Kelemahan Deteksi COVID-19 di RI: Tidak Ada Alat Pemeriksa Skala Besar

BATAMCLICK.COM :

Jakarta, IDN Times – Tepat satu bulan sejak Presiden Joko ‘Jokowi’ Widodo mengumumkan kasus pertama virus corona jenis baru alias COVID-19 yang sudah pandemik dan merenggut banyak korban jiwa, Pemerintah merilis data jumlah pasien positif virus corona di Indonesia mencapai 1.790 kasus dengan kasus kematian 170 orang pada Kamis (2/4).

Angka ini terus naik tak terbendung karena banyak faktor. Salah satunya, kelemahan pemerintah mendeteksi virus corona karena tidak memiliki alat tes cepat berskala besar.

“Kami mencoba mendatangkan rapid test dari sejumlah negara. Kami telah konsultasi ke Kemenkes, 44 lab Kemenkes yang tersebar. Peralatan dan perlengkapannya belum memadai sehingga yang efektif baru 13 lab,” kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI yang digelar secara virtual, Kamis (2/4).

1. Estimasi jumlah kasus akhir April mencapai 27.300

Kelemahan Deteksi COVID-19 di RI: Tidak Ada Alat Pemeriksa Skala BesarIlustrasi penangan Covid-19 (IDN Times/Candra Irawan)

Situasi ini makin mencekam, sebab estimasi jumlah korban positif virus corona hingga akhir April 2020 diprediksi tembus hingga lebih dari 20 ribu kasus. Estimasi ini merupakan masukan dari Badan Intelijen Negara (BIN).

“Masukan dari BIN, estimasi jumlah kasus di akhir Maret adalah 1.577 dan ini relatif sangat akurat. Kemudian, juga estimasi akhir April mencapai 27.300,” ujar Doni.

2. Puncak kasus terjadi pada akhir Juni

Kelemahan Deteksi COVID-19 di RI: Tidak Ada Alat Pemeriksa Skala BesarIDN Times/Candra Irawan

Doni juga memaparkan, wabah virus corona di Indonesia akan mencapai puncak pada akhir Juni hingga akhir Juli.

“Tapi ini estimasi. Kalau kita bisa lakukan langkah-langkah pencegahan semoga tidak terjadi yang diprediksi,” tutur dia.

3. 49 persen Pulau Jawa terdampak virus corona

Kelemahan Deteksi COVID-19 di RI: Tidak Ada Alat Pemeriksa Skala BesarInfografis dana COVID-19 (IDN Times/Arief Rahmat)

Kepala BNPB ini juga mengungkapkan bahwa 49 persen wilayah yang kemungkinan besar terkena virus corona berada di Pulau Jawa.

Oleh sebab itu, Doni mengajak seluruh lapisan masyarakat, pejabat hingga aparat untuk bekerja sama memutus mata rantai penyebaran virus corona ini.

SUMBER : IDN TIMES