Istri Diceraikan, Anak Dititip Panti Asuhan, Suyatno Jalan Kaki Keliling Indonesia

BATAMCLICK.COM: Lengsernya Presiden Soeharto yang diikuti dengan krisis moneter pada tahun 1998 hingga awal tahun 2000, membuat sejumlah pekerja harus menelan pil pahit kehilangan mata pencariannya. Seperti dialami Sutiyo Suyatno. Ia harus mengundurkan diri dari PTP X, PT Talang Batu Perkebunan, lantaran perusahaan itu bangkrut alias gulung tikar.

Menjadi pengangguran dengan beban keluarga, istri dan anak-anak, sangat berat dirasakan warga Wiradesa, Pekalongan, Jawa Tengah ini. Tak tahan dengan kondisi ekonomi yang morat-moarit. Sutiyo akhirnya mengambil keputusan berat dalam hidupnya.

“Istri saya ceraikan, anak-anak saya titip di yayasan panti asuhan,” ungkapnya kepada BatamClick.com di halaman Gedung DPRD Batam, Senin (18/12/2017) sore.

Pria berambut ikal yang dibiarkan gondrong ini, akhirnya memulai lembaran baru dalam hidupnya. Keperihan, kerunyaman hidup, ia atasi dengan berjalan kaki keliling Indonesia.

“Saya tidak ikut-ikutan orang, tidak meniru. Awalnya jalan kaki aja untuk buang suntuk, sepanjang jalan saya memiliki keinginan mengelilingi Indonesia, bahkan dunia dengan jalan kaki,” jelasnya.

Sudah hampir separuh Nusantara yang ia jalani. Mulai dari Jawa, Sulawesi, Kalimantan, kini Sumatera dan akan menyusul Irian Jaya.

Tas Ransel Sutiyo lengkap dengan Tanda Pengenalnya, sebesar Poster.

“Jalannya per pulau, misalnya kemarin saya ke Kalimantan, itu satu trip perjalanan, keliling Kalimantan, saya tak akan pulang sebelum mengelilingi Kalimantan, walaupun ada keluarga yang meninggal, saya nggak bakalan pulang, seperti sistem militer, nanti kalau sudah dikelilingi semua, baru saya pulang ke kampung,” jelasnya.

Beberapa hari berada di kampung, Sutiyo sudah bersiap lagi menuju ke daerah lainnya. dengan tas ransel berisi kompor, senter, pakaian, dan perlengkapan lainnya, ia mulai berjalan dari kampung halamannya ke daerah yang akan ditujunya.

“Dari kampung saya jalan kaki ke pelabuhan Merak, lalu naik roro ke Bakauheni Lampung,” katanya.

Provinsi Lampung pun dijajalnya hingga ke pelosok-pelosok.

“Hobi saya melihat obyek wisata, saya tak puas kalau cuma lihat di TV saja, jadi saya harus kunjungi sendiri,” ujarnya.

Sutiyo foto bersama Ketua DPRD Batam, Nuryanto

Dari Lampung, Sutiyo melanjutkan perjalanan ke Palembang. Nah, di daerah ini ia ketiban sial.

“Saya dirampok waktu berada di Palembang, uang saya, bekal-bekal saya, semua diambil rampok,” kenangnya.

Kendati demikian, Sutiyo tak kapok, ia terus berjalan, menuju Pekanbaru, Dumai dan sampai ke Batam.

“Banyak suka duka sepanjang perjalanan. Ada beberapa tempat yang orang sama sekali tak merespon saya, seperti di Kabupaten Palalawan. Tapi banyak juga orang yang baik, membantu saya, seperti di Dumai,” jelasnya.

Di Batam, Sutiyo ingin sampai ke Jembatan Barelang dan melihat peninggalan warga Vietnam yang pernah ditampung di Galang.

“Saya mau lihat langsung Camp Vietnam, selama ini saya hanya lihat di TV saja, nggak puas rasanya, saya ingin lihat secara langsung ke sana,” katanya sembari menyeka keringat yang memenuhi keningnya.

Sutiyo foto bersama Anggota DPRD Batam, Riki Indra Kari.

Sutiyo juga merasa beruntung, karena disambut langsung oleh Ketua DPRD Batam, Nuryanto.

Ia mendapat kesempatan berdialog di ruang kerja Cak Nur, sapaan akrab Nuryanto.

Dari Batam, Sutiyo akan ke Medan dan Aceh, melanjutkan petualangannya sebagai seorang pengembara.

Ngobrol dengan Sutiyo para awak media mendapat berbagai wejangan dan doa. Salah satunya, doa agar para wartawan di Batam selalu sehat dan diberikan kesuksesan.

Selamat berpetualang Pak Sutiyo, tetap semangat dan sukses selalu.(hariati)

 

Batam Click

PT. Batam Click One

Mungkin Anda juga menyukai