Penang National Park: Taman Mungil di tengah Gemerlap Penang

Malaysia Eco Fam Trip 2018, @ Penang National Park (1)

 

Pulau Penang tak hanya piawai menjual “masa lalu” agar dikerubuti wisman. Di tengah kegemilangannya merawat gedung-gedung sepuh dan deretan museum, kota pulau ini masih punya “senjata” lain untuk menjerat wisman. Salah satunya berwujud Penang National Park (PNP).

Saya menyambangi taman nasional terkecil di dunia ini pada medio Januari lalu. Tidak sendiri tapi bersama dengan sejumlah penulis ASEAN, Cina dan Taiwan dalam sebuah trip bertajuk Malaysia Eco Fam Trip 2018. Tak kurang dari 30 penulis, kami diajak berpetualang menjelajahi Penang dan Kedah, termasuk menyusuri Penang National Park.

Taman Negara Penang ini menjadi destinasi pertama kami, dalam keseluruhan trip yang berdurasi hingga tujuh hari. Mencapainya, tidak sulit. Dari Oliv Tree Hotel tempat kami menginap, PNP dapat digapai dalam hitungan satu jam, melintasi sejumlah destinasi ikonik Penang semisal Batu Ferringhi dan Spice Garden serta kawasan pedesaan semisal Tanjung Tokong dan Tanjung Bungah.

Sebab bertolak sejak pagi, pukul 08.00 pagi, kami sudah tiba di beranda depan PNP yang berpintu gerbang sederhana. Kanan kirinya, dikepung deretan kedai yang menjajakan rupa-rupa souvenir dan fesyen. Cukup tertata sehingga terlihat apik dan asri.

Ditemani dua guide lokal yang faham seluk beluk PNP, kami beringsut meninggalkan sebuah jetty yang teronggok persis di belakang gerbang. Ada dua cara sejatinya bagi siapa saja yang hendak menyusuri PNP: trekking via darat melintasi jalan setapak atau menggunakan perahu mesin. Kami diberi pilihan kedua, yang ternyata lebih cepat ketimbang ber-junggle trekking yang memakan waktu dua hingga tiga jam. Hanya saja, kalau memilih jalur ini, harus rela berbasah-basahan terpapar tempias air. Maklum, ombak di perairan Teluk Bahang ini lumayan kencang di periode-periode awal tahun semacam ini.

Setengah jam kemudian, perahu motor yang kami tumpangi menghimpit di sebuah daratan berpasir putih yang oleh orang lokal dinamai Pantai Kerachut. Terdapat sebuah jetty semen menjorok ke laut, tepat di tengah-tengah pantai. Tapi, tekong yang membawa kami  mengabaikannya, malah memilih mendamparkan perahu mesin ke tepian pantainya.

Satu dari dari dua guide yang menemani kami, memberi aba-aba agar kami mengikutinya, berjalan menyusuri jalan berlebar dua meteran menuju ke satu sudut hutan yang ternyata adalah sebuah camping ground. Di tempat ini, ia tak hanya menjabarkan ini-itu ihwal perkemahan, tetapi juga menyangkut keberadaa flora dan fauna yang ada di PNP. Menurutnya, sebuah ekspedisi tahun 2000 yang ditaja Malaysian Nature Society berhasil mencatat bahwa PNP memiliki 417 spesies flora dan 143 spesies fauna. Ia juga menyebut, sebelum ditetapkan sebagai taman nasional, penduduk setempat menyebut PNP sebagai Cagar Hutan Pantai Acheh.

Selepas menjabarkan ini-itu ihwal area perkemahan, juga tentang aneka rupa species di PNP, ia  membawa kami menuju ke sisi ujung pantai tempat Danau Meromiktik berada. Selain kesohor karena memiliki bentangan pantai yang cantik, Pantai Kerachut memang dikenal orang karena keberadaan danaunya yang unik. Disebut tak biasa karena danau ini terbentuk oleh fenomena alam langka, terdiri atas dua lapisan air yang berbeda. Lapisan atas berwujud air tawar sementara sisi bawah air asin. Keduanya seolah-olah menyatu meski sebenarnya tidak. Di Asia, fenomena danau meromiktik hanya terjadi di Pantai Kerachut, satunya lagi berada di Tibet, China.

Persis di mulut kuala, pengelola PNP membangun sebuah jembatan gantung sepanjang kurang lebih 80 meter. Terbuat dari besi baja, jembatan ini melintang, membelah alur sungai yang mengalirkan aliran air dari dan ke laut menuju danau. Terlihat gagah dan fotogenik. Dari atas jembatan ini pula, pengunjung dapat melihat lanskap danau di sisi kiri dan bentangan laut biru di sisi kanan.

Jembatan gantung ini pula jadi satu-satunya akses bagi mereka yang memilih jalur trekking dari gerbang PNP menuju Pantai Kerachut. Konon, dari cerita yang terutur dari mulut ke mulut, jalur trekking menuju pantai ini merupakan jalur yang sama yang digunakan oleh perantau-perantau asal Aceh untuk mengangkut kayu. Mereka, menarik kayu-kayu melintasi parit-parit menggunakan kerbau. Jalur itu disebut Jalan Penarikan,  merujuk pada fakta bahwa tempo dulu, kayu-kayu yang sudah ditebang ditarik oleh kerbau mereka menuju pemukiman. Tak jauh dari Jalan Penarikan, terdapat sebuah sebuah bukit bernama Bukit Belah. Konon, puncak bukit tersebut ‘dibelah’ hanya menggunakan cangkul oleh tujuh laki-laki dalam tempo 10 hari. Bukit Belah, diratakan untuk mempermudah jalan bagi kerbau-kerbau mereka menarik kayu hasil tebangan.

