TERBARU DARI USTAD SOMAD; Hukum Ikut Biro Jodoh dan Mandi Belimau

BATAMCLICK.COM: Ustaz Abdul Somad dikenal melalui aplikasi di media sosial. Terutama di laman YouTube, video ceramahnya bertebaran. Videonya ditonton sampai berjuta kali oleh netizen.

Banyak yang merasa senang mendengar ceramah ustaz yang berkarir sebagai dosen di UIN Sultan Syarif Kasim Riau itu.

Isi ceramahnya mudah diterima dan diselingi ucapan lucu yang membuat jamaah tertawa. Gaya dan gestur Ustaz Abdul Somad menarik perhatian. Cara penyampaiannya cerdas dan membuat jamaah tidak mudah bosan.

Untuk kalangan anak muda, Ustaz Abdul Somad mendapat perhatian. Di media sosial, banyak warganet yang melirik untuk melihat dakwah Ustaz Abdul Somad. Seiring waktu, perkembangan media sosial semakin menjadi-jadi.

Tidak hanya untuk sekadar berkomunikasi, media sosial juga dimanfaatkan untuk mencari jodoh. Seperti kemunculan aplikasi mirip biro jodoh di Provinsi Kepulauan Babel.
Ada aplikasi di laman Facebook bernama Bangka Tanpa Pacaran.

Hal itu ditanyakan seorang perempuan kepada Ustaz Abdul Somad.

Lajang 24 tahun ini tertarik ikut aplikasi tersebut. Namun, dia ingin tahu hukum ikut aplikasi mirip biro jodoh tersebut.

Menanggapi fenomena itu, Ustaz Abdul Somad memberikan penjelasan.

Menurutnya, dilihat dari aturannya, tidak boleh laki-laki dan perempuan berdua-duaan tanpa didampingi mahrom.

“Lalu ada yang bertanya, ustaz apa hukum pacaran, apa yang antum masuk pacaran. Kalau berdua-duaan tanpa mahrom itu
haram. Kemudian berkembang ada komunitas ingin menyelamatkan. Ada perempuan baik, laki-laki baik tapi mereka tidak
dipertemukan. Siapa yang mempertemukan, mungkin zaman dulu laki-laki datang ke ustaz, lalu dipertemukan dengan
perempuan,” terang Ustaz Abdul Somad.

Namun, sekarang zaman milenium ada website yang mempertemukan mereka. Bagaimana hukumnya pertemuan tersebut?

“Kita lihat dulu teknisnya seperti apa. Misal ada biodata laki-laki dan perempuan lalu mereka dipertemukan, mahromnya mana.”

“Baru kita katakan ini syar’i dan tidak syar’i. Ini biro jodoh syari atau konvensional.”

Disebutkan Ustaz Abdul Somad, seorang laki-laki bisa saja tidak ada persoalan karena memasukan aplikasi itu.

Sang laki-laki memberikan biodata di dalam aplikasi dan mengalir begitu saja.

Kemudian dia dipertemukan dan melihat perempuan yang akan dijodohkan.

“Kalau nggak ada yang cocok, nggak jadi. Tapi perempuan tidak begitu, dia malu apalagi budaya orang Melayu. Nanti diceritakan ke orang lain, itu sudah ketemu di biro jodoh, rusak nama baiknya,” ujarnya.

Ustaz Abdul Somad menghargai niat baik pengelola aplikasi biro jodoh tersebut. Tetapi, menurutnya niat baik tidak selama menjadi baik kalau tidak disampaikan dengan cara yang baik.

Sehingga, adanya biro jodoh lewat internet perlu adan peran dan pengawasan lembaga adat.

“Adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah.”

Lalu, Ustaz Abdul Somad menyebutkan peran MUI juga sangat penting. MUI bisa mendatangi pengelola laman tersebut.
Pihak MUI bisa melakukan verifikasi laman perjodohan itu.

“Adat istiadat kita tidak cocok memajang anak gadis. Tapi bukan dilarang begitu saja. Bisa saja niat mereka baik. Hanya saja perlu dilihat teknisnya seperti apa,” kata Ustaz Abdul Somad.

Hukum mandi belimau

Dengan gayanya yang sederhana dan santai, Ustaz Abdul Somad menyambut penuh kehangatan.

Dalam sesi itu, Ustaz Abdul Somad mengisahkan soal suku Melayu dari Sumatera Utara, Riau, Kepri dan Babel.

Dia menyebutkan tradisi Melayu tidak lepas dari agama Islam.

Termasuk mengenai mandi belimau menjelang bulan puasa Ramadhan dan kegiatan lainnya.

Lalu, ada yang menyebutkan mandi belimau tidak ada dalam ajaran agama.

“Orang Melayu mandi belimau apa masalahnya. Orang Melayu dulu banyak tinggal di tepian sungai. Nah, ada tradisi Melayu tua mandi belimau di dalam hutan pakai jeruk, asam. Kenapa mereka mandi di sungai, karena rumah dekat sungai. Kok pakai limau,
ya untuk membersihkan tubuh.”

“MUI bilang haram, haramnya di mana mandi belimau. Ternyata saat ada mandi belimau, diundang artis keyboard (orgen) tunggal lalu joget-joget, itu yang haram.

Jangan sampai bilang nenek moyang kita tidak berilmu. Haram kalau laki-laki dan perempuan bukan muhrim mandi bersama di sungai, ada orgen. Ini local wisdom, tidak ada kaitan lain. Kalau disebutkan tidak mandi (belimau) maka puasa tidak sah itu baru tidak boleh,” kata Ustaz Abdul Somad.

Ustaz Abdul Somad mencontohkan peristiwa lain.

Sebelum Nabi Muhammad datang, orang Arab jahiliah biasa melakukan budaya potong kambing saat kelahiran. Lalu, darah kambing diusap ke kepala anaknya yang baru lahir.
Ketika Nabi Muhammad datang, dia membuang tradisi yang kotor itu.

“Tidak ada lagi darah kambing diusap ke kepala anak baru lahir. Potong kambing tetap, daging dimasak dan dibagikan kepada tetangga. Ambil yang baiknya,” ungkapnya.

 

Artikel ini sudah dimuat Bangka Pos

Batam Click

PT. Batam Click One

Mungkin Anda juga menyukai