Batamclick.com, BATAM — Pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau (Kepri) saat ini masih didominasi oleh kekuatan komponen investasi dan ekspor neto. Namun, kontribusi konsumsi rumah tangga dinilai belum cukup kuat untuk menyeimbangkan laju pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, Rony Widijarto, dalam acara Bincang Bareng Media di Kantor BI Kepri, Batam, Selasa (3/3/2026).
Rony menjelaskan bahwa struktur pertumbuhan tersebut tercermin dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari sisi pengeluaran maupun lapangan usaha. Pertumbuhan ekonomi Kepri yang impresif sepanjang 2025 ditopang secara signifikan oleh sektor pertambangan, seiring beroperasinya proyek lapangan migas baru yang memasuki fase onstream.
“Data menunjukkan konsumsi rumah tangga di Kepri belum mampu mengimbangi pertumbuhan ekonomi daerah yang cenderung tinggi. Kondisi ini berbeda dengan tren nasional, di mana konsumsi rumah tangga biasanya sejalan dengan pertumbuhan ekonomi secara umum,” ujar Rony.
Industri pengolahan dan pertambangan tetap menjadi pilar utama ekonomi Kepri dengan tren positif yang berkelanjutan. Bank Indonesia mencatat beberapa capaian strategis di sektor migas, antara lain:
– Produksi Forel dan Terubuk: Resmi beroperasi sejak 16 Mei 2025 dengan produksi minyak sekitar 20 ribu barel per hari dan gas 60 MMSCFD. Lapangan ini diproyeksikan mencapai kapasitas penuh pada akhir 2025.
– Infrastruktur Pipa: Proyek Pipa WNTS–Pemping ditargetkan rampung pada kuartal I 2026.
– Eksplorasi Baru: West Natuna Exploration Ltd. (WNEL) dan KUFPEC Anambas ditargetkan mulai beroperasi (onstream) masing-masing pada akhir 2027 dan kuartal I 2027.
“Meski sektor ekstraktif menjadi motor utama, penguatan konsumsi domestik tetap diperlukan agar struktur pertumbuhan ekonomi lebih seimbang dan berkelanjutan ke depannya,” tambah Rony.
Selaras dengan pertumbuhan tersebut, Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi terus menguat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada triwulan I 2026 (hingga Februari) menembus angka 137,00, yang menandakan level optimisme tinggi (di atas angka 100).
Peningkatan ini didorong oleh dua komponen utama: Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) sebesar 145,34 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 128,67.
Rony memaparkan bahwa tren positif ini muncul setelah sempat terjadi perlambatan pada periode sebelumnya akibat dampak kebijakan tarif resiprokal dan efisiensi anggaran. Namun, momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) terbukti ampuh memulihkan persepsi masyarakat.
“Survei yang melibatkan 200 rumah tangga responden ini menjadi indikator penting dalam memantau daya beli masyarakat. Momentum HBKN ikut mendorong perbaikan ekspektasi konsumen sehingga tren keyakinan kembali menguat di awal tahun ini,” pungkasnya.