Terlepas dari talian historis dengan orang-orang Aceh tersebut, di Pantai Kerachut, banyak yang bisa dilakukan orang kalau menyambanginya. Selain menyaksikan Danau Meromitik yang langka, orang biasanya mengunjungi Penang Turtle Sactuary (PTS) atau Pusat Penangkaran Penyu yang dikelola oleh Departemen Perikanan Negara bersama-sama dengan Departemen Margasatwa dan Taman Nasional serta Departemen Kehutanan. Itu juga yang kami lakukan hari itu.

Terletak di area darat yang hanya berjarak seratus meter dari pantai, PTS telah jadi ikon Pantai Kerachut sejak dua dekade lebih. Dibangun tahun 1995, keberadaan PTS dimaksudkan sebagai salah satu upaya nyata pemerintah lokal untuk menyelamatkan penyu dari kepunahan. Jamak diketahui, pasca Penang dibangun secara masif, habitat alami penyu perlahan menyempit dan kini praktis, hanya mengandalkan area di garis pantai kawasan PNP saja.

Mengabadikan moment perjuangan anak-anak penyu yang berusaha keras menuju laut setelah menetas.

Kerja keras para aktifitis lingkungan dan pengelola PNP membuahkan hasil. PTS secara kontinyu mampu menyelamatkan penyu dari kepunahan. Setiap tahun, ribuan telur penyu berhasil diselamatkan dan ditetaskan. Lalu anak-anak penyu (tukik) berhasil dirilis ke laut, ke habitat alami mereka. Catatan yang ada menyebut, terdapat dua jenis penyu yang jamak bertelur di tepian Pantai Kerachut yakni Penyu Blimbing atau Lepidechelys Olivacea dan Penyu Hijau atau Chelonia Mydas.

Bagi pengunjung, beroleh edukasi tentang penyu laut tentu jadi sebuah pengalaman berharga. Apalagi bila itu dilakukan di habitat aslinya. PTS, dalam konteks ini telah berhasil menyelamatkan penyu dan di momen yang sama, mampu “menjual” pusat penangkarannya sebagai “menu” andalan untuk menarik kunjungan wisatawan. Wisatawan yang bermalam di camping ground, pastinya, selain beroleh ilmu tentang penyu dan kehidupannya, mereka dapat langsung menyaksikan secara “live” ketika penyu naik ke permukaan untuk bertelur.

Tapi, kami sendiri, tidak bisa melakukannya. Biarpun begitu, masihlah dapat pengalaman menarik: melepas tukik ke laut. Kami lakukan itu sekitar pukul tiga sore, beberapa saat sebelum beranjak meninggalkan Pantai Kerachut. Satu per satu, kami diberi jatah memegangi tukik, melingsirkankannya ke permukaan pasir dan membiarkan mereka berlari-lari kecil menuju laut.

Sebuah pengalaman berharga. Namun waktu yang berbatas, memaksa kami untuk untuk segera berlalu menjauhi Pantai Kerachut. Di perjalanan pulang, sang guide tak henti bertutur tentang cerita legenda yang melingkupi PNP. “Batu-batu di sini pun punya cerita masing-masing,” selorohnya. “Tengok itu, itu batu bentuknya macam kelinci, maka orang sini sebut batu kelinci,” urainya sambil menunjuk ke arah tumpukan batu-batu besar di bibir pantai. “Yang sana, itu batunya macam buaya. Makanya kami panggil batu buaya,” serunya lagi. Kami tergelak. Di atas perahu yang terguncang-guncang oleh derasnya ombak di perairan Teluk Sahang sore itu, celotehan sang guide lumayan menghibur dan tanpa terasa, kami sudah melipir ke jetty, tempat awal kami tadi bertolak.

Melepaskan anak penyu…

Sampai kembali di gerbang PNP, kami bergegas menaiki bus dan beranjak menuju Penang kota. Di sepanjang jalan, pikiran saya melayang-layang. Di tengah gemerlap Pulau Penang, pulau ini ternyata tak melulu piawai merawat bangunan-bangunan tua atau menjagai tradisi leluhur, tapi lihai juga merawat alam dan mendedikasikan untuk masyarakatnya. PNP adalah bukti. Di tengah hiruk pikuk George Town yang dijejali wisman saban tahun, Pulau Penang menyimpan taman mungil, laman terbuka bagi fauna dan flora hidup dan bertumbuh di habitat aslinya.(Edi Sutrisno)

 

BACA JUGA:

BALINYA BATAM ADA DI PULAU ABANG

SENSASI BUKA PUASA DI PINGGIR PANTAI TURI BEACH

PULAU PENJANTAN WISATA ALAM TERBUKA KEPRI

Batam Click

PT. Batam Click One

Mungkin Anda juga menyukai