Di sebuah sudut hutan yang adem ayem, hiduplah dua ekor kera dengan kasta kecerdasan yang sangat kontras. Di atas sebatang kayu lapuk, si Bonzo—pemimpin geng berbadan tambbun yang otaknya sepertinya sudah di-upgrade jadi mode standby—duduk santai sambil mengupil dengan gaya tanpa dosa.
Di sampingnya, berdiri si Jojo, kera paling cerdik sekaligus paling “muka dua” seantero rimba. Dengan senyum selebar pisang ambon, si Jojo mendekatkan mulutnya ke telinga si Bonzo lalu berbisik dengan nada paling manis yang ia punya, “Wahai Ketua Geng, kau yang paling berkuasa di hutan ini!”
Di dalam gelembung pikiran si Jojo sebelah kiri, ia menampilkan citra si Bonzo memakai mahkota raja. Tapi, coba intip gelembung pikiran di sebelah kanannya yang berwarna gelap—asli, isinya sama sekali jauh dari kata hormat! Di situ tergambar jelas rencana licik bagaimana cara ia bersiap menendang pantat si Bonzo agar segera lengser dari singgasana.
Hebatnya, si Bonzo yang mendengar pujian maut itu langsung manggut-manggut kegirangan dengan mata berbinar-binar. Ia sama sekali tidak sadar bahwa di balik bisikan “kesetiaan” itu, si Jojo sedang menghitung hari untuk memgambil alih kursi kekuasaannya. Muka dua bertemu kepala batu, sungguh perpaduan maut yang sempurna!
Di atas dahan pohon yang tak jauh dari lokasi kejadian, seekor Kancil kecil menyaksikan drama sinetron murahan itu sambil memegangi perutnya yang hampir kram. Ia tak kuasa menahan tawa melihat betapa polosnya si pemimpin dan betapa liciknya si penjilat.
”Hahahahaha!” tawa si Kancil meledak kencang hingga nyaris terpeleset dari dahan. “Duh, yang satu muka dua, yang satu lagi kelewat bodoh! Yang dipuji merasa paling hebat, padahal lagi dikibulin hidup-hidup mau ditendang dari belakang. Sumpah, ini komedi politik rimba paling kocak abad ini!”
Cerita ini murni fiksi belaka, sekadar pengantar hari agar kalian makin semangat dan bahagia. Kalau ada kesamaan atau kemiripan dengan kisah yang sedang dialami pembaca… aduh, kalian kok bisa begitu banget sih?”
PANJILEK
