Gemar Membaca ala Singapura, Dari Wajib Beli Koran hingga Silence Reading

HARI ini, Selasa (23/1/2018), anak sulung saya, Ken, pulang dengan membawa sebuah koran. Little Red Dot, nama korannya. Berukuran tabloid, halamannya berjumlah 16, full colour, dan dicetak serta diterbitkan oleh The Strait Times, koran paling “bongkotan” di Singapura.

Ini koran, edisi Januari 2018. Menariknya, headlines beritanya, sebuah tulisan obituary tentang kematian seorang foto jurnalis di Vietnam, 25 Mei 1954, Robert Capa; yang ditulis oleh rekan sesama jurnalis, John Lucas. Dengan gaya bercerita yang sederhana, agar bisa dimengerti anak-anak sekolah dasar seperti sulung saya. Isi lainnya, ya…, yang sederhana-sederhana khas pelajar sekolah dasar.

 iklan

Mulai tahun ini, setiap anak di Singapura memang diwajibkan membeli koran. Harganya, cuma 7 dolar 20 sen, untuk setahun. Terbit sebulan sekali. Pembayaran diambilkan dari uang bonus yang diberikan pemerintah. So, tidak terlalu menjadi persoalan.

“Koran sekolah” ini, adalah satu dari banyak cara dari Pemerintah Singapura, untuk membuat rakyatnya punya kebiasaan membaca. Seperti kita tahu, di jaman internet yang serba ingin cepat ini; tantangan paling berat adalah hilangnya kesabaran orang. Salah satunya, kesabaran membaca buku, kesabaran membaca tulisan panjang. Koran pun banyak ditinggalkan. Buku-buku jarang dilirik.

Padahal, dengan membaca koran atau buku, tidak hanya pengetahuan yang didapat. Lebih dari itu, seorang yang masih gemar membaca buku atau koran, akan mendapat “terapi ketenanganan” saat membaca. Membaca buku atau koran, terasa nikmat kalau dalam suasana tidal buru-buru. Media keetas pun terasa bersahabat dengan mata.

Ini berbeda dengan semisal kita membaca di HP atau komputer, yang lebih sering melelahkan panca indera kita; hingga menjadikan kita menjadi manusia EMOSIAN. Manusia TIDAK SABARAN.

Sebelum program “koran sekolah” ini, siswa-siwa SD di sekolah Singapura juga diwajibkan bawa buku apa saja, termasuk novel/komik anak-anak, untuk dibaca di awal pelajaran sekolah selama sekitar 15 menit.

Hasilnya? Tahun 2018 ini, Singapura ada di peringkat kedua pelajar yang bisa membaca (dengan baik). Mengalahkan negara-negara yang terkenal punya sistem pendidikan terbaik seperti Norwegia, Inggris, Finlandia, atau Hongkong.

(baca di sini: http://www.straitstimes.com/…/spore-pupils-no-2-in-global-s… )

Budaya membaca yang baik ini pulalah, yang MUNGKIN membuat bisnis koran dan majalah di Singapura, kemundurannya tak sedasyat negara-negara lain, seperti Indonesia.

NOTE: Mas Hari Batam, mungkin program “Koran Sekolah” bisa diterapkan di Batam.

 

 

Sultan Yohana, penulis dan pegiat fotografi asal Singosari, Malang, Jawatimur. Pernah berkarier di Harian Posmetro Batam dan Batam Pos. Tulisan-tulisannya yang bertajuk “Rasa Singapura” diterbitkan oleh Harian Posmetro Batam dan mampu menyihir masyarakat Kepri khususnya Batam. Ayah dua anak ini bermastautin di Negeri Singa. Dengan tustel bergelayut di lehernya, ia kerap jepret kiri-kanan membekukan moment sederhana, tapi kaya makna.