang kami mengungsi di rumah saudara. Tinggal bawa pakaian seadanya,” katanya lirih.

Pemerintah Desa Penaah bergerak cepat. Kepala Desa Mariana langsung meninjau lokasi begitu pagi menjelang. Ia memastikan keluarga Marzuki menerima bantuan darurat dan berjanji akan mengupayakan dukungan dari BPBD dan dinas sosial untuk perbaikan rumah.

“Kami sudah berikan bantuan awal. Nanti akan kami koordinasikan lebih lanjut untuk membantu Pak Marzuki dan keluarga agar bisa kembali memiliki rumah yang layak,” ujar Mariana.

Tak hanya itu, warga sekitar bergotong royong membersihkan puing-puing rumah Marzuki. Semangat kebersamaan ini menjadi penguat di tengah musibah yang meninggalkan luka mendalam.

Kini, Marzuki dan keluarganya hanya bisa berharap ada uluran tangan dari pemerintah maupun para dermawan. “Kami tidak punya tempat lagi. Kalau ada bantuan bahan bangunan atau tenda, kami sangat butuh itu sekarang,” ucapnya, penuh harap.

Peristiwa ini menjadi pengingat betapa rapuhnya rumah-rumah pesisir menghadapi cuaca ekstrem. Namun di balik bencana, selalu ada harapan yang tumbuh – dan semangat gotong royong yang tak pernah padam.***