Pijat, Koyo dan Bantalan Es

Catatan : Soeltan Yohana

 

ISTRI saya sempat menjuluki saya “Koyo Man”. Saking gemar dan banyaknya koyo yang biasa menempel di tubuh saya. Sekali pasang bisa delapan keping koyo Salonpas menempel sekujur tubuh. Ketika tubuh capek-capek, njarem sana-sini, koyo-lah cara termudah dan termurah yang bisa saya lakukan dalam beberapa tahun terakhir.

Memang, sejak pindah ke Singapura, 2012, salah satu kebiasaan yang harus terhenti adalah pijit. Selain begitu gemar, selama di Batam, pijit telah menjadi ikhtiar paling ampuh untuk menghilangkan capek-capek, nyeri tubuh, lesu, dan masalah tubuh lainnya. Bahkan ketika gigi nyeri pun, pijit biasanya akan menyelesaikan masalah itu.

Saya memang tipikal orang yang tak bisa diam. Harus ada yang dikerjakan. Bahkan ketika nonton televisi sekalipun, saya bisa sambil baca buku, push-up, dan sekaligus kerja. Itulah kenapa, saya sering kecapek’an sendiri. Saya kemudian mencari “pelarian” ke tukang pijit, untuk mengatasi semua masalah tubuh saya.

Di Batam, tukang pijit dan tempat pijit banyak. Beberapa di antaranya kemudian menjadi langganan saya selama bertahun-tahun. Batam memang surganya pijit. Salah satu daya tarik terbesar bagi wisatawan Singapura yang masih bisa bertahan dari gerusan krisis ya: TEMPAT PIJIT!!! Kalau ndak percaya, coba tanya mbak-mbak tukang pijit di daerah Nagoya misalnya!


Saya pernah diceritain seorang tukang pijit di tempat pijit langganan. Seorang wisawatan Singapura, ia mengungkapkan, pernah pijit selama tiga jam padanya. Lalu, esoknya, datang lagi, untuk kembali minta dipijit. “Katanya, pijit di sini (Batam) enak,” kata si mbak tukang pijit.

Datang saja ke tempat-tempat pijit beken di daerah Jodoh dan Nagoya di akhir pekan atau liburannya orang Singapura. Dijamin, bilik-biliknya full dengan orang Singapura.

Begitu pindah ke Singapura, saya tak bisa lagi sering-sering pijit. Di sini, ongkos pijitnya ngeri. Mahallll… banget. Selain tukang pijitnya tidak seprofesional di Batam, sekali pijit dompet kita bisa mbrodol hingga Rp500 ribu. Untuk pijit selama satu jam. Itupun cuma “ditepuk-tepuk” saja. Karena itulah, seringkali ketika balik Batam, salah satu agenda utama saya, datang ke tempat pijit langganan.

Kemudian: koyo lah yang menjadi “pelarian” saya karena ketidakmampuan datang ke tempat pijit di Singapura. Aneka koyo, mulai yang hangat higgga hot sudah saya coba. Bahkan “remason” khusus atlet yang sebotol seharga Rp250 ribu pernah saya coba. Hasilnya, ya, LUMAYAN-lah, bisa untuk meredakan rasa capek. Terutama seusai main bola di akhir pekan. Tapi, pijit dan efeknya masih tidak bisa tergantikan oleh “ikhtiar koyo” ini.

Ndilalah, saya kemudian melakukan eksperimen kecil-kecilan. Saya melirik es batu.

Sebelumnya, saya cuma mengenal keampuhan es batu untuk meredakan memar di tubuh. Ya, kadang kalau habis main bola dan gaprakan dengan kawan, biru-biru memar di tubuh saya redakang dengan mengompres es batu. Cepat sembuh memang.

Lalu kemudian, ketika sedang membuka-buka situs klub sepakbola Inggris, Manchester City, saya tertarik dengan fasilitas rendam air dingin yang ditunjukkan di situs itu. Cari-cari informasi, para atlit maupun pemain bola biasanya memilih berendam di air es setelah bertanding, untuk membuat otot rileks, menghilangkan capek, dan mempercepat pemulihan. “Bisa dicoba nih…”, pikir saya.

Karena tidak punya bathup untuk berendam, saya kemudian mencoba memanfaatkan bantal-bantal es atau ice pack yang biasa dipakai ngompres anak-anak kalau lagi demam. Bantalan es itu, biasanya saya taruh di bagian-bagian tubuh yang terasa capek atau njarem. Saya biarkan menempel dalam hitungan menit. Di punggung, di pundak, di selangkangan paha, atau bahkan kadang saya templokkan saja di mata. Memang sih, sangat tidak nyaman. Tak senyaman pijit yang bisa membuat kita terlena hingga ketiduran itu. Apalagi kalau yang ditempeli bantalan es bagian tubuh kita yang agak sensitif. Dinginnya, kadang membuat kita meronta-ronta.

“Ajaib”, efeknya sangat luar biasa, bahkan bisa terasa dalam hitungan menit. Capek-capek berkurang sangat drastis. Njarem-njarem mereda. Bahkan, sakit kepala seringkali pelan-pelan kabur saat leher atau bagian tubuh yang kaku ditempeli bantalan es. Bahkan, rasa sakit berkepanjangan di bagian pangkal jari kelingking kaki kanan (karena diinjak kawan saat main bola), berangsur hilang. Efek lanjutannya, lebih ajaib lagi: rasa sebah yang dalam beberapa bulan ini saya rasakan muncul saat menggerakkan bola mata kanan, tiba-tiba menghilang. Hal yang sebelumnya menjadi kekhawatiran, jangan-jangan ada masalah dengan mata saya bagian kanan.

Efek pemulihan dengan bantalan es akan jauh lebih cepat jika kita terus menjaga air kencing kita berwarna putih, tidak kuning. Yang berarti, harus banyak-banyak minum air putih (saya memilih air putih hangat).

Pencarian saya atas masalah tubuh yang sering capek-capek, njarem, pegel; akhirnya terbereskan oleh benda sepele di rumah: bantalan-bantalan es yang biasa untuk kompres anak saya kalau demam. Bahkan saya merasa, efeknya jauh lebih bagus dan cepat dari pijit.

Monggo silahkan dicoba!

 

Sultan Yohana, penulis dan pegiat fotografi asal Singosari, Malang, Jawatimur. Pernah berkarier di Harian Posmetro Batam dan Batam Pos. Tulisan-tulisannya yang bertajuk “Rasa Singapura” diterbitkan oleh Harian Posmetro Batam dan mampu menyihir masyarakat Kepri khususnya Batam. Ayah dua anak ini bermastautin di Negeri Singa. Dengan tustel bergelayut di lehernya, ia kerap jepret kiri-kanan membekukan moment sederhana, tapi kaya makna.