Industri Shipyard di Batam Berharap Insentif Fiskal

BATAMCLICK.COM, Sektor usaha galangan kapal atau shipyard diprediksi akan mampu mencatat capaian bagus tahun ini. Berbagai proyek dari pemerintah banyak mengisi kontrak kerja dari galangan kapal di Batam.

Sekretaris Batam Shipyard Offshore Association (BSOA), Novi Hasni, mengatakan, proyek domestik mendominasi (80 persen) dari kontrak kerja galangan kapal di Batam saat ini.

”Bisnis galangan kapal di Batam saat ini banyak dapat orderan dari perbaikan dan pemeliharaan. Sebabnya karena ada peraturan yang mengharuskan tiap dua tahun sekali, kapal buatan Batam harus kembali ke Batam untuk pemeliharaan atau perbaikan,” katanya, Selasa (2/3/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Untuk proyek pembuatan kapal baru, galangan kapal di Batam banyak mendapat pesanan dari berbagai kementerian dan BUMN.

BACA JUGA:   Nyatakan Kesetiaan pada AHY, Pengurus Demokrat di Kepri Bubuhkan Cap Darah

”Pertamina itu butuh kapal tanker baru untuk mengganti yang lama. Kami tengah mengerjakan delapan dari 12 proyek Pertamina sejak 2020,” tuturnya.

Lalu, ada kapal dari Kementerian Pertahanan (Kemenhan).

”Kemenhan buat kapal untuk armada TNI AL. Baru kemarin ada peluncuran kapal dari Bandar Abadi Shipyard,” paparnya.

Selanjutnya, Kemenhub yang berencana memberikan pesanan kapal transportasi roro ke Batam.

”Tapi, kami belum tahu kabar terbaru tahun ini. Apa proyek itu sudah masuk atau belum
dalam pagu anggaran,” ucapnya.

Menurut Novi, saat ini galangan kapal di Batam mendapat saingan baru dari Vietnam, setelah grup galangan kapal besar dari Batam, Damen, buka di negara komunis itu.

BACA JUGA:   Pengelola TPU Seitemiang Tunggu Lahan Baru

”Upah pekerjanya lebih murah di sana,” imbuhnya.

Untuk bisa bertahan baik dari gempuran negeri tetangga maupun pandemi Covid-19,
galangan kapal di Batam harus bersikap dinamis dalam menghadapi kondisi global terkini.

”Kami harus membuat roadmap dengan memetakan kebutuhan kapal tiap tahun. Kami lihat roadmap dari kementerian misalnya, dan kemudian mencocokkan dengan apa yang bisa kami kerjakan,” katanya lagi.

Pesanan paling umum dari lokal yang sering diterima galangan kapal di Batam, tentunya kapal tanker, kemudian tugboat, lalu tongkang untuk mengangkat mineral, barge (tongkang) untuk akomodasi pelaut serta kapal kargo.

BACA JUGA:   TAUZIA Hotels Memberikan Penawaran Spesial Selama Ramadhan

”80 persen pasar kami memang dikuasai domestik, sementara 20 persen ekspor ke luar negeri. Makanya kami saat ini mainnya fokus dalam negeri dulu,” ungkapnya.

Bicara mengenai insentif, galangan kapal di Batam, kata Novi, sangat membutuhkan insentif fiskal. Contohnya relaksasi suku bunga pinjaman perbankan.

Novi mengungkapkan, galangan kapal asing di Batam, khususnya dari Singapura
mampu berkembang karena dukungan perbankan yang optimal.

”Suku bunga pinjaman dari perbankan Singapura hanya satu digit. Sementara di sini,
kami dikenakan dua digit. Jadi, kami berharap ada pelonggaran suku bunga pinjaman agar usaha kami bisa berkembang,” pungkasnya.

Sumber: BATAMPOS