Moeldoko, Anak Surau yang Jadi Jenderal

Kunjungan Kerja Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, ke Batam, Kepulauan Riau (Kepri) pada Senin (21/5) kemarin, memberi kesan tersendiri terkait kisah hidupnya.

Moeldoko sempat bercerita dimana masa kecilnya sebagai anak surau di sebuah desa di Kediri, Jawa Timur (Jatim). Sejak kelas dua Sekolah Dasar (SD), Moeldoko kecil menghabiskan sore hingga subuh di surau untuk belajar ilmu agama.

“Setelah Ashar (waktu solat Ashar) sudah ke surau, tinggal di surau bermalam. Pada jam empat pagi dibangunkan, dipaksa kiyai belajar ngaji, membaca Al-Qur’an,” kata anak bungsu dari 12 bersaudara ini bercerita.

Bertahun-tahun ditempa dengan ktivitas keagaman ini, lambat laun memberi Moeldoko karakter yang tidak hanya menghadirkan pemahaman dan pengalaman beragama, namun kehidupan surau juga membekalinya karakter dan mental tangguh untuk menjalani kehidupan di tengah kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pasan.

Apa yang diraihnya hingga saat ini, mulai dari menjadi lulusan terbaik Akmil Magelang pada 1981, Kepala Staf TNI AD (KSAD) pada 2013, hingga menjadi Panglima TNI, pada periode 2013-2015, tak lepas dari didikan surau yang mendasari karakter tangguh dari anak pasangan Moestaman dan Masfuah ini.

“Tidak pernah terbayangkan saya jadi Panglima TNI, bahwa kehidupan di surau, masjid, dan pesantren adalah upaya nyata membangun karakter. Saya punya keyakinan penuh pembinaan oleh ustad maupun guru ngaji sungguh bisa membekali kita untuk menjadi sesuatu ke depan,” kata pria kelahiran Kediri, 8 Juli 1957 ini.

Tidak hanya itu, Moeldoko kecil juga telah berkontribusi terhadap perekonomian keluarga di luar waktu suraunya. Ia yang selalu dijemput orangtuanya seusai belajar, sering kali ikut membantu aktivitas orangtuanya bercocok tanam.

Membantu memastikan apapun garapan orangtuanya untuk menghasilkan panen terbaik. Memyiram tembakau kalau saat itu musim tembakau, menanam jagung, menyiang padi, dan berbagai aktivitas pertanian lainnya.

“Pengalaman hidup saya, sebagian besar hidup saya di surau, sehingga bisa menghadapi kehidupan yang kompetitif hingga saat ini,” tandas Moeldoko yang prestasinya diganjar penghargaan Satya Lencana Kesetiaan VIII, XVI, dan XXIV; Satya Lencana Seroja; Tanda jasa dari PBB, Satya Lencana Santi Dharma; Bintang Kartika Eka Paksi Nararya; Bintang Yudha Dharma Nararya; dan Bintang Kartika Eka Paksi Utama. (miksan)

Mungkin Anda juga menyukai