Penyebar Hoax adalah Teroris

BATAMCLICK.COM: Teroris saat ini bukan saja orang yang mengangkat senjata, mengancam, mekut-nakuti atau bahkan menggunakan rompi penuh bom bunuh diri untuk diledakkan di tempat-tempat keramaian atau golongan-golongan tertentu, dengan maksud membuat kekacauan, memecah belah persatuan. Tapi teroris zaman now, adalah orang-orang yang sering menciptakan kabar-kabar fitnah, informasi-informasi bohong, berita-berita hoax dan mereka yang dengan sengaja maupun tanpa sengaja ikut serta menyebar-luaskannya, melalui media-media sosial.

Tingginya potensi terpecah belahnya bangsa melalui kabar-kabar hoax ini, terang membuat Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) bekerja ekstar keras, pasalnya saat ini, setiap orang penguna internet, sangat berpotensi dan bisa serta-merta menjadi teroris di dunia maya.

 iklan

Untuk mencegah hal tersebut, BNPT menggandeng Forum Koordinasi Pencegahan Teroris (FKPT) di daerah-daerah, menyelenggarakan sosialisasi-sosialisasi tentang bahaya hoax, dampak yang ditimbulkan serta ancaman hukuman bagi mereka-mereka penyebar berita palsu itu.

Kemarin, Kamis (5/4/2018) sosialisasi yang dikemas dalam Pelatihan Literasi Digital bertema Saring Sebelum Sharing digelar di Hotel Ibis, Batam, Kepulauan Riau. Tiga narasumber berkompeten dhadirkan dalam diskusi dua sesi yang melibatkan mahasiswa, pegiat-pegiat media sosial, bloger, jurnalis dan tokoh pemuda, tokoh masyarakat serta tokoh agama itu.

Sesi pertama diisi oleh Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo bersama wartawan senior Kepri yang merupakan Kepala Kantor Berita Antara, Evy Ratnawati Syamsir.

Yosep mengatakan, sumber berita hoax dan penyebaran berita hoax, terjadi di media sosial.

“Orang bisa mengeshare apa saja di media sosial dengan mudah, apa yang dilihatnya, apa yang di dengarnya, dapat dengan cepat dia sebarkan tanpa dicari dulu kebenarannya,” jelas pria yang akrab disapa Stenli ini.

Satu cotoh diceritakan Stenli, ketika di tengah jalan ia menemukan ada korban kecelakaan yang pingsan dan berlumuran darah, korban tersebut akhirnya ditutupi koran agar darahnya tidak dilihat oleh orang lain yang bisa menimbulkan pusing bahkan pitam, maka tanpa konfirmasi dan mencari tahu, penyebar hoax akan mengambil kesimpulan, korban telah meninggal. Lalu ia mengambil fotonya, ditambah dengan kata-kata “Korban kecelakaan, tewas di tempat, bla, bla, bla” dan langsung menyebarluaskannya di media sosial.

“Penyebaran foto itu menjadi viral hingga sampai ke kampung halaman korban dan dilihat oleh keluarga korban, kira-kira apa yang terjadi? Kalau di kampung saya, orang meninggal ditahlilkan selama tujuh malam berturut-turut, kan repot urusannya, belum lagi, kalau korban itu sudah sehat lalu pulang ke kampungnya, maka dia akan dikira hantu gentayangan,” ujar pria berkacamata ini disambut gelak tawa peserta.

Itu kata Stenli, penyebaran hoax yang dilakukan oleh generasi gadget. Ada juga dan masih sering terjadi, penyebaran hoax yang dilakukan oleh jurnalis, mereka-mereka yang telah paham tentang aturan kode etik wartawan, tapi karena malasnya, karena ingin serba cepat, sehingga menjadi penyebar berita bohong.

“Contohnya kasus Ahmad Dani yang dikatakan bersumpah akan memotong kemaluannya jika Jokowi menang dalam Pilpres 2014 lalu,” kata Stenli.

Dua minggu sebelum Pilpres,  ada 17 media yang memberitakan itu, sumber beritanya cupture tweeter Ahmad Dani, yang berisi sumpah tersebut.

“Tanpa konfirmasi, bahkan upaya konfirmasi pun tidak dilakukan, mereka membuat beritanya, bahkan bukan sekali, tapi berulang kali dengan memintai tanggapan masyarakat elit politik dan lain sebagainya tentang sumpah Ahmad Dani tersebut,” ujar Stenli.

Saat berita itu menyebar, Ahmad Dani yang merasa tidak pernah membuat itu, cuek. Ia tidak melakukan bantahan, dan ia juga tidak mau ribut-ribut minta diklarifikasi.

“Masalahnya timbul, ketika pilpres selesai, dan KPU menetapkan pasangan Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih. Sejak detik itu, Ahmad Dani mengaku teleponnya tak berhenti berdering, semua menanyakan, kapan kemaluannya dipotong,” cerita Stenli.

Bahkan meme (gambar-gambar lucu hasil rekayasa) tentang pemotongan kemaluan artis papan atas Indonesia itu pun beredar luas di media sosial.

“Puncaknya, datang 100 orang buta ke rumah Ahmad Dani, mengaku akan menjadi saksi, pemotongan kelamin. Kan lucu, ada 100 orang buta, mau menyaksikan prosesi pemotongan, sementaramereka tak bisa melihat,” paparnya.

Akhirnya Ahmad Dani pun melaporkan hal tersebut ke Dewan Pers. “Polisis” media massa ini langsung bergerak cepat memanggil ketujuhbelas media yang memberitakan hal tersebut. Setelah mempelajari, ternyata memang berita-berita yang tersebar itu, tanpa konfirmasi bahkan upaya konfirmasi dari pihak media.

“Saya juga tak mau begitu saja memutuskan, karena sumbernya capture tweeter Ahmad Dani, maka saya minta hapenya, sama tim saya dioprek menggnakan teknologi, mencari riwayat tweet terkirim dan komen-komennya, serta traffic komen tweet, ternya memang benar tweet Ahmad Dani bersih, dan yang menyebar adalah foto dinding tweeter hasil rekayasa photoshop, dengan menempelkan nama Ahmad Dani,” jelasnya.

Ketujuhbelas media itu pun akhirnya sepakat minta maaf dan memuat klarifikasi dari Ahmad Dani.

“Itu contoh-contoh ringan tentang penyebaran berita hoax yang berdampak dalam kehidupan sosial, tentu masih banyak lagi kabar hoax yang dapat menimbulkan dampak memecah-belahkan kesatuan. Seperti foto-foto korban pembantaian, terjadinya entah dimana, tappi direkayasa seperti erjadi di Indonesia yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu kepada kelompok lainnya. Ini terang ajan memancing emosi dari kelompok yang dikabarkan dibantai, atau diperangi,” kata Stenli.

Jadi Stenli mewanti-wanti agar berhentilah menyebarkan berita hoax, dengan cara, cari tahu kebenaran informasi yang kita terima, sebelum memutuskan untuk meyebarluaskan.

“Kalau tak tahu, lebih baik abaikan saja, sebagus apapun informasi itu, secakep dan lucu apapun foto-foto itu, kalau belum tahu kebenarannya, abaikan saja, jangan sampai kita menjadi penyebar berita hoax, fitnah apalagi bisa memecah belah bangsa,” tutupnya.

Sementara itu, Evy Ratnawati Syamsir lebih banyak memaparkan tentang pengalaman-pengalaman medianya, Antaranews.com yang kerap menjadi korban plagiat dan pembelokkan informasi.

“Dari nama saja banyak yang menyerupai kami, ada antara.com, antara.co.id dan banyak lagi, isi medianya copypaste dari media kami, hanya saja judulnya dibikin sensasional dan selalu bertolak belakang, bagi masyarakat yang tak tahu, maka mereka itu dianggap kami, sehingga saya sering mendapat telepon komplain dari masyarakat,” jelasnya.

Evy menegaskan bahwa ebagai kantor berita milim pemerintah, Antaranews.com, tidak akan pernah menyebarkan berita palsu, atau berita yang belum jelas kebenarannya.

“Seperti kasus sabu-sabu yang dikabarkan ditangkap seberat 3 ton, media lain semua sudah memberitakannya bertubi-tubi, tapi kami tidak. Karena belum ada yang bisa memastikan kalau kapal tersebut merisi sabu 3 ton, dan akhirnya benar, bahwa memang tidak ada sabu-sabu di kapal tersebut,” ungkapnya.

Pelatihan dan sosialisasi yang berjalan hingga petang itu semakin asik dengan narasumber dari PImpinan Tim Konten kreatif, Liputan6.com,  Andi muhyiddin.

Ia juga banyak memabhas tentang video-video editan, rekayasa, yang berisi kabar bohong atau hoax menyebar di media sosial.

“Video yang baru saja saya teima tentang mantan Presiden RI, BJ Habibie yang dikabarkan meninggal, diisi dengan foto-foto Habibie yang terbaring di rumah sakit, dan foto-foto seolah-olah prosesi pemakaman Habibie di Belanda. Padahal saat ini mentan presiden itu sehat wal afiat, dan sedang berolah raga di Belanda,” jelasnya.

Dipenghujung kegiatan Andi mengajak peserta membuat video pendek bertema tolak penyebarluassan berita hoax.(elin/novianto)