Dulu 27 Jam di Laut, Kini 7 Pulau Sehari

YANG paling menyenangkan bagian dari aktivitas ini adalah mengunjungi pulau-pulau. Pulau-pulau yang membentang luas di Kepulauan Riau.

Kepulauan Riau merupakan provinsi dengan jumlah pulau terbanyak di negeri ini. Ada 2.408 pulau yang tersebar dari tepi Selat Singapura hingga kawasan Laut Natuna Utara. Sebagai pembanding, Provinsi kedua yang paling banyak adalah Papua Barat dengan jumlah 1.945 pulau. Kemudian diikuti Maluku Utara dengan 1.474 pulau, Maluku dengan 1.422 pulau, dan NTT dengan 1.192 pulau.

Ada 19 pulau terdepan yang berbatasan dengan negara tetangga. Ada juga pulau-pulau yang berbatasan dengan provinsi tetangga dan sempat jadi sengketa.

“Seharusnya awak catat pulau-pulau yang dah pernah sampai,” kata seorang sahabat.

Dari 2.408 pulau itu, berapa yang pernah disinggahi terabaikan untuk dicatat. Itu bagian dari kelemahan yang harus dibenahi. Mendokumentasikan aktivitas saat singgah di pulau-pulau sudah seharusnya dimulai.

Suatu Petang di ujung Pulau. F-Maz Pram Ngapak

Pada perjalanan kali ini, saya mencoba mencatat agenda seharian mengikuti aktivitas pimpinan bersilaturahmi ke pulau-pulau.

Rupanya mendemamkan. Tujuh pulau disinggahi dalam sehari. Sejak subuh hingga dinihari.

Berangkat ketika air bersahabat, pulang gelombang ikut mengoncang dan menggoyang.

Sampai di Pelabuhan Antarpulau di Sekupang, Batam, Jumat (8/12) sekitar pukul 04.00, kapal langsung bergerak menuju Pulau Belakangpadang. Jumat barokah dimulai dengan Salat Subuh berjamaah.

Kembali ke Batam untuk aktivitas yang sebentar, kapal kembali bergerak ke Pulau Jaga, sebuah pulau di Kabupaten Karimun. Sekitar satu jam perjalanan dari Pelabuhan Telagapunggur Batam, untuk bersilaturahmi dan menunaikan Salat Jumat.

Setelah dijamu masyarakat dengan asam pedas serta sayur nangka masak lemak, kami bergerak ke Pulau Sugi Bawah. Pulau ini lebih populer dengan sebutan Pulau Moro. Ada aktivitas tentang kelistrikan di sini.

Usai Ashar, kapal bergerak ke Pulau Buru. Di pulau ini terdapat makam Badang. Orang yang sangat kuat di zaman kerajaan dulu. Makamnya panjang, ukurannya selalu tidak sama saat pengunjung mengukurnya lebih dari sekali.

Tapi kami di sini hanya melihat masjid-masjid. Tentu menikmati jamuan spesial mie siam kuat tauco yang rasanya tak bisa diungkap dengan kata.

Usai dari Pulau Buru, kapal bergerak ke Pulau Lebuh. Azan Maghrib berkumandang saat merapat di pulau ini.

Seusai Maghrib, kami bergerak ke Pulau Kundur. Di Pulau yang paling besar di Kabupaten Karimun ini sedang diselenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Aktivitas berlangsung hingga pukul 23.00 untuk bergerak lagi ke Tanjungbalai Karimun.

Jarak tempuh yang biasa satu jam, malam itu lebih lama. Musim utara yang mulai tiba ikut menemani pelayaran malam itu. Hasilnya, perjalanan berlangsung hampir dua jam. Gelombang ikut mengayun kapal. Tapi bukan ayunan seperti buaian yang meninabobokan.

 

Tujuh pulau dijelajahi dalam sehari. Dari subuh ke dini hari.

Tentu aktivitas belum selesai. Pada Sabtu (9/12) pagi, aktivitas bermula dengan Salat Subuh berjamaah di Masjid At Toiyyibah. Usai dari Karimun, pelayaran masih berlanjut.

Singgah sebentar di Pulau Parit, kami kemudian bergerak ke Pulau Kasu. Kembali menghadiri peringatan Maulid Nabi di pulau ini. Rencananya akan kembali pada malam hari ke Batam dengan berlayar terlebih dahulu ke Pulau Karimun. Tapi apa daya, di tengah perjalanan, sekitar Pulau Buru, gelombang meninggi dan angin cukup kencang. Kapal ikut terguncang. Hanya sekitar 20 menit perjalanan normal sampai ke Karimun, tapi karena pada malam sebelumnya kondisi kurang bersahabat, petang itu kapal kembali ke Batam.

Perjalanan bertemu ombak nan besar bukan kali ini saja. Tahun 2013, mengikuti kegiatan pimpinan, saya bersama rombongan pernah berkelana selama 27 jam 40 menit di sekitar Laut Natuna.

Bergerak dari Tanjungpinang, sembilan jam berikutnya baru tiba di pulau tujuan. Kadang bertemua gelombang empat atau enam meter. Juga singgah dari satu pulau ke pulau lainnya. Bahkan karena gelombang begitu tinggi, untuk kembali ke Batam, kapal harus dilayarkan ke Sintete, Kalimantan Barat. Kami kembali ke Batam dengan menumpang penerbangan.

Bagi kami di Kepulauan Riau, gelombang adalah sahabat. Kalau takut dilambung ombak, jangan tinggal di Kepulauan Riau. ***

 

 

Rizal Saputra memulai goresan penanya sebagai pengasuh Tabloid Bahana Mahasiswa Universitas Riau tahun 90-an. Keaktifan dan keseriusannya membuat ia dilirik oleh “Raja Media” Rida Kaliamsi. Ia kemudian bergabung ke Riau Pos Group sebagai wartawan dan dipercaya membidani Majalah Politik Watan di Pekanbaru, Riau. Ditunjuk sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Batam Pos, mengharuskan putra tempatan asli Karimun ini balik kampung. Karir jurnalisnya berakhir sebagai Pemimpin Redaksi Tanjungpinang Pos setelah ia diterima oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau sebagai PNS [baca: ASN]. Meski telah “berplat merah” tapi ia terus menulis berbagai pengalaman dan cerita, kesehariannya saat berkunjung ke pulau-pulau di Kepri.