Antara Polisi dan Salesman

Catata Soeltan Yohana

 

SELERA saya dalam berpenampilan tidak pernah benar-benar berubah. Bahkan sejak lulus SMA. Entah cara berpakaian, pemilihan sepatu, tas, atau atribut-atributnya: semuanya harus memenuhi beberapa syarat. Pertama, tentu saja harus nyaman, berkesan sederhana atau tidak menyolok/provokatif, berharga murah, multifungsi, serta tidak ribet.

Saya suka kaos oblong berwarna gelap misalnya. Selain karena ringan dan nyaman di tubuh, warna gelap bisa menyembunyikan kecerobohan atas kebersihan. Celana jins (dulu) saya pilih, karena masih terasa pantas dipakai meski tak dicuci sebulan. Sementara di kaki, sepatu boots menjadi pilihan utama. Tapi kudu sepatu boots yang ringan dan simpel modelnya. Sepatu ini terpilih karena saya bisa pakai pergi ke hutan pada siang hari, dan malamnya masih pantas diajak makan malam sama pejabat (jika ada undangan urusan pekerjaan sebagai reporter). Selain itu, sepatu boots juga pantas dipasangkan untuk hampir semua busana. Cocok untuk celana jins ketat, komprang, celana tiga-perempat betis, bahkan asyik pula untuk diajak dengan celana pendek.

Sejak SMA, bahkan saya selalu memelihara rambut untuk selalu gondrong. Bukan apa, selain kesannya yang agak “ngorak” untuk memberi kemudahan saya masuk atau bergaul dengan orang-orang jalanan atau keluar-masuk tempat yang agak “gawat”, rambut gondrong juga simpel. Karena cukup diikat, semuanya beres. Tak butuh sisir, apalagi minyak rambut segala. Minyak rambut?

Seingat saya, kali terakhir saya memakainya saat SMA.

Penampilan itu bertahan sejak lulus SMA (1997), hingga sepanjang saya bekerja sebagai reporter hingga 2013. Tidak ada masalah, meski beberapa kesempatan saya harus “sangu” kemeja jika sedang menghadiri acara yang sedikit resmi. Narasumber tidak ada yang pernah keberatan dengan penampilan saya. Kalaupun ada yang keberatan, persetan dengan mereka: saya akan segera me

ninggalkannya. Paling bos saja yang sering menyindir penampilan saya dengan nada guyon. Tapi karena saya selalu dapat nilai A dalam bekerja, dan pasti tidak menggubris sindirannya, bos pun akhirnya tak mempermasalahkannya.

*

Tapi sepanjang itu pula, seringkali saya dihentikan polisi Singapura. Dihentikan, entah ketika sedang jalan-jalan sambil motret di tempat umum, sedang naik kereta MRT, atau di pelabuhan saat mau masuk Singapura. Ada saja yang ditanyakan mereka; tas diperiksa, identitas dicatat, bahkan dompet-dompet kadang dipreteli untuk dicari tahu apa isinya. Sampai saya sering jengkel, dan pernah bertengkar; “kalau mau cari orang yang ndak beres, periksa mereka yang gemuk-gemuk kelihatan sehat itu! Penjahat sekarang rapih-rapih,” begitu kata saya suatu kali saat diperiksa. Si polisi narkoba pemeriksa saya marah dan bilang, “engkau jangan mengajari saya!”

Dua kali bahkan saya pernah masuk “bilik” di Pelabuhan Harbourfront untuk dites urine. Apakah mengandung narkoba atau tidak. Apakah saya “pemakai” atau tidak. Dan di bilik itu, orang-orang yang “terjaring” rata-rata berpenampilan sama. Lusuh, kurus, gondrong. Yang model begini sih, bathin saya, orang-orang miskin yang ndak ada duit untuk beli narkoba.

 

Kalau polisi itu berpengalaman, atau setidaknya sering datang ke diskotik Batam, pusatnya narkoba, mereka pasti tahu, sebagian besar penjahat dan pemakai narkoba adalah om-om ganteng yang punya tubuh gagah ndak kurus kering gondrong seperti saya. Model saya mah…, model pengamen pinggir jalan.

Capek memang diperiksa poli

si. Apalagi polisi stereotype yang tak mengupgrade pengalamannya. Dan berpikir penjahat itu selalu berpenampilan brangasan, mirip film-film sinetron Singapura yang ndak mutu itu.

Seiring waktu, dan juga umur, penampilan saya kian praktis. Singapura yang panas, membuat saya membuang celana jins, dan lebih sering mengantinnya dengan celana pendek. Bahkan saat ini, saya tak punya sa

tupun celana jins. Kaos oblong pun saya pilih yang dryfit sintesis, karena cepat kering dan tidak butuh setrikaan. Sepatu boots terganti jadi sepatu jogging, atau ket Converse. Rambut gondrong saya sudah empat tahun belakangan “almarhum”. Karena tak lagi bertemu “orang penting” saya pun bisa berpenampilan demikian, siang-malam. Di manapun, kapanpun. Pokoknya, kata kawan-kawan, penampilan saya sekarang “Singapore banget” deh. Dengan w

ajah saya yang ke-China-chinaan, bahkan saya sering dipikir sebagai warga Singapore beneran.

**

Dengan penampilan “Singapore” seperti sekarang, nyaris tidak pernah dihentikan lagi oleh polisi. Entah oleh polisi di pelabuhan, atau polisi yang sering keliling mall atau stasiun kereta. Sialnya, kini giliran salesman-salesman yang memburu saya.

Di Singapore, di manapun keramaian, selalu ada salesman. Entah itu untuk merayu membeli kartu kredit, polis asuransi, atau apa pun lah. Mereka sangat agresif, tak kenal menyerah meski kita telah memberi tanda, “not interested”. Capek sekali. Sampai-sampai saya biasa memasang wajah paling tidak bersahabat, atau melangkah setengah berlari.

Kadang kalau sudah kepepet, saya kemudian mengeluarkan”senjata andalan”, “I’m not Singaporean.”

Tapi senjata itupun tak lama ampuhnya, mereka kadang masih mengejar, “PR (permanent resident)? student pass?….” Saya pun akan segera mempercepat langkah. Dan mengunci mulut. Karena saya susah untuk berbohong. Lama-lama terpikir, “ancaman” salesman jalanan ini, bahkan terasa jauh lebih ngeri ketimbang polisi.

Saat penampilan saya brangasan, polisi yang mengincar, dan sama sekali tidak pernah dipedulikan salesman jalanan. Giliran rapih jali seperti sekarang, salesman yang malah mengincar. Seperti ketika 14 Februari 2018 di pintu masuk Stasiun Outram Park, meski saya menolak tawaran salesmen pertama, rekannya yang tahu saya telah menolak, justru mendatangi saya. Mengulangi tawaran rekannya, sembari menguntit jalan di pinggir saya. Usahanya akhirnya terhenti, ketika saya masuk ke stasiun.

Hidup, memang serba salah. Berpenampilan brangasan banyak mendapat curiga, berpenampilan rapih justru kerap jadi obyek tawar-menawar. Inilah kenyataan hidup di Singapura. Penuh penilaian yang didasarkan pada penampilan saja!

Catatan: foto saya tahun 2014.

 

 

Sultan Yohana, penulis dan pegiat fotografi asal Singosari, Malang, Jawatimur. Pernah berkarier di Harian Posmetro Batam dan Batam Pos. Tulisan-tulisannya yang bertajuk “Rasa Singapura” diterbitkan oleh Harian Posmetro Batam dan mampu menyihir masyarakat Kepri khususnya Batam. Ayah dua anak ini bermastautin di Negeri Singa. Dengan tustel bergelayut di lehernya, ia kerap jepret kiri-kanan membekukan moment sederhana, tapi kaya makna.

Batam Click

PT. Batam Click One

Mungkin Anda juga menyukai