Di Balik Pertumbuhan Ekonomi Kepri, Daya Beli Diuji Kenaikan Harga

BATAMCLICK.COM: Perekonomian Kepulauan Riau tumbuh 6,99 persen pada triwulan II 2026. Angka itu menempatkan Kepri di posisi teratas di Sumatera dan peringkat ketiga secara nasional. Namun, di balik pertumbuhan yang mengesankan itu, tekanan inflasi meningkat dan prospek ekonomi hingga akhir tahun menghadapi tantangan.

Pertumbuhan ekonomi Kepri pada April–Juni 2026 tercatat 6,99 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Capaian tersebut sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 7,04 persen. Meski demikian, Kepri masih melampaui pertumbuhan ekonomi Sumatera yang sebesar 5,06 persen.

Investasi dan konsumsi rumah tangga menjadi dua penopang utama pertumbuhan. Dari sisi produksi, industri pengolahan, konstruksi, serta perdagangan besar dan eceran turut menggerakkan ekonomi daerah. Ketiga sektor itu memperlihatkan peran penting aktivitas industri, pembangunan, dan perdagangan dalam menopang perekonomian Kepri.

Namun, pertumbuhan ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan menguatnya daya beli masyarakat. Pada periode yang sama, inflasi Kepri justru meningkat dari 3,23 persen pada triwulan I menjadi 4,67 persen pada triwulan II 2026.

Kenaikan harga terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Tekanan juga datang dari transportasi, perawatan pribadi dan jasa lainnya, restoran, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan rumah tangga.

Kenaikan harga pada berbagai kelompok pengeluaran itu menjadi tantangan bagi rumah tangga. Sebab, pertumbuhan ekonomi yang tinggi perlu diikuti kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika harga terus menekan, tambahan aktivitas ekonomi belum tentu dirasakan secara merata.

Kredit Menguat, Transaksi Digital Meningkat

Di sektor keuangan, intermediasi perbankan Kepri tetap terjaga. Penyaluran kredit menunjukkan akselerasi, sementara kualitas kredit membaik dan risiko kredit bermasalah semakin terkendali. Kondisi ini memberi gambaran bahwa fungsi perbankan dalam menyalurkan pembiayaan masih berjalan kuat.

Meski demikian, pertumbuhan aset perbankan dan dana pihak ketiga (DPK) mengalami perlambatan. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan penyaluran kredit berlangsung di tengah laju penghimpunan dana yang tidak secepat sebelumnya.

Aktivitas pembayaran masyarakat juga terus berubah. Transaksi tunai menggunakan rupiah meningkat, tercermin dari kenaikan arus uang keluar bersih atau net outflow pada triwulan II 2026. Pada saat bersamaan, transaksi nontunai bertambah seiring meningkatnya penerimaan masyarakat terhadap instrumen pembayaran digital.

Perubahan itu menunjukkan bahwa kebutuhan uang tunai masih tinggi, sementara pembayaran digital semakin mendapat tempat dalam kegiatan ekonomi sehari-hari.

Pengangguran Turun, Tantangan Belum Usai

Sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat memperlihatkan perbaikan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepri meningkat, sedangkan tingkat pengangguran terbuka pada Mei 2026 menurun dibandingkan Februari tahun yang sama.

Kesejahteraan petani juga menunjukkan perkembangan positif. Nilai Tukar Petani (NTP) meningkat dan tetap berada di atas 100. Angka tersebut menandakan indeks harga yang diterima petani masih lebih tinggi daripada indeks harga yang mereka bayar, meski tidak serta-merta menggambarkan besarnya pendapatan bersih setiap petani.

Indikator-indikator itu memberi sinyal bahwa perbaikan ekonomi tidak hanya terlihat pada angka pertumbuhan. Namun, keberlanjutan perbaikan tetap bergantung pada kemampuan daerah menjaga daya beli, memperluas kesempatan kerja, dan memastikan manfaat pertumbuhan menjangkau masyarakat.

Tantangan juga datang dari luar negeri. Prospek ekonomi global diperkirakan masih lemah, sementara ketidakpastian pasar keuangan tetap tinggi. Konflik yang berlanjut di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dan sejumlah komoditas dunia.

Tekanan inflasi global berpotensi membuat kebijakan moneter negara-negara utama, termasuk Amerika Serikat melalui suku bunga Fed Funds Rate, tetap ketat. Situasi tersebut dapat memengaruhi kondisi keuangan global dan menambah tantangan bagi perekonomian domestik.

Di tingkat nasional, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai masih terjaga. Namun, momentum itu perlu diperkuat agar mampu menopang pertumbuhan daerah. Untuk Kepri, pertumbuhan sepanjang 2026 diprakirakan melambat, terutama karena faktor base effect atau pengaruh basis perbandingan dari periode sebelumnya.

Menjaga Harga, Menjaga Pertumbuhan

Di tengah tantangan tersebut, inflasi Kepri sepanjang 2026 diprakirakan tetap terkendali dalam sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen secara tahunan. Proyeksi itu bergantung pada sejumlah faktor, antara lain normalisasi harga pangan, perbaikan rantai pasok, dan penguatan koordinasi pengendalian inflasi di daerah.

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) diharapkan berperan menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan. Upaya itu penting agar gejolak harga tidak mengikis daya beli rumah tangga dan menghambat kegiatan ekonomi.

Kepri masih memiliki modal pertumbuhan yang kuat. Investasi, industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan menjadi penopang utama. Namun, pekerjaan berikutnya bukan sekadar mempertahankan angka pertumbuhan yang tinggi.

Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan itu bertahan di tengah ketidakpastian global, sekaligus menjaga harga kebutuhan pokok tetap terjangkau. Sebab, ukuran keberhasilan ekonomi bukan hanya seberapa tinggi angka pertumbuhan, melainkan juga seberapa jauh manfaatnya dirasakan masyarakat.***

Exit mobile version